Senin, 25 April 2011

Tafsir keperawanan

Mungkin kata tafsir pada judul sebenarnya kurang refresentatif karena terlalu berbau agama, tapi itu tak penting. Kata keperawanan itu sebenarnya sebuah tema yang dikasih temenku. tapi apa yang mesti digali dari tema tersebut?

Dari pirasatku kata perawan itu sebetulnya sebuah akronim dan mengalami perubahan penyebutan dan penulisan, jika menilik kata tersebut sepertinya itu ‘perawan’ terdiri dari dua kata ‘pra dan wanita’, memang sepertinya sepele, namun jika melihat sindikasi dua kata tersebut, yaitu ‘sebelum menjadi wanita’, kalo di daerah saya awam disebut gadis.

Kata wanita sendiri mempunyai artian yang spesifik, soalnya identik dengan yang telah menikah, sehingga kadang ada ungkapan kalo sudah menikah pasti sudah tidak perawan lagi, mungkin karena hubungan yang telah legal tersebut sehingga ungkapan tersebut muncul di masyarakat setempat, tapi jika sindikasinya hanya pada organ-organ tertentu mungkin itu sepele, tapi bagaimana kata keperawanan sangat sakral di masyarakat kita.

Kata keperawanan itu identik dengan kesucian, khususnya untuk perempuan karena untuk para kaum adam sebutannya itu keperjakaan. Memang suci gitu? Suci kan nama jalan, ah tak penting. Kaum hawa umumnya menganggap kesuciannya sebagai gadis itu seperti mahkota yang harus dijaga sebagai barang yang sangat mahal, yang ga mahal mah mungkin yang suka dijajakan dengan seenak hatinya, ataupun seperlunya, ya mungkin ia itu perlu makan, dll, atau mungkin yang sudah pasrah dan merasa pantas untuk diambil mahkotanya oleh pangerannya. Ah sudahlah jangan mengungkit mereka yang pacaran mungkin mereka akan menikah, tapi jikalau tak jua pun selamat hilang mahkotanya.

Kalo untuk jaman sekarang perlu ga sih sebuah keperawanan, atau menafsirkan keperawanan itu sesuai yang ia ingini sehingga standarisasi tafsiran ‘keperawanan’ di masyarakat makin absurd saja.

Setelah 52 menit tahun ini

Kau tahu jam berapa ini, saat ini jam 00.52 waktu indonesia bagian barat, kau tahu tahun berapa ini? kau tak akan percaya tahun berapa ini, baru saja lewat satu jam kurang beberapa menit dari 2010, angka setelah itu kau pun tahu.

Kau tahu dimana ini? ah tak penting aku sebutkan bahwa ini hotel sedang dalam pembuatan dan belum sepenuhnya rampung, dan di lantai empat kulihat indah sekali percikan-percikan kembang api di udara, dengan warna yang beragam, dan yang paling menakjubkan itu adalah sementara.

Beberapa saat yang lalu aku berfikir jikalau biaya yang dikeluarkan untuk kembang api yang terjadi tadi di Pangandaran tepatnya ini, dibuat beasiswa bagi para santri ataupun siswa yang memerlukannya, mungkin itu lebih indah dari kerlipannya itu.

Kesemtaraan memang terkesan ironis karena indahnya hanya sementara, sementara yang lain kerja keras untuk mencari harta yang halal dan yang lain mencari harta dengan yang haram, sementara yang lain beristirahat yang lain menghabiskan energinya dengan percuma, sementara yang lain merasa kenyang dengan makanan yang berlimpah yang lainnya lagi merasa lapar dengan rasa lapar yang melimpah, sementara bintang bersinar dengan indahnya, manusia membakar kembang api untuk mengalahkan indahnya kerlipan bintang di langit.

Yang kuingat tahun lalu aku selalu membuat resolusi, namun semua itu tak aku indahkan lagi karena kukira itu tak penting lagi, karena semua telah ada jalannya, dan aku ingin santai saja mengalami hidup ini tak perlu dengan ambisius dengan ambisi-ambisi yang membuat aku menjadi egois, atau mungkin lebih membuat sedih hatiku lagi.

Tahun lalu aku ingin segera lulus namun itu aku tak ingini lagi, karena temanku yang lulus dan mungkin ia itu lebih pintar secara nilai, sulit untuk menjadi pekerja, sedangkan aku lebih berpikir itu membuat pekerjaan bagi orang lain. Ah sialan! ketika aku belajar sosialisme yang menjungjung tinggi akan nilai-nilai sosial di kaum buruh sementara itu aku lebih memilih menjadi seorang kapitalis.

