Selasa, 10 April 2012

Sulitnya itu indah, part 1

Jikalau kau tahu di telinga saya itu Anggun yang cantik sedang berbisik indah “Breathe in the water,” ujarnya pelan, ya maksud saya buka Anggun Pramudia teman saya di pesantren itu, itu loh saya ka pernah mesantren di Garut, dan sekarang pun saya ada di tempat itu, penuh kenangan yang indah, dan mulai membuka pemikiran saya yang kampungan ini.

Sehari sebelumnya jikalau kau tahu aku berda di Banjaran, dan setelah bersiap-siap untuk berangkat ke Garut tentunya aku SMS Anggun, nah ini Anggun yang temanku di pesantrenku dulu, dan tentunya teman hingga saat ini, ternyata ia pindah tempat kosan yang baru, dan ternyata pula ia telah pindah selama kurang lebih empat bulan, dan setelah bertemu, awalnya ia tak ingin berangkat pagi hari, ya maksud saya karena saya temukan ia di Indomaretnya itu kurang lebih jam sembilan an, WIB tentunya.

Dan setelah lama menunggu, ketika aku ingin mencoba melumat Ice Cream, akupun membelinya di Indomaret tentnya, dan tak lupa minuman berenergi, atau mungkin lebih tepatnya Kratindaeng, bener ga sh nulisnya kayak gitu?

Dari balik kaca yang bening itu, terlihat sesosok tubuh yang namanya Anggun, dan saya pun ke kosannya dan saya temukan teman lainnya yaitu Rivan Muttaqin, jika tak salah mungkin menulis namanya demikian, begitu pun ada Fadlan dan calon istrinya , ya maksud saya jika ia mau untuk menikahinya dan sang calon mau menerimanya, ya jika maksud saya, atau jika pun mereka kehendaki mereka bisa memiliki anak yang shaleh tentunya, aamiin! Itu juga terserah mereka mau anak yang sah maupun yang kurang sah.

Ternyata Fadlan akan berangkat keesokan harinya dan selanjutnya Danyo atau Rivan itu akan pergi naik bus saja dan meninggalkan Ahmad sendirian bersama Danil, kaupun tak akan tahu ia siapa, tapi tak penting juga saya jabarkan danil itu siapanya teman saya seBanjaran, nanti jikalau sempat saya jabarkan eh ukan saya jabarkan deng, saya tuliskan seperti saya tahu saja.

Sedari awal saya sangay ingin ntuk Jum’atan, atau mendengar ceramah di pesantren yang kerap saya sekolahi dulu, untuk nanti saya dapatkan sertifikatnya, namun untuk saat ini saya ingi Jum’atan saja.

Dan ternyata setelah beberapa lama menunggu Anggun datang pula dengan punggungnya yang sakit, dan kamipun pergi meninggalkan kosan yang ada saat itu dan mennggalkan Cibiru, Rancaekek kami jelang setelah sebelumnya memasuki kosan Husni Muttaqin, ituloh temannya Rivan, meskipun sama dalam penamaan Muttaqin nya tapi mereka berbeda keluarga, berbeda juga macam-macamnya, kok rancu ya? Ya maksud saya mereka tidak bersaudara, namun saya paksakan saja mereka muttaqin brother, jadi seperti bersaudara kan, soalnnya mereka sering menginap di kamar kosan yang sama, jangan-jangan….

Aw! Tidak saudara mereka itu teman dekat, dan Husni sudah punya pacar, tapi Rivan entahlah, mungkin jodohnya terkesan menyedihkan dari status FB nya yang pathetic, turut bersedih buat Rivan pokonya, cemungudh eaaa!

Perihal Nama

Biasanya saya selalu bertanya perihal nama seseorang untuk memulai sebuah pembicaraan, kebanyakan bisa memperkenalkan namanya dengan singkat, baik nama asli maupun nama samaran, ataupun juga hanya sekedar julukan.

Perkenalkan nama saya bla bla bla... dan seterusnya, biasanya tak kenalan maka tak sayang, begitu pun juga untuk lebih tahu maka selanjutnya berkenalan, karena dari pandangan saya tahu saja tak cukup untuk mengenal, dan untuk lebih tahu sebaiknya berkenalan saja, aduh absurd juga kata tahu, soalnya tahu itu terbuat dari kedelai, tahu?

