Senin, 23 Januari 2012

Perihal Reunian

Pagi ini, saya tengah duduk di hadapan komputer saya dengan ditemani susu putih berbentuk cair di dalam gelas yang lumayan besar, dan siap-siap menulis sebuah kejadian yang telah lama menjadi sejarah, tepatnya beberapa hari lalu hitungan jari tangan pun belum habis.

Ini tentang acara reuni, tepatnya beberapa bulan yang lalu, jikalau tak salah pertemuan pertama mengambil jeda lima bulan lebih beberapa hari dari dateline acara reuni yang jatuh di bulan Juni, tahun ini tepatnya.

Malam itu telah berkumpul banyak orang di ruangan sempit di Jatinagor, tepatnya ruangan itu pula yang jadi alamat patokan untuk sekretariat acara reuni seperti yang teman lihat dalam amplop undangan reuni dan beberapa lampiran lainnya yang bisa kita baca bersama-sama.

Di situ tengah kumpul, Muttakin Brother, maksud saya Rivan dan Husni, yang awam disapa sayang oleh temannya Wiwiw Danyo dan Bonot, hadir juga Rais Alfatoni, saya sendiri, Kahfiana, dan untuk terakhir datanglah Anggun Pramudya di sela-sela injury time. Tentunya berkumpul bukan karena agendanya bermain gapleh hingga esok lusa, ya mungkin itulah kenapa Rivan selaku empunya ide untuk berkumpul bersama-sama, tentunya juga bukan untuk kumpul kebo, melainkan untuk sekadar berbincang hangat tentang kenangan dan memori yang akan terulang kembali.

Saya hampir lupa, siapa saja yang datang sebenarnya yang pasti itulah yang saya ingat, namun jikalau ada yang belum diabsen segeralah protes pada saya yang menulisnya.

Awalnya kumpulan dijadwalkan setiap minggu pada hari apa gitu saya juga lupa lagi, dengan agenda sebuah kumpulan tentang reunian dan sebuah kajian tentang apa saja yang mungkin dapat didiskusikan, tentunya berbagi ilmu dan sudut pandang tentang suatu hal, diskusi pertama terbilang sukses dan selanjutnya molor, lagi dan lagi.

Sebenarnya jikalau dibilang tak ada hasil, kumpulan tersebut membuahkan hasil, namun hasil yang kurang maksimal, untuk saat ini tak perlu menyalahkan siapapun karena semunya telah menjadi catatan tertulis dalam sejarah lisan. Organigram telah ditunjuk, dan siapa pegang apa dan siapa kerja apa telah tersusun.

Dan yang pasti semuanya tinggal jalan saja. Entah kenapa semuanya seolah makin absurd saja, dengan banyaknya kepentingan pribadi dalam perihal reuni yang membuat semuanya ‘kacau balau’, maaf saja saya istilahkan demikian karena sebetulnya saya kira perihal reuni itu hanya main-main saja.

Setelah beberapa Minggu kegiatan kajian ilmiah itu terhenti, barulah ada kabar, namun aku lupa teksnya, yang pasti menerangkan kumpul lagi. Untuk merencanakan reuni lagi tentunya.

Kali ini acaranya yaitu survei, dan ini yang aku tidak terlalu sukai, yaitu memakai kendaraan bernama mobil di jalan yang sangat lurus sekali pisan sangat belok-belok. Shit!

Namun hari itu ternyata batal dan hitungan jam kemudian acara itu dilanjutkan, ya maksudnya ke Pameungpeuk untuk melaksanakan survei yang sangat berkesan, oh iya sebenarnya ada alasan jelas kenapa survei itu diundur. Kau tahu Rahayu Wikarman, itu loh seorang mahasiswa keren yang ikut hima Persis itu loh, seorang yang sangat keren lah jika kau tahu, dan hari itu ia menikahi anak orang dan mungkin untuk hitungan hari berikutnya ia akan menghamilinya juga.

Ia itu menikah di Cisompet ‘coret’ yaitu sebuah tempat yang tidak dikenal sama sekali olehku, ya mungkin itu karena baru pertama kalinya aku ke sana, jujur saja aku sendiri sangat kagum kepadanya, demi cinta ia menempuh jarak yang sangat jauh dan berliku, dengan jalan terjal dan arena yang sangat kental dengan unsur hutan entah berantah, semoga engkau menjadi ayah yang sangat keren untuk anakmu dan suami yang bertanggung jawab untuk istrimu yang cantik itu.

Pertemuan itu tak beberapa lama, setelah berbincang sekedarnya perjalanan dimulai lagi.
Perjalanan ulang serasa lebih cepat karena tidak merasakan baunya kopling yang terbakar dengan arena yang menurun sepanjang jalan, dan jalan raya kami jelang lagi.