Kau tahu tahun ini aku mendapat beberapa sms, standarlah! sms selamat tahun baru masehi dan ucapan minta maaf, mungkin sepele, ketika orang lain meminta maaf atas dosaya, apakah seseorang bisa memaafkan dirinya sendiri atas dosanya, atau mungkin dosa itu hanya kesemtaraan, seperti halnya hidup mungkin untuk menghindari kesentaraan dengan berbuat kebaikan.

Jikalau ingin membuat sejarah maka buatlah sejarah yang indah, sejarah yang dikenal denga kebaikannya, keindahannya, manfaatnya.


*dibuat dengan hati senang

Jalur Bahasa

Suatu hari adikku yang masih sekolah SD bertanya padaku, "A ari artina mengandung arti jeung berarti artina naon?" awalnya aku sedikit bingung, "Lamun mengandung arti engke bakal lahir saatos salapan bulan, lamun berarti eta artina gaduh nami lain," jawabku singkat.

"Jadi engke iraha atuh lahirna artina?" tanya adikku lagi, "Nya engke we lamun tos waktuna oge akalan ngarti," jawabku singkat.

Mungkin ulasan di atas tak terlalu penting untuk diingat namun yang jadi ingatan di pikiran ku, ada pada bahasanya yang terkesan ambigu yang permanen, bahkan jika melihat ke aturan bahasa atau lebih dikenal dengan EYD, lebih aneh lagi, dan jikalau kau tahu adikku bertanya tentang siapa itu pelajar.
"A ari pelajar asal katana teh belajar?" tanyanya singkat, "Enya meureun," jawabku singkat.

"Lamun pekerja teh tukang kerja, pe tambah kerja, tapi naha pelajar pe tambah lajar, sanes belajar?" tanyanya lagi, karena pusing aku jawab, "Teu apal nik aa mah urang sunda sanes urang indonesia," kau tahu ia itu hanya tersenyum, "Teu apal mah nyarios we atu," tatapnya sinis.

Aduh jadi kepikiran bagaimana bahasa indonesia itu terbuat, jikalau diklaim dibuat pada sumpah pemuda mungkin, bahsa Indonesia itu adalah bahasa yang sangat baru dengan bangsa yang baru juga.
Ada yang sedikit aneh di bangsa kita ini, dalam pendidikan kita harus belajar bahsa inggris dan bahsa daerah tau bahasa ibu sekaligus bahasa para penjajahnya, bahkan dibuatkan jurusan di universitas tertentu.

Secara bahasa saja masih dijajah, bagaimana dengan sistem lainnya?

Aduh umurku makin sedikit

Akhirnya September datang juga, kau tahu bulan apa itu, ya itulah bulan ke Sembilan dalam hitungan masehi, walaupun ukurannya lewat matahari, tapi tak apalah, namanya juga begitu adanya.

Bulan ini, ya maksudnya bulan September maksudku, sekarang ini tanggal berapa ya, oh ternyata tanggal 17 September ketika aku mengetik tulisan ini, ah sungguh membosankan rupanya.

Kau tahu sekarang ini umurku tengah menjalani umur yang ke 23 tahun, dan kau tahu apa yang ada di perasaanku saat ini, aku semakin takut saja jadinya, ya mungkin karena mengingat dosa yang pernah terjadi ataupun hutang yang mungkin belum terbayar karena alfa yang telah terjadi pada diriku, ah mulai membuatku makin takut saja.

Mungkin juga wajar saja sebagai manusia yang terbatas dengan kekurangnnya, tapi dalam umurku yang makin tua ini, mungkinkah amalku itu diterima, dan apakah dosaku kan diampuni ataukah ada skala kepantasan dalam masuk surga, dan apakah nilai skalaku masuk hitungan, karena seringkali aku berpikir ketika mata ini mengajak untuk tertutup di malam hari, “Apakah aku berdosa hari ini, dan apakah hidupku ini rahmat bagiku atau sebuah bencana bagi orang di sekitarku?” ujarku dalam hati.

Aku memang kadangkala menjadi pesimistis ketika hendak tertidur, tapi tak apalah, toh itu mungkin kebiasaan yang sulit hilang.

Ah umur! Kau memang menjadi misteri yang keren, jika aku pengikut pemikir matematika maka aku pasti berpikir hidup itu adalah kalkulasi, dengan rumus, kau hari ini adalah jumlah kau masa lalu dan kau masa depan adalah jumlah kau hari ini.