“Nda, kenapa nama kamu kok gitu” ujar saya di depan Hp saya.

“Oh, Dinda itu nama kesayangan orang tua saya untuk saya, dan Hermawati itu singkatan nama orang tua saya, ujar Dinda.

Dinda itu biasanya saya ajak seteleponan pagi-pagi buta, ya soalnya sempetnya pagi dan jika ada wakttu aja, dan ternyata dari awal ‘kepencet’ selanjutnya sering seteleponan dan ternyata tak sia-sia, ia jadi teman seperbicaraan yang nyaman.

Adapun yang mungkin nama yang terkesan ga nyambung sama sekali, seperti namanya itu Panca, tetapi ia itu anak pertama, saya juga awalnya pusing, tetapi untuk lebih tahu sepertinya pertanyaan itu tak etis jika ditanyakan langsung ke anaknya, soalnya ia masih kecil, lalu saya tanyakan ia ke orang tuanya, “Panca mah incu kalima na Ma Eni,” jawab ibunya singkat, padahal sebelumnya aku berfirasat, mungkin ia itu anak kelima dari ayahnya yang poligami, ataupun menunjukkan rasa sukanya pada Pancasila, atau juga Pancakaki.

Nama memang unik, walaupun hanya seucap, dan seterusnya berkesinambungan, terus akan dipanggil demikian, jika singa mati saja bisa meninggalkan kulitnya untuk pajangan di dinding orang tak berperikesingaan sebaiknya mereka mencoba raja singa untuk tahu sakitnya hatinya singa, dan gajah pula meninggalkan gadingnya untuk jadi pajangan orang tak berperikegajahan, sebaiknya mereka berkaki gajah untuk tahu sakitnya tercerabutnya gading gajah.

Begitu pun panggilan, teman saya ada yang dipanggil Ee, aduh saya sangat penasaran atas panggilan itu, dan ketika iseng membaca tumblr miliknya, ternyata alasannya singkat, karena keisengan saja menulis di akun game onlen, dan seterusnya teman-temannya memanggilnya demikian, dan ketika ditanyakan itu kenapa dan bagaimana? “Biar cepet aja,” jawabnya. Dan panggilan itupun tertera lama sekali, sehingga sekarang nama itu saya ganti di phone book hp saya, secara sadar saya tak ingin memanggilnya demikian, namun kadang kala saya tak sadar.

Panggilan Giles sering sekali saya dengar, terkesan nama orang luar negeri bukan? Dan ternyata bukan, panggilan jajaka asal Bubat itu ternyata adalah akronim dari namanya, bilangnya sih itu teh singkatan, salah! Itu mah akronim, makanya! Sering baca KBBI.

Oh panggilan! Oh panggilan! Kadang kala membuat saya aneh dan sempat berpikir keras untuk sebuah makna, namun, ketika saya bertanya tentang makna nama saya ke ibu saya, “Apalah artinya sebuah makna dari nama, jika bukan dari cerminan dari sikapnya,” ujarnya singkat.

Kadang kala, nama merupakan sebuah doa yang mungkin akan dipikul seharian, dan mungkin saja jika ada orang yang ingin anaknya sepeti Abu Jahal ia akan menamakannya Abu Lahab, dan mungkin juga akan menyingkatnya Ajahal ataupun Alab, sepertinya paragraf ini itu tak penting.

Namun ini sepertinya penting, begitu pun dengan analogi nama, menulis pun demikian, tanpa judul tak akan tahu seperti apa penulis ingin mengungkapkan grand design dari tulisannya, jika benar mungkin akan diamini pembacanya, begitu pun jika salah akan dipertanyakan pembacanya.

Untuk pembaca dimulai dari Judul, dan kemudian diakhiri oleh titik di akhir paragraf, namun untuk penulis yang ingin mengungkapkan grand design pikirannya, bisa dengan berbagai cara, tergantung tiap kata yang ingin ditulisnya dan begitu pun untuk urusan nama dan bersikap.