Pantai itu belum kami pijaki, di mobil telah penuh sesak, ada Udin, yang kerap dipanggil dengan nama Fahrudin atau Pehul, ada Anggun, ada saya, Bonot, Rifky yang sebetulnya namanya sangat indah namun disayangi dengan nama Seblu, ada Irsyad, ada Danil, ada Danyo, dan Wahid, Ahmad dan.

Dan kami jambangi rumahnya Wawan yang kerap disapa Junteng, entahlah kenapa pula ia dipanggil demikian, namun Samsul tak kami jumpai, entahlah padahal ia sangat dekat.

Dengan prosesi seperti biasanya, yaitu istirahat dan esok harinya telah siap untuk menengok pantai yang kerap menjadi perbincangan banyak orang, akan keindahannya, tujuan utamanya yaitu survei, di LAPAN, sebuah arena untuk melaksanakan acar reuni terebut, dan jikalau kau ingin tahu semua gambarnya ada di surat undangannya.

Indahnya pantai ternyata tak sebanding dengan deburan ombak yang hadir menemani kami, walaupun sempat disekat oleh hujan sesaat rasa ikan di pantai itu sempat membuat kepala pening dan perut yang terisi untuk sekedar tertidur pulas di saung itu.

Akhirnya tercetus Rivan sebagai sihobul maksud untuk acara ini, dan kemudian cara pun terbentuk lebih baik dengan tugas yang terperinci pula, tinggal memberikan undangan tentunya dengan sebelumnya pemilihan logo yang pas untuk acara tersebut, walaupun gambar saya yang dipilih tentunya dengan banyak sekali perombakan yang tak merubah suasana.

Dengan banyaknya kumpulan selanjutnya awalnya saya optimis sekali reuni ini akan berlangsung dengan baik. Namun aku bersikukuh untuk menyiapkan second plan untuk acara tersebut, namun semuanya tetep pada satu acara, tanpa adanya acara lain jika acara ini gagal. Pameungpeuk adalah prioritas.

Selanjutnya adalah kumpulan-kumpulan di Sukajadi, dengan banyaknya kue aku sangat nyaman untuk mencobanya. Dan santapan yang lainnya pula, kumpulan selanjutnya lebih baik lagi, ada Dian Asmuni, Leli, dan Linati, dan Lena, dan ada Rika Mustika Riani hadir, dan beberapa orang lainnya yang telah terabsen di beberapa paragraf atas tulisan ini.

Dengan banyaknya evaluasi aku makin optimis, namun tetap saja Pameungpeuk menjadi prioritasnya, dan kamipun demikian, karena keputusan bersama itu rupanya yang lebih berpengaruh.

Hitungan hari semakin dekat dengan cara reuni itu, sebuah acara yang kami jelang dan evaluasi terakhirpun kami selenggarakan di Rancaekek tepatnya di rumah Rika satunya lagi, Rika NS, maaf aku tak tahu NS itu apalah juga singkatannya atau apalah itu yang membuatnya menjadi NS.

Namun aku tak sempat untuk berlama-lama selain menginterogasi pacarnya Rian, sehingga rapat aku hadiri beberapa menit dalam hitungan jam. Akupun pulang bersama orang paling besar IQnya seangkatan kami, dengan motor tua keluaran 2005, aku bersama Irsyad pun pulang tentunya dengan beberapa hal yang kami evaluasi, karena arah reuninya sepertinya makin absurd saja.

Setelah sampai di Buah Batu mengantar ayahku ke undangan, smspun aku sampaikan ke Rivan, ternyata acara reuni itu dipending untuk waktu yang belum ditentukan.

Ternyata, membuat acara itu sangatlah sulit, bahakan untuk niat baikpun sulit sekali, untuk sekedar saling mengenalkan seangkatan, saling bertegur sapa, dan membuat memori indah bersama-sama.
Namun yang lalu biarlah berlalu, esok masih panjang dengan mimpi indah yang harus dilaksanakan menjadi kenyataan.



*Ditulis pagi hari menjelang siang dengan senang hati

Senin, 09 Januari 2012

Wawancara Sama Mang Dedi

Saya wawancara dengan tukang becak di Kebon Kalapa, namanya Dedi bla4x saya tak tahu, yang pasti ia sudah memperawani anak orang.