Jika aku ini ikut pemikir yang selalu pasrah mungkin aku selalu berpikir bahwa masa depan akan terjadi seperti itu adanya, tetap dengan perasaan yang tak ada gairah dan lupa akan masa lalu dan masa depan.

Ah banyak sekali kemungkinan, aku kadang jadi pusing, dan kadang kala hanya menebak seperti apa hati esok dan hanya mengenang masa lalu ketika mata hendak tertutup.

Polisi Tidur

Ah kamu pasti gak ada kerjaan membaca notes seperti ini, soalnya saya juga yang buat dalam rangka mengisi waktu luang saya dalam beribadah, hah sungguh terkesan alim pisan, namun dalam rangka mengisi waktu luang dalam kerendahan hati ,maka saya akan bercerita tentang polisi tidur.

Polisi..... hah ia pasti sangat suka tidur, ah kata-kata yang basi untuk dibaca ....... gimana kalau ia itu terkena racun tertidur selamanya... ah juga sangat konvensional, bagaimana jikalau ia itu mengidolakan seseorang, itu mungkin akan lebih bermakna.

Dahulu kala hiduplah seorang bernama.......... ah jadi pusing klo nulis si Ahmad, takutnya ada bapanya yang namanya Ahmad, atau ia sendiri yang bernama Ahmad, karena saya suka sama Mirza Ghulam Ahmad maka kita sebut sebagai Miras aja, biar sedikit memabukkan.

Miras ini ialah seoranga anak dari keluarga kaya, seorang yang sangat mapan, dan secara material ia itu tak kekurangan apapun, jika ingin makan ia tinggal ngomong mau makan apa, “Aku ingin makan sup kuda nil,” ujarnya, maka para pembantunya segera membuatkannya, namun ia itu menghayal terlalu tinggi, ah sepertinya tingginya langit dan dalamnya lautan itu bisa diukur namun dalamnya dan tingginya keinginanya itu sulit untuk diukur karena sampai sekarang tak ada ukuran dalam nafsu, kan klo panjang mah ada mulai dari milimeter hingga kilometer, tapi klo nafsu masa sebutannya milinafsu hingga kilonafsu, ah sulit juga klo ngomongin ukuran nafsu.

Secara.. Miras itu anaknya pejabat, ya seperti yang diungkapkan oleh Andy RIF mungkin, tinggal tunjuk ini, tunjuk itu tetep aja mirip yang ditunjuknya ga ada perubahan maksudnya… hah!

Aduh mulai bosen, mari kita obrolkan apa yang diinginkan oleh si Miras ini, ternyata ia sangat ingin jadi polisi, maka dalam waktu panjang iapun menjadi polisi, kenapa dalam waktu panjang, ya biar terbaca ada prosesnya, masa ujug-ujug bleg we jadi polisi kan teu rame, singkat kata karena keinginannya yang kukuh menjadi polisi iapun menjadi seorang polisi.

Aduh ternyata ia mempunyai tokoh yang sangat ia kagumi, namanya Malin Kundang, dan kau tahu ia telah mengidolakannya dari ia kecil rupanya, ia sangat terkesan dengan keteguhan hati dari malin kundang sehingga demi prinsipnya ia rela jadi batu dan tetap mengabadikan prinsipnya bersama hidupnya yag singkat.

Tak tahu mengapa ia menjadi mirip sekali Malin Kundang, dan orang tuanya pun sadar dengan perubahan yang terjadi pada Miras, ah mereka menyesal dengan semua kasih sayang yang telah tercurah bagi Miras, apapun yang diinginkannya mereka tepati, bahkan ketika Miras ingin menjadi juri dalan African Idol, merekapun menyanggupinya dan menyewa orang sejumlah benua Afrika untuk berakting dan demi mengabulkan permintaan anaknya.

Miras tumbuh menjadi pribadi yang sehat wal afiat, ia rata-rata tak pernah sakit, Cuma sakit yang sepele saja yang menimpanya, seperti patah tulang rusuk, HIV, batuk meradang menahun, dan sakit itu sangat membuat para orang tuanya semakin sayang padanya. Sehingga mereka tak sadar rasa saya itu telah membuat buta mata Miras.

Ada cerita pendek tentang nama Miras dari orang tuanya, nama itu ia dapatkan ketika berada di apotek ketika mereka sedang mabuk, “HINDARI MIRAS” ujar tulisan di dinding apotek tersebut, karena orang tuanya yang sedang mabuk maka ia berkata, “Ibu nanti jika kita punya anak kita kasih nama MIRAS aja,” mungkin yang dipikirkannya Mira situ sangat disegani dan entah mengapa asisten seumur hidup ayahnya Miras itu menuliskannya, sehingga ketika ibunya melahirkannya kontan diberi nama seperti itu.