*diketik malam-malam untuk mengisi waktu senggang

Untuk menulis hari Sabtu dan Minggu

Beberapa jam lalu, masih berupa kertas kosong yang atau lebih tepatnya halaman yang masih kosong saja, belum tahu harus memulai dari mana cerita pendek ini, cerita di hari Sabtu dan Minggu yang membuat beberapa pemikiran saya berubah.

Saya kira, saya ini orang yang paling terlambat datang dipagi itu, pagi Sabtu yang cerah di bulan Desember, Commonroom sudah saya jelang, dengan jarak yang lumayan jauh juga, jika Banjaran hingga Buah Batu saya tempuh dengan 32 kilometer dan mungkin jika ditambah lagi Buah Batu ke Dipati Ukur mungkin ditambah 10 kilo lagi untuk menggenapi jarak yang saya tempuh untuk datang ke Commonroom.

Ternyata saya tidak terlambat, karena workshop tersebut belum dimulai, dan untungnya saya bukan orang yang paling terlambat, picik juga pikiran saya, masih terlambat tetap merasa untung.

Acara workshop tersebut, ialah kerjasama Pemerintahan Kota Bandung dengan Commonroom dan The Illuminator, dengan fokus pembuatan desain, produksi dan pemasaran merchandising band. Pokoknya lebih tepatnya semua tentang merchandising band, tapi lebih fokus pada band yang sifatnya underground atau lebih tepatnya metal dan sejenisnya, pokoknya unrated di masyarakat awam, soalnya stigma yang dibangun ialah kesan yang keras, cadas, sadis dan kekejaman.

Commonroom, ialah ..... apa ya? Saya sendiri tak tahu secara detail apa itu Commonroom, ya sepertinya seperti organisasi NGO atau LSM aja yang biasa ada di Bandung dan bergerak dalam bidangnya, apa ya bidangnya? klo diringkas, tentang kreatifitas pokoknya mah.

Dan pemerintahan, ya pemerintahan pada awamnya, yaitu donatur uang lah untuk kegiatan-kegiatan seperti itu, ya seperti pemerintahan yang memerintah saja, namun ini perintah yang enak menurut saya, belajar.

Dan The Illuminator ialah kelompok ilustrasi skala nasioal dan internasional yang keren sekali.

Acara workshop dimulai dengan bagaimana membuat sketsa, namun terlebih dahulu membuat riset seperti apa klien kita, pokoknya seputaran klien kita, kita? Lebih tepatnya target, soalnya itu saya berperan sebagai saya saja. Dalam mememuhi permintaan klien sebaiknya mengetahui karakter yang ada dalam klien semisal, aliran musik, karakter bermusik, bahkan mungkin keinginan yang lebih spesifik dari klein seperti ingin ini ataupun ingin itu.

“Memang sih terkesan kejam, namun gambar kami tak lebih kejam dari mereka yang melakukan kekejaman lebih nyata dibanding gambar,” ujar kang Dinan.

Dalam workshop tersebut diputuskan untuk memilih band yang memiliki aliran deathcore, dari penjelasan om, bang, kang atau apa ya? Saya harus menulisnya, mending kang Dinan saja, ia memutuskan bahwa tema yang diusung ialah teologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari ketuhanan, tuhan? Awalnya saya bingung bagaimana menggambarkannya, sangat absurd sekali menggambarkan tuhan, menggambarkan? yang manusiapun tidak diperkenankan untuk melihatnya, namun ketika sub tema mengacu pada agama, ternyata yang digunakan ialah simbol-simbol agama, dan yang menjadi fokus simbol agama pagan.

Aduh! Saya sepertinya habis babak belur dalam urusan menggambar tangan, sepertinya gambar saya yang paling amburadul, aduh menyedihkan sekali saya, tak pede dengan karyanya sendiri.

Setelah didapat sketsa gambar maka gambar ditransfer ke komputer, ya maksud saya ke program yang mendukung untuk proses selanjutnya, yaitu inking, karena sketsa yang ada dalam gambar kertas masih berupa garis halus, sehingga selanjutnya dibuat garis yang lebih tegas dalam photoshop, ada anekdot menarik, “Selama ada photoshop tak usah takut wajah goreng, karena semua masih bisa diedit,” ujar orang di samping saya, benar juga. Dari garis yang terkesan semena-mena, ternyata setelah dibuat garis tegas, gambar lebih terlihat jelas.