Saya: jeng akang saha ieu teh?
Tukang becak: ahahahahah
Saya: eh serius, sareng akang?
Dedi: Dedi
Saya: oh
Dedi: ahahaha
Saya: kawit timana?
Dedi: ti Cianjur
Saya: oh ti Cianjur,ngalalana ka Bandung nya, nanaonan di Bandung?
Dedi: nya usaha we jeng kulawarga didieu
Saya: ayeuna ngawengi dimana kang?
Dedi: ari ngawengi mah nya di kontrakan
Saya: diii? Kebon kalapa keneh?
Dedi: heunte, di eta pengkereun pasar anyar
Saya: dupi saur akang keperawanan teh nu kumaha?
Dedi: ari aslina keperawanan mah, sakaemut kitu nyaeta istri nu can dijamah ku pameuget, ny katawisna mah nu jarang ameng, nya pastina orangtuana tiasa leres-leres ngadidik kiutu kanu jadi putrana
Saya: ari ngabentenkeun anu perawan jeung nu heunte kumaha carana?
Dedi: ngabentenkeuna nya, posisina kitu nya simpel we secara ieuna itulah, antara blong jeng heunteuna, heheh
Saya:ari gadis jeng parawan benten teu kang?
Dedi: nya ari gadis mah budak keneh, nya dibawah duapuluh tahun, mun parawan mah langkung ti eta, nya istilahna mah tos siap lah, siap digaulan
Saya: ari tanda-tandanya aya teu?
Dedi: nya tanda-tanda mah tos aya dina kebebasanna,mun bebas kitu ameng kamana wae etamah parawan jeng nandakeun tos siap dinaonkeunnana teh, nya dijamah kitu lawanna, mun gais mah biasana mah jadi pegangan orang tua keneh.
Saya: kinten-kinten kang di bandung seueur keneh parawan teu kang?
Dedi: ari ku ayeuna mah, sigana mah moal katawis seueur keneh , soalna di bawah 20 tahunan ge tos seueur nu arameng atuh, eta nandakeun tos sariap, kan ayeuna mah tos beres sakola teh daramel terus gaduh kabogoh terus we dieusian, malahan kajantenan yuswa 15 tahun oge tos nikah, pan benten jeng jaman baheula mah,
Saya: ari baheula kumaha?
Dedi: nya ieu ge cek carita ti sepuh, ti kolot kitu , nya sateuacan tumur 20 tahun mah nya can dewasa kasebatna
Saya: mun ayeuna?
Dedi: nya ayeuna mah sigana beda, nya bisi eusi tiheula nya mending ditikahkeun, katingali sok lalayeut, da memang katingalina kitu, malahan kajantenan kan sakola SD ge ditikahkeun.
Saya: gara-gara?
Dedi: nya eta ulin wae
Saya: jadi?
Dedi: nya eta tea di bawah 20 tahun haroyong diaku parawan tea, nya nu pantes mah diatas 20 tahun jadi parawan teh da tos siap dikukumahana.
Saya: jadi kumaha nasibna parawan teh
Dedi: ari ku ayeuna mah nya terancam, margi pergaulana ampir bebas pisan
Saya: jadi kudu kamaha nyalametkeun para parawan teh?
Dedi: nya kedah ieu we orang tuana, ngaosna, ngadidikna kedah ketat kitu, nya kacaritakeun ayeuna mah jam dua welas can aya di bumi, kan jaman baheula mah saatos isya teh kedah aya di bumi, kukulamprengan
Saya: jadi eta salah saha?
Dedi: lamun disebutkeun mah etamah salah orang tua, nya salah ngadidik
Saya: mun sakola kumaha
Dedi: nya eta oge , pang na mah eta tah dina jajan wae, komo dina jaman nu kieu, engke teh janten wantun kanu kolot teh, terus we milarian kamu sanes
Saya: aya hubunganna teu keperawanan jeng tuangan
Dedi: ah eta mah heunte sigana mah
Saya: mun hubungan jeng moral kumaha?
Dedi: tah mun eta mah sigana aya
Saya: aya pesen kanu teu parawan teu kang?
Dedi: nya sing ngajagi we, upami tos gaduh kabogoh sing bener ngajaga diri, da engke mah mun tos nikah mah bakalan nyobaan, hehe
Saya: aya pesen kanu parawana teu?
Dedi: kanu parawan mah, nya sing leres we ngajagina, terutami ka orang tuana, margi kasebatna etamah mahkotana, tambih istri mah pondok lengkah


*dibuat untuk dalam rangka majalah RTK yang kahiji

Teruntuk Teater Bohlam

Pagi itu aku masuk sekolah, atau dengan kata lain masa orientasi siswa, namun ternyata kesan pertama yang dibuat adalah penolakan, “Kamu siapa, kenapa masuk ke 22?” ujarnya, seorang kakak kelas menjegal langkahku ketika gerbang berteralis besi itu akan aku masuki, mungkin karena seragamku yang sangat berbeda dengan siswa khalayak ramai, setelah aku jelaskan, aku dipersilahkan masuk ke area tersebut.

Aku bingung mau masuk kelas mana, karena aku ini tak hadir dalam pembagian kelas aku lihat di jajaran kelas itu tak ada yang terbuka, “Ini mungkin,” ujarku berbisik, lalu aku masukilah kelas 1-4, dimana aku sangat bersyukur bisa mengenal teman-temanku hingga saat ini, mungkin mereka sebagian telah melupakanku, namun aku tak pernah lupa urutan bangku yang diisi olehku dan bagaimana pertemuan pertama di kelasku dulu dengan teman-temanku dulu.