Ah sungguh makin kacau saja ceritanya ini, Miras kini telah mencapai pangkat yang lumayan tinggi dari juniornya kali ini, namun karena ia sombong dan durhaka kepada ibunya, kakeknya, bibinya, pamannya, bapaknya, dan tetangganya, iapun dikutuk oleh atasannya menjadi batu, mendengar kutukan itu Miras tak kunjung juga sadar, mengingat ia itu sangat terinfluence oleh Malin Kundang maka ia berkata,”Malin Kundang aku juga sepertimu, tegar akan keputusanmu yang membatu, dan kekal akan jiwamu yang keras,”

Tak beberapa lama ia mencapai komplek yang dihuninya lewat THR yang ia dapat, kemudian dengan ijin tetangganya ia menjadi batu di depan pekarangan rumahnya.

Siapa mau dikata, ternyata karena ia polisi dan membatu di jalan iapun diabadikan oleh rata-rata arsitek Indonesia dalam setiap karya perumahannya dengan sebutan polisi tidur, dan kau pasti jumpa dengannya di setiap perumahan atau jalan-jalan setempat.

Memang terkesan tak terlalu nyambung namun dalam rangka beribadah tolong tersenyumlah.



*diketik dengan jari dan dalam senang hati

Beberapa hari setelah Lebaran

Kau tahu arti dari lebaran, mungkin kau tak tahu dan asal nyebut aja itu istilah lebaran, namun dalam rangka itu aku chat aja, dan beginilah chatnya.
ternyata chatnya belum ada yang nyangut, hah ternyata ada juga,
inilah

Hari Ini
17:19
Windy:
godiii
minal aidzin pisan yah
maafin salah wndy
17:24
Saya:
iya sama2
terus jangan diulangi lagi
17:24
Windy:
iya?
apa?
17:26
Saya:
iya minal aides wal faides
salahnya maksudnya
17:26
Windy:
zzzz
17:26
Saya:
mudik?
17:27
Windy:
enggak uy
eh cetakan soklat!
*coklat
kumaha ih?
msh d wndy
17:27
Saya:
iya ih kamu mah ga bailiki2 wae
17:28
Windy:
hihih
gimana dong?
ntip k yogi aja?
17:28
Saya:
terserah, yang penting cetakannya sehat walafiat
17:28
Windy:
hemmm,hehhe
17:28
Saya:
kamu onlen dimana
17:28
Windy:
D rumah
17:30
Saya:
eh di rumah banjir ga
17:31
Windy:
nggga doong
17:31
Saya:
kapan ada rencana banjirnya
17:32
Windy:
blm tau,,gak pernah berencana soalnya
17:32
Saya:
eh kamu mah
klo banjir uang mau ga
17:33
Windy:
hmmm
halal ga?
17:33
Saya:
halal lah semuanya rupiah, mau ga
17:35
Windy:
nggak ah,,pgn hujan yogi ajah
ahahhahha
17:36
Saya:
klo yogi kan g halal
mending ujang uang receh
17:36
Windy:
ntar dibuat hala, dia kan bisa menghasilkan uang kertas dan receh
17:36
Saya:
kwkwk
kamu kapan kuliah lagi
17:37
Windy:
tgl 16
kpan tah?
yaa tgl segitu pokoknyamah
17:37
Saya:
turut prihatin
17:38
Windy:
heu euh ,,parah
17:38
Saya:
kamu kapan jadi dosen
17:39
Windy:
gamau jd dosen
(ih gelo ngbrol sama km mah)
17:39
Saya:
berarti jd pns
kamu pusing ga
17:39
Windy:
pusing
da huhujanan kmren
17:41
Saya:
eh atuh hujan wae, kamu meureun..
17:42
Windy:
hoh?
17:42
Saya:
kamu huhujanan dari majalaya?
17:43
Windy:
eta pisan!
naha nyaho?
17:43
Saya:
pantes huhujanan
da ka majalaya
win kamu minta maaf sama orang tua kamu ga
17:44
Windy:
iya euy,, uyut diditu soalnya
17:44
Saya:
sangkain teh k c yogi


ah ternyata rada ngaco, dan nanti kapan2lah chat lagi

Rabu, 13 Oktober 2010

buka bukaan

oleh Godi Rangga 
Hahay bulan Romadon yeuh! pastina beberapa ritus sosial baru yang biasana jarang dilakukeun ku umat Islam akan terulang kembali, semisal meminta maaf.