“Enaknya pake pen tablet aja, biar lebih gampang,” kata Ridwan Bulldog.

Selanjutnya garis tersebut diwarnai, atau lebih tepatnya coloring atau pewarnaan dan shading, sehingga diketahui bagaimana membuat warna yang diawali oleh warna tua dan diakhiri oleh warna terang sesuai arah pencahayaan yang dipilih untuk gambar tersebut.

“Klo mau mewarnai liat aja cermin, jadi tau arah cahaya sama sudut pandangnya,” kata Bobby disela-sela ia mewarnai

“Geus lila nya bob?” kata Dinan

“Heeuh euy,” timpal Bobby sembari terus mewarnai

Selanjutnya, ialah kami hanya memperhatikan sedangkan yang lain menggambar saya memilih untuk menulis saja, soalnya saya taluk untuk gambar ilustrasi seperti itu, saya mending pakai gambar blok dari corel dan hidup vektor!

Sayapun pulang di hari Sabtu, ditemani gerimis dan malam ini akan ada gerhana bulan, sepertinya saya harus menyolatinya.

Bangun pagi di hari Minggu memang terkesan menyenangkan, ternyata tidak terlalu menyenangkan, karena saya kesiangan, maaf sepertinya paragraf ini tak penting.

Jika tak salah saya sampai di Commonroom itu 09.51 atau lebih kurangnya tergantung jam masing-masing yang dipercayai itu menunjukan waktunya, ah panjang. Dan ternyata acaranya juga belum mulai, melihat jadwalnya sih jam sembilan, namun sepertinya ngaret lagi.

Acara dimulai dengan meneruskan bagaimana coloring dihari kemarin, dan kemudian ialah menyablon, jujur saja, dari semua rangkaian selain pembagian baju, proses penyablonan ini yang menarik, terlebih lagi menggunakan cat sablon minyak, sering disebut plastisol atau apalah itu nama aslinya, pokoknya keren ternyata tak asal sablon saja, harus presisi bagaimana menempatkan gambar, jika melenceng sedikit saja maka silahkan dapatkan hasil gambar yang nyengsol.

Setelah disablon diteruskan dengan dikeringkan, saat itu menggunakan hot gun atau apalah itu namanya bisi salah nulis, dan selanjutnya terlihat kepulan asap tipis disela-sela gambar, dan bau seperti yang sedikit terbakar.

Menarik, sungguh menarik karena menggunakan meja banting, disebut meja banting karena ya memang gampang untuk dibanting, apalagi jika orangnya suka membanting meja, kayaknya cocok.

“Klo kualitas kita bagus, kita ga usah cari-cari konsumen, biar konsumen cari-cari kita,” ujar Popo

Meja dilem rapat, sama lem, ya ialah pake lem masa pake remeh, did you know what the meaning with remeh? Remeh itu ceceran nasi yang tergeletak tak berdaya dan tak dipilah untuk dimakan, kayakya paragraf ini ga penting juga.

Selanjutnya diskusi, ya seputaran memasarkan produknya, ada perwakilan dari Mocca Mercahandise dan Crossover dua pihak itu bergelut di bidang merchandising band yang sangat keren menurut saya, karena keren saja dan tak ada alasan lain.

“Promosi ialah investasi,” kata Sevty Crossover

“Data base pembeli ada uang, karena mereka adalah pembeli paling potensial,” ujar Wansky dari Mocca Merch

Dan setelah banyak coffebreak yang mengisi waktu luang saya, dan tentunya orang lain juga ikut makan, masa saya makan sendirian, kan ga adil untuk peradaban, dan terima kasih karen makan yang enak telah sempat kami makan.

Selanjutnya setelah dibagi bajunya, ya maksud saya baju hitam yang bergambar keren, yang saya pakai ini sepertinya harus segera didokumentasikan, saya dan banyak orang berfoto bersama.