Mungkin karena aku ini kurang pintar maka aku ini peringkat ke 4 terakhir dari belakang dari jumlah murid 42, sungguh sangat tragis untuk siswa yang jauh-jauh menempuh jarak kurang lebih 35 kilometer perharinya hanya untuk sekedar belajar, namun itulah prosesnya mungkin.

Pada hari ketiga, kelasku dikejutkan oleh suara berisik dan hantu-hantu yang terlihat lucu, bahkan aneh menurutku, kok ada ya hantu mirip manusia, “Siapa yang mau masuk teater Bohlam?” ujar Bimbim, yang pada saat itu aku tak mengenalnya, ia berperawakan pakai baju putih lusuh dan celana hijau army yang tak kalah lusuh dari bajunya, kontan saja aku langsung mengacungkan tanganku, dan disusul oleh teman sekelah yang lain, namun aku tak ingat siapa setelahku atau aku yang keberapa, setelah menjelaskan apa itu teater Bohlam, di kelas kami disuruh untuk ke sekre, dan mengisi formulir, aku lupa lagi apa itu pake biaya atau tidak, yang pasti yang aku isi itu formulirnya dari kertas. Kertas fotokopian lebih tepatnya.

Kemudian pertemuan demi pertemuan dilakukan, yang paling ingat adalah hari dimana dimulainya program kakak angkat, dan itu masih pagi, hari sekitar hari minggu pagi lah, kalimat yang rancu.

Para kakak angkat mulai berjajar seolah pajangan yang mendapat harga jual, berjajar, Ee, Omen, Andra, Indri, Vina, Ating, Giles, Hulk, Indri dan kakak-kakak angkat bagi adik angkatnya masing-masing, kala itu anggota Bohlam angkatanku itu banyak sekali, hampir satu kleas, namun minim sekali dengan namanya lelaki, mungkin untuk masuk Bohlam itu tidak maco, ataupun mereka belum sanggup menerima kemacoan dari Bohlam. Entahlah.

Ada aku, Yudi, Kudil, Tendi, dan Faisal. Berbanjar rapi dan memilih kakak-kakaknya masing-masing, setelah sebelumnya mereka memperkenalkan dirinya masing-masing dan kita mulai saling mengenal, kala itu kelasku itu jumlah anggota Bohlamnya paling banyak, sehingga ketika ada dispensasi, terkesan banyaknya murid yang diusir dari kelasnya, namun tunggu beberapa bulan berikutnya kelasnya akan lebih penuh lagi.

Dari jajaran kakak angkat Giles itu kedua terakhir dari kanan, tentunya menurut penglihatanku, yang kulihat itu ia itu lebih pendiam dari beberapa yang lainnya,mungkin itu efek namnya, giles kan peujet, jadi lebih tipis dari yang lain, atau entahlah, maka akupun berdiri di belakangnya, bersama Vera, dan satu lagi aku lupa lagi, klo tak salah ia itu mengundurkan diri dan yang tersisa aku dan Vera, lebih parahnya, sepertinya bukan pendididkan teater yang aku dapati, jika husnudon mungkin itu pendidikan membuat paper dan kumpulan berita dari artis Siti Nurhaliza yang saat itu sedang happening pisan, mungkin itulah yang suruh oleh Giles, karena ia itu terkesan sangat pendiam, tapi itu mungkin dulu, klo sekarang mah ya ga tau, beringas mungkin.

Setelah itu mulailah Pesta, yang aku ingat itu celotehan Faisal, “Sangka urang teh Pesta teh seneng-seneng siah, naha euweuh kue na?” dan itupun aku amini, ternyata mental kami jadi sasaran para kakak angkat dan pelaksana Pesta saat itu, jumlah kami itu 21 orang itupun jika tak salah dan yang mempestakan kami itu lebih dari pada itu. Yudi dan Kudil tak bisa hadir karena Kudil itu dipasang penn atau penyangga tangan pada hari itu, dan Yudi klo tak salah sakit.

Ada beberapa kejadian lucu yang aku alami, mulai dari susah berhentinya Sari mengangis, “Kenapa kamu ga berhenti nangisnya?” teriak Ziba ke Sari, “Atuda susah,” ujarnya sembari menangis, aku hampir tertawa melihat teman sebarisku berlaku demikian, kebayang aja ada ya orang yang susah berhenti nangis disuruh berhenti, ga bisa-bisa. Dan banyak sekali hal lainnya yang membuat bulu hidung dicepak mohack. Haha.