ya you know lah mulai ti sms hingga datang ke rumah atau berkata secara langsung dilakukan untuk memulai ritus sosial itu, tak semisal bulan bulan sebelumnya, umat islam, ah terlalu general. ya orang yang melakukan hal tersebut, tersebut? ya meminta maaf itu maksudnya. terlenakan karena bukan bulan romadon, mungkin ini subjektif sekali tapi melihat orang-orang di sekeliling yang berlaku demikian sangatlah dimungkinkan bahwa orang lain selain orang-orang di sekelilingku berlaku demikian pula. ah romadon memang bulan yang misterius. sangatlah aneh dan membuat orang menjadi misterius, tak terasa mereka meminta maaf mulai dari bulan syaban.

ya bulan romadon, kau memang bulan yang keren mulai dari arti kata yang bermakna panas, hingga setan yang dikekang, semuanya menjadi misteri tersendiri. ah jikalau kau tahu maka aku akan sangat berteima kasih, karena memaafkan bukan seperti meminta maaf, meminta maaf lebih memerlukan nyali yang besar untuk melakukan hal tersebut, mungkin karena bulan romadon jugalah yang membuat event meminta maaf menjadi sangat menjamur. hah!

is is is! ritus lainnya adalah membeli barang baru, sungguh sangat dominan hal itu terjadi, jikalau saja terdengar atau terlihat kata diskon maka mata akan lebih memperhatikan kata tersebut. D.I.S.K.O.N.
ya memang indonesia terkenal dengan bangsa konsumen, walaupun mayoritas muslim hal itu tak bisa dipungkiri karena barang sisa di beberapa facktory outlet sangat digemari bahakan bandung menjadi salah satu primadonanya atau bahkan barang bekas di cimol setempat, hah! , fashion gitu loh, jika koil bisa membuat lagu tentang fashion maka aku akan setuju dengan lagu tersebut, bukan hanya jika, tapi itu telah terjadi. tak kah kau tahu?

konsumen, dasar konsumen ya itu telah terjadi di negeri ini karena sebelum bulan romadon saja harga-harga pada naik, maklum lah namanya juga munggahan, tapi hal tersebut bukan terjadi di kotaku saja sehingga kata maklum mungkin sangat bisa dimaklumi. tradisi selalu menjadi tameng yang kuat bagi kegiatan diluar cateris paribus.

yes, kita mulai kepada makanan, sangat banyak sekali makanan di bulan romadon itu dan kau tahu tak tahu mengapa kalau buah korma selalu menjadi identias bulan romadon di negeriku ini, mungkin di arab pun demikian, padahal penghasil korma salah dsatunya amerika tepatnya di california, tak tahu? makanya baca kemasan sebelum makan isinya.

korma buah yang sangat fenomenal, hingga salah satunya jenisnya nabi, tak tahu juga? makanya sering cari tahu. buah keren asal arabic ini tentunya manis sekali dan ini menjadi berbagai penghias makanan di bulan ini, mulai dari sari kurma, jus kurma, kolek mungkin atau mungkin nanti ada perkedel kurma atau bahkan akan ada soto kurma. macam-macam saja.

nah setelah seringkali makanan menjdai soroton mata dalam bulan romadon sangat diperhatikan tak seperti bulan-bulan sebelumnya sehingga banyak sisa sehingga banyak yang terbuang, ah mubazir mungkin. tapi aku yakin tak semata-mata allah memberikan manusia perkara mubazir tanpa disertai pelajaran yang berharga bagi manusia.

nah ritus lainnya ia buka bersama dan sahur bersama, tak tahu kapan akronim bubar menjadi sebuah istilah di kalangan bangsa indonesia, ya maklum bangsa indonesia, bahasanya juga baru mulai terbuat dari tahun 1945.

buka bareng, ya itulah ritus lainnya seperti ritus sosial lainnya, hanya ada di bulan romadon, muali bari buka bersama, buka-bukaan, hingga buka hati dan telinga, ah itulah lirik maliq n the essential. buka mungkin sebuah kata yang biasa namun jika dengan kata lain ia bersanding akan sangat dalam maknanya buka mata, bisa saja terbangun namun tersadar juga demikian, buka hati mungkin itu istilah bedah namun jikalau memaknainya sebagai menerima sebuah keikhlasan itu mungkin akan lebih bermakna, begitu juga dengan buka bersama, tak hanya sekedar penawar lapar dan dahaga namun dengannya juga tali silaturahmi akan terus tersambung.