Terima kasih banyak atas ilmunya, semoga ilmu yang dibagikan itu bermanfaat sangat, dan menjadi amalan baik untuk semuanya, demi peradaban yang lebih baik tentunya demi kelangsungan karya seni kreatif yang indah.

*diketik dengan jari, setelah makan kwetiaw yag tak kalah enak dari menulis sembari senggang

chat malam ini part 2

berikut juga chat sama jurnalis handal jua, seorang jurnalis dari rancaekek, seorang guru mengaji juga, tapi ini mengaji soal agama islam, dan tak lupa ia menjadi pemilik UAng di SUAKA, lembaga pers yang keren.

Godi Rangga

halo yang banyak uangnya1

Sopi Aja

ahahahha

amiin

puguh da naon

Godi Rangga

menteri keuangan nich

giman kabarnya meni awis tepang

Sopi Aja

hehhe nya

tara ikut rapat

soalna malem

pulangna malem pisan

didieuna lg kerusuhan

jd takut pulang mlm

Godi Rangga

wah aslinya ada kerusuhan?

Sopi Aja

iya lagi perang antar kampung, cuma yang punya kepentingan aja

Godi Rangga

aw, parah dongs

kamu ikutan ga?

Sopi Aja

ikutan dong

paling depa bawa pacul

hahahha

Godi Rangga

wah asik tuh pasti bawa benih sekalian

asal jangan libatkan para santri cilik itu

hehehe

Sopi Aja

ih digiring juga

mereka disuruh baca sholawatnya

hehe

Godi Rangga

aw! mau dong disholawatin....

udah ada lowongan buat jadi wasik kerusuhan gag?

Sopi Aja

hahahahaha

wasik naon?

Godi Rangga

aduh salah ketik wasit maksudnya?

Sopi Aja

hahahha

Sopi Aja

ada si mang unang

Godi Rangga

aw! munduh ah klo udah ada mah

berarti saya jadi bek aja

wkwkwk

Sopi Aja

ya okok

hahahha

Godi Rangga

kenapa bisa ada kerusuhan kayak gitu bu?

Sopi Aja

biasa orang2 kampung... hehehe

ga mau pada kalah

tp bukan daerah pi

kampung belkang

Godi Rangga

keren pasti itu masalahnya prestasi pendidikan gitu ya?

Sopi Aja

gubrakkkk

hahaha

jegerrrrr ini mah

Godi Rangga

wah pasti jegernya itu seorang propesor ilmiah yah?

Sopi Aja

hahahhaha gokiiiil mun aya nu kitu mah

Godi Rangga

curiga ada konplik plagiasi inimah?

pastinyah

Sopi Aja

hohoho ah

dan ketika tulisn ini dibuat semoga kerusuhan segera berakhir indah.

*diketik dengan tergesa-gesa, tunduh!

7 Desember, Dengan kemenangan mutlak Persib

Udara Bandung Timur terasa sejuk di tubuh ketika jaket hitamku mulai kubuka, sejuk sekali, mungkin karena sejak perjalanan dari Banjaran hingga Buah Batu tak aku buka sehingga panasnya mulai membuat keringat keluar dari kulitnya.

Ada yang menyengat di kaki sebelah kanan, sinarnya membuat kaki kananku terasa tak nyaman di perjalan tadi, mungkin karena sendal yang aku pakai membuatku keadaan sedemikian rupa, sedemikian panasnya hingga aku tak tahu bahwa waktu sudah dekat menuju jam dua siang.

Motorku berhenti di kosan temanku, sebuah tempat kosan yang unisex ya, maksud saya ada bagian untuk para wanitanya dan ada bagian untuk para pria nya, sedangkan temanku itu berkelamin pria, mungkin, ya mungkin saja karena aku tak tahu apakan Rivan atau Fadlan atau Anggun itu seorang lelaki tulen.

Sedari awal aku ingin sekali membawa data yang aku buat di garut beberapa hari sebelumnya, sebuah artikel sebagai kado pernikahan temanku, ya perikahan pertamanya, dan semoga menjadi pernikahannya yang terakhir, aamiin!