Mungkin untuk angkatan sekarang tidak banyak yang mengenal Nova ataupun Ziba, aduh masa itu mereka sangat horror terlihatnya padahal mah ga tau juga, sialnya aku itu orang pertama yang disuruh keluar dan membawa barangku semuanya, akupun nurut, dan lebih tertekan lagi ternyata, karena aku sangat sulit berkomunikasi dengan mereka dalam bahasa Indonesia, bukan karena aku ini orang sunda namun karena masa itu aku sangat enggan dan asa kagok we ngomong bahasa Indonesia teh.

Mungkin mereka hanya marah-marah, mencela dan sebagainya, sedangkan aku hanya diam saja, karena rasanya komunikasiku itu terbatasi sampai tulisan saja.

Di akhir Pesta, aku baru tahu klo pesta itu sebuah akronim Peresmian Anggota, atau bahasa gaulna mah ospekan. Shit aku tertipu.

Senja itu aku pulang dengan badan baru mandi dan kau tahu semua orang pun demikian, sampai rumah orang tuaku bertanya, “Kumaha rame pesta teh, gaya lah ka kota mah pesta,” ujarnya, sedangkan aku ketus saja, “Rame pisan, hah,” ujarku.

Semenjak itu aku jarang ke sekre, dan kurang tahu perkembangan selanjutnya, mulai dari mereka senang-senang taupun sekedar berkumpul ria di sekre, namun yang aku ingat dulu itu sekre itu tempat yang nyaman, pake karpet hijau atau biru ya, aku lupa lagi, soalnnya kan aku buta hurup, dan ada kursi yang nyaman untuk duduk, bahkan ketika aku hendak masuk terkadang aku lihat Topan tengah tidur disana, dan kegiatan selanjutnya ketika di sekre adalah mengobrol konsep, mulai dari cerita, berbagi peran, dan lain sebagainya, dan yang pasti tak lupa ialah bermain kartu dan catur di sekre, klo dulu mah sekre teh teu poek siga ayeuna, dan sektre dulu mah teu sakotor ayeuna.

Ada cerita menarik dimulai di ruangan itu, mungkin Ap masih ingah ingat ketika ditembak Jarwo, ataupun ketika ada yang marahan sama calon mantannya, ataupun juga belajar bersama di sekre itutentang fisika lah ataupun tentang ilmu gaib, ya kimia itu tadi, ngitung yang saya ga tau, jadi we saya kategorikan sebagai hal yang gaib. Jikalau dulu sekre itu dinding ada dua warna, dan sekarang lebih berwarna lagi karena orang-orangnya pun makin banyak warnanya.

Perihal nama mungkin sedikit aneh, kenapa sih dinamain Bohlam, bukan Patrick ataupun Gonzales yang lebih absurd lagi sehingga terkesan lebih keren, sempat aku tanyakan mengenai nomenklatur dari Bohlam sendiri, klo dari penuturan Ziba dan Didot mah sih, nama Bohlam teh dulunya Patromak, kemudian berhenti jadi Bohlam pada masanya Nova, dan perlu diketahui klo orang yang masuk Bohlam itu dikutuk menjadi orang keren. Pisan.

Begitupun aku, aku merasa terhormat jadi bagian dari keluarga besar pisan sangat sekali teater Bohlam dan mungkin anggota lainnya pun begitu, karena untukku sendiri tak ada mantan anggota Bohlam, meskipun secara jelas ia itu mau keluar, ya sudahlah itulah keputusannya. Toh Bohlam masih tetap bersinar.

Kebiasaan pesta entah dari kapan mulainya mah, tapi itulah momentum kita bisa berkumpul lagi, untuk sekedar bertegur sapa dan melihat regenerasi dari tiap angkatan ke angkatan lainnya.

Setelah beberapa bulan aku menjadi anggota Bohlam, ternyata kebiasaan untuk menjadi manusia superior timbul juga, dan terjadilah perpecahan bahkan perceraian, hah!, ga mungkin ketang, ya biasa lah anak perempuan mulailah clash yang berakibat banyaknya anggota yang mundur, dan kau tahu yang tersisa dari angkatanku itu terhitung jari yang ada di tanganku.

Mungkin musuh berat dari persahabatan ialah persekongkolan, ya itulah akibatnya ketika satu ada clash dengan yang lain berakibat yang lainnya juga ikut serta. Ah shit. Pokoknya pas waktu itu mah ga enakeun we ada di sekre teh, si anu sama siapalah, si una sama lahsiapa, kekanak-kanakan sih tapi itulah dinamika.

Jujur saja untukku sendiri tak terlalu aktif di Bohlam karena aku selingkuh dengan ekskul lain, dan aku berfikir di Bohlam lebih banyak orang, sehingga aku lebih melilih ekskul tersebut, namun kenangan di Bohlam tak ada yang sia-sia.

Sesampainya aku kelas tiga akhirnya aku bisa membuktikan ucapanku kepada Ziba di saat aku disuruh pulang, “Apa yang bisa kamu janjikan ke Bohlam agar kamu bisa masuk Bohlam?” teriak Ziba, spontan, “Sampai alumni insya Allah di Bohlam,” ujarku singkat.

Namun kenyataannya aku tak bisa maksimal dalam membantu kemajuan Bohlam dengan segala bentuk kegiatannya, karena kesibukanku yang lain, namun sekadar bercerita mah tak apalah jua.


*diketik sore hari, Untuk mencatat Bohlam dalam tulisan

Jumat, 30 Desember 2011

Tujuh hari setelah hari buruh

Hari ini temanku menikah, dua orang temanku tepatnya, satu teman sudah seperjuangan semenjak ibtidaiyah, orang tuanya memanggilnya Aniq Ziyannul Jannah, aduh pakai bahasa arab, jadi aku tak tahu pemaknaannya itu seperti apa persisnya, ataupun bagaimana bu Heni ibunya itu memaknai nama itu, yang pasti ‘jannah’ itu artinya itu surga, ia itu teman yang sangat menyenangkan karena bersikap apa adanya, tak berlebihan ataupun bersikap tak menyenangkan, kami sekelas sangat beruntung bisa berteman dengannya, bukan pula karena ia itu anak seorang ustadah, ya bu Heni tadi , namun sebagai teman yang baik tentunya, memberikan saran dengan baik, dan sebagaimana khalayak ramai memaknai teman baik.

Ia itu tinggal di komplek pesantren yang aku sekolahi dulu semasa aku tsanawiyyah, atau mungkin ia itu yang punya pesantren itu dan menyamar jadi santri, entahlah? Ah aku mah sih husnudon aja, ia itu kan berbeda jenis kelamin denganku, karena ia itu pake kerudung sehingga aku bisa pastikan ia itu perempuan walaupun kelakuannya sedikit kelaki-lakian, aduh ia pasti marah membaca notes ini, Karena masa lalunya sedikit dipitnahi oleh saya, kan dalam rangka bercanda. Hehe.

Ia itu orangnya pintar sekali, bahkan untuk ukuran santri yang paling pintarpun di kelas kami ia itu tetap pintar sekali, soalnya kan saya itu tidak pintar seperti khalayak ramai di kelas saya, banyak sekali kisah cerita yang kami buat ataupun yang kita bagi di kelas kami, oh tak lupa kelas kami itu namanya kelas C yang klo identikkan jaman dulu itu santrinya sering sekali membuat pundung ustadnya, aku masih ingat ia itu satu-satunya santri yang membelaku ketika aku memperdebatkan rokok kepada ustad Diding di kelas, dan terima kasih banyak sehingga aku tidak terlalu tersudutkan olehnya, jujur saja aku tidak suka kepada pengajar yang menganggap bodoh, karena secara tidak langsung ia telah menyatakan dirinya sebagai pengajar yang tidak kompeten.

Dulu sekali mungkin anak-kelasku itu sangat berterimakasih telah mendapakan makan sahur gratis dari Aniq sekeluarga, dengan baiknnya mereka membaginya, aduh memang kami sekalas sering membuat riweuh bu Heni, dan tentunya Aniq juga. Dan saya dan teman lainnya tak akan lupa kebaikannya, semoga kebaikannya diterima di sisi-Nya, eh naha jadi siga turut berduka cita gini ieu teh, tapi santai da kita mah baik.

Beberapa tahun yang lalu,saya sempat duduk bersama satu ruangan, mendengar ocehan dari para ustad dan teman sebaya yang melimpahkan tanggung jawanb ilmunya kepada kami, aku, dan juga engkau, namun hari ini, setelah lama tak jumpa kabar pun tersiar, kau akan melaksanakan pernikahanmu, mungkin pagi tadi kau telah siap menunggu sang mempelai tiba dengan kawalan kedua orang tuanya, karena fitrahnya kau akan menyatukan dua keluarga yang berbeda tempat, usia, jenis kelamin dan hal lainnya yang membuat perbedaan.

Pagi tadi mungkin banyak sekali orang yang menunggu prosesi akad nikahanmu, maaf aku tak datang melihat ikrar sang mempelai, banyak sekali alasannya untuk dikatakan, ataupun dituliskan, namun sebuah catatan harian saja tak cukup untuk memberikan alasan hari ini aku tak datang karena tanggung jawabku dan usahaku.

Pagi hari tadi mungkin kau telah berias dan mengenakan baju akad nikahan yang telah lama siap, sayang aku tak bisa lihat kau untuk akad nikahnya, dengan kebaya dan sejenisnya, apalah itu aku tak bisa menyebutkan, massa aku harus mengabsen dari sendok hingga hidangan yang telah disiapkan. Aku kan tak tahu semuanya.

Panggung mungkin telah disiapkan juga, dan begitupun teman-teman sekelas dulu telah hadir dan menyaksikan pengantin itu mengucapkan ikrarnya sebagai lelaki, sungguh beruntungnya ia, dan betapa tidak beruntungnya mantanmu yang dulu pernah kau ceritakan.

Dan tadi ketika hujan gerimis mengguyur Banjaran, dengan pakaian seadanya aku datang, mengisi absen pengunjung, mengucapkan selamat, makan dan tak waktu lama aku pulang, maaf tak bisa lama, aku masih punya tanggung jawab yang lainnya di rumah jahit yang kelola.

Berpapasan dengan beberapa teman mungkin sedikit pelipur lara, dan mungkin teman-teman lain mengobrol lama dengan bercerita tentang ini dan itu, maaf aku tak bisa hadir sepenuhnya di pernikahanmu itu tentunya, hanya doa semoga kau menjadi istri yang baik dan ibu yang baik pula untuk anakmu kelak.

Satu teman lainnya Hana Maulani Sofiyanti, salah atau benar urutan namanya tapi itulah yang aku ingat, untuk urusan nama aku kadang lupa kadang ingat.

Maaf aku tak bisa hadir di resepsi pernikahanmu tadi siang, kabarnya anak-anak kelas b pasti datang bergerombol dan membawa kado yang dicanangkan bersama-sama.

Karena ku tak datang maka aku yang membejaan sebagian temanku itu tentang resepsi pernikahanmu, sebagian malah berpesan “Kok mendadak sekali” ujarnya, bahkan aku juga tahunya itu hari Jumat, bahkan itu juga kebetulan saja ketika aku menghabiskan pulsaku untuk sekedar menelepon temanku Lina di tempat ia berada, mungkin terkesan picik, aku yang memberitahunya pun tak datang, maaf, aku telah berijin dahulu untuk hal itu kepadanya,tapi santai saja hadiahnya telah disiapkan kok.

Yang kukenal itu ia itu orangnya baik sekali, tak banyak ambil pusing, namun untuk kenal lebih jauhmah aku tak terlalu akrab dengan para wanita di kelas, namun mereka tetap jadi teman yang mengasikkan untuk diingat ketika kuliahku dulu aku jalani.

Semoga menjadi istri yang sangat solehah sekali pisan, dan menjadi ibu yang keren untuk anakmu kelak.



*diketik dan diedit pagi hari

Di Kelas

Berteman segelas susu coklat dari warung setempat
mulai kuingat memori pagi hari di kelasku dulu
Kau duduk terhalang satu baris di depanku
Jikalau kau tahu seragam putih abu itu

Selalu membuatku ingat kau
Tak etis juga jikalau kukatakan aku suka kamu
Sedang temanku juga telah jadi pacar mu

Urutan absen pun aku masih ingat
Kau ada delapan baris dibelakangku
Awalan hurup S itu selalu terngiang ketika
kau bilang “hadir”

Sayang aku tak bisa melihatmu tersenyum ketika
berkata demikian
karena yang kutahu dari temanku, itulah
saat paling cantik kau ada di kelas


diketik 17 april 2011, di rumah jahit

Teruntuk Nenden Komalasari

Dikelas itu, ya maksudku kelas di gedung x itu, mungkin kau juga tahu itu adalah tempat kelas kita biasa berkumpul untuk menempuh mata kuliah, dan jikalau kau tahu kelas itu sangat berkesan bagiku. Karena telah menemukanmu.

Pagi yang cerah di bulan Agustus membawaku melihat kau, awalnya kukira kau itu orang Bandung, ternyata perkiraanku meleset jauh, kau itu mojang Cianjur, sebuah kota yang kerap kupanggil untukmu.

Diawal pertemuan kau mengenalku mungkin aku ini kurang ajar, suka mengkritisi atau mungkin tak berbakat untuk menempuh kuliah dengan benar dan baik, dengan pakaianku yang nyaris kusut tiap hari aku pakai, bahkan motorku saja jarang aku bersihkan, dan kebiasaanku yang jarang menyisir rambut membuat penampilanku jauh berbeda dengan teman-teman sekelilingku.

Dan aku masih ingat, di minggu awal bulan Februari aku menyatakan rasaku padamu, dan kau ingin aku jadi temanku adalah jawabannya, kau tahu dihatiku berbisik tiga bulan lagi aku akan mengatakan hal yang sama padamu, mungkin banyak yang mengatakan aku ini kurang waras jika menyangkut perasaan.

Tiga bulan selanjutnya, aku melakukan hal yang sama, namun ketika itu waktu liburan sehingga, sebelum deadline aku harus melakukan sesuatu, aku pergi ke Cianjur, dan kau tahu ketika kutahu kau itu sedang sakit aku ingin sekali bermain ke rumahmu, dan ingin tahu mengapa kau bisa sedemikian dingin terhadapku.

Padalarang itu telah aku lewati, dan Ciranjang adalah tujuan selanjutnya, dan kau pun menolak kehadiranku disana, sempat aku ketus, namun ada ide gila lain dipikranku, aku mengajak temanku yang lain untuk sekedar bermain-main di kota pengasil beras itu, ternyata itu kota yang kecil, dan sebagian besar waktuku habis di bendungan Cirata makan ikan dan tidur-tiduran, karena aku mulai rindu kamarku yang acak-acakan, aku segera pulang dan berpamitan lewat sms saja padamu.

Aku pikir, aku telah ditolak habis-habisan oleh mu, namun karena aku ini jarang menyerah sehingga aku mencoba kembali, menjelang akhir semester genap itu, aku akhirnya bisa mengajakmu hanya untuk sekedar menonton band kesukaanku dari SMP, Pure Saturday, dan ketika lagu Desire dilantunkan, aku ingin berbisik padamu, lagu itu refresentasiku untuk mu, namun karena suara yang hingar bingar niat itu tak terlaksanakan.

Selanjutnya aku mengajakmu maka surabi di Setiabudhi, tempat yang lumayan nyaman, namun kau tetap saja menatapku asing, yang aku pikirkan mungkin ini baru kedua kalinya aku ajak kau keluar dari kosanmu lewat waktu Isya.

Kau tahu aku sangat senang melihatmu, sungguh senang sekali bisa makan bareng denganmu, walaupun akhirnya kau tak memberi jawaban untuk perasaanku, ketika motorku mengantarkanmu menuju pintu kosanmu di Cibiru.

Hal itu membuat aku terus berpikir mungkin ada yang salah pada diriku, atau ada yang salah padamu, ah entahlah, itu membuatku pusing ditambah kepusinganku yang lain.

Mungkin karena pola makanku yang tak baik dan benar sehingga Thipus mulai lagi mengisi dua mingguku di rumah sakit, dan hanya ada satu teman yang datang yang paling kuharap sekedar sapaan darimu namun itu tak kunjung datang jua hingga aku mulai untuk kuliah lagi, Setelah itu malas sekali kerjaku, yang kukerjakan hanya bisnis dan bisnis lalu menghitung laba rugi di catatanku, mungkin hasilnya tak banyak, tapi aku bangga telah bisa membantu keluargaku.

Hingga akhirnya kau diwisuda juga, kau tahu aku menunggumu di gerbang depan Fakultas Psikologi, dan kau tak hadir juga, dengan sedih akupun pulang untuk menghadiri resepsi pernikahan saudaraku.
Akhirnya setelah beberapa kali aku mencoba untuk mendekatimu namun kandas juga, mungkin kurang keras usahaku ataupun caraku yang tak benar, bahkan mungkin kau bukan jalan dari takdirku.

Hinga kini aku tak tahu kabar darimu, bahkan untuk sekedar SMS pun kau tak menjawab. Mungkin aku ini terlalu mengganggu untuk diingat, semoga catatan ini bisa jadi katalis yang baik jikalau istilah teman itu masih ada.



*diketik malam-malam dengan hati yang senang. penawar ingatan melawan lupa

17 April tahun ini

Malam ini bulan lebih terang daripada lampu yang menerangi lingkungan setempat, bahkan lebih terang menerangi kamarku, menelusup dari kaca jendelaku, dan mungkin semua jendela yang ada di rumah-rumah yang ada di desaku, semuanya tampak jelas, cahaya bulan itu tak redup oleh sinar lainnya, bahkan bintangpun demikian, kerlipnya terlihat cantik untukku yang kadang aku enggan melihatnya sedemikian cantik malam ini.

Lingkunganku tak dialiri listrik malam ini, oleh PLN mungkin sedang diadakan penghematan atau mungkin juga sebuah perbaikan di suatu tempat, entahlah yang pasti malam ini gelap, dan bulan adalah juaranya.

Anak kecil mulai hingar bingar di ruangan depan rumahku, ibuku yang sedang mengajarkan anak orang lain mengaji bahasa arab, dengan fokus bacaan Al Quran tentunya. Kegiatan iitu berhenti dan mulailah murid ibuku itu membicarakan orang lain, dan kegiatan itu terhenti total.

Beberapa langkah aku keluar dari kamarku, sembari membawa handphoneku jam 19.08 tertera di layarnya, aku mulai lupa dengan keadaan seperti ini, ketika bulan indah tak aku pedulikan lagi, aku harap aku tak menyesal untuk bersyukur kali ini, namun pastinya aku menyesal, mengapa tak dari dulu aku bersyukur atas pemandangan ini.

Suara kucing bersahutan di bagian rumahku yang lain, tak ada suara lagu dari komputerku, diganti dengan demikian suara hewan itu, sulit sekali menulisnya.

Berjalan menuju warung punya bibiku, menjadi hal yang tak sulit, karena jalannya diterangi bulan malam ini, setelah membeli sebungkus susu siap seduh, aku mulai menulis, menulis sebuah kisah dari keseharianku.