Di depan bengkel terlihat fadlan dengan seorang wanita, aku lupa wanita itu siapanya, mungkin selingkuhannya atau pun juga mungkin ia itu seorang teroris yang telah menteror hati temanku, dan aku ungkapkan bahwa aku inginkan dataku yang telah aku buat itu, ternyata datanya dibawa oleh laptop milik pacarnya, dan setelah beberapa kata terucap, akhirnya ia akan membawa laptop tersebut ke kosannya Anggun.

Dalam ruangan kosan itu, terkesan sangat muram, mungkin karena suasana yang acak-acakan dan buku yang berserakan, ditambah lagi tata cahaya yang sangat minim, sehingga aku sebaiknya kategorikan itu ruangan tak bercahaya.

Rivan terlihat aneh dengan bajunya yang mirip penyanyi dangdut, sedangkan Anggun sedang asik menonton film, jika tak salah ingat judulnya Knight Day, ataupun apalah nama judulnya? Tak jadi masalah untukku, dan sembari menunggu Fadlan aku menonton film itu juga, dan ternyata lumayan rame, untuk sekedar melepas kejenuhan.

Tak lama berselang, Fadlan datang dan membawa data tersebut, setelah aku dapatkan data yang aku inginkan akupun pamit pulang ke SUAKA, ya itu loh tempatku dulu suka diam, tidur dan melamun, ditambah lagi sepertinya hujan akan turun dan film sudah usai.

Sekre SUAKA aku jelang, ada Hamdan sedang asik di depan layar komputer, dan tak lama berselang Nasrulpun datang, dan mulai curhat, sepertinya tak etis aku sebutkan curhatannya terhadap temannya, dan aku enggan untuk mendengarnya sehingga akupun segera mau cari eskrim, ditambah lagi entah mengapa aku mulai suka es krim sekarang-sekarang sehingga kadangkala, jika sempat beberapa es krim apa itu lupa lagi mereknya aku cicipi.

Menuju sekre SUAKA sepertinya ada yang aneh sekarang itu, oh ya hari ini katanya laporan LPJ PJMTD, ituloh kegiatan rekruitmen anak baru SUAKA, kegiatan yang pendek menurut saya, dan mungkin itulah yang mereka inginkan, tapi semuanya telah terjadi dan selanjutnya tinggal ikhtiar yang terbaik.

Saya menunggu Resita, ituloh, mahasiswa jurnalistik semester lima jika tak salah itupun ungkap Ojan ketika saya bikin tulisan ini, ia minjam jas hujan yang saya miliki, katanya ia ikut Taekwondo atau Karate ya? Pokoknya yang aku ingat itu beladiri pokoknya, keren sekali ungkapanku untuk hal itu, namun lebih keren lagi jika ia konsisten dengan SUAKA dan beladirinya karena semua hal pasti berkesinambungan.

Tak lama Nirra datang, entah mengapa ia ujug-ujug curhat, curhat klo ia .... ah takut marah juga klo ditulisnya, klo mau tau mah ya konfirmasi aja sama Nirra nya, tapi saran saya mah semua hal ada konsekwensinya, ada positif dan ada baik buruknya, kayak lagu Efek Rumah Tangga, Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Heideggerian bukan?

Adapun jika pakai nihilisme, semuanya juga akan mati, dan hidup itu hanya bernafas, dan sebagai penyempurna bernafas dengan ibadahnya.

Kata Nirra ia kan nonton teater di STSI, dan mungkin juga aku pun demikian, soalnya aku ada janji nganterin barang ke UPI, dan mungkin akan nyimpang ke STSI.

Akupun pulang, setelkah membawa barangku yang ada di Resita, dan sore hari ketika PERSIB menang aku menuju STSI untuk menonton teater, kesanku lumayan, mungkin karena aku telat, dan ketika pulang aku lihat banyak anak SUAKA, ada Nirra, Miko, Alin, Pitiw dan Sri, dan Iqbal, namun sayang Nirra tak seriang di sekre SUAKA tadi siang, sepertinya ia sedang bersedih, dan semoga sedihnya tak lama, karena hurup sedih lebih sedikit dari hurup yang dikandung senang, dan aku sarankan pilihlah hurup yang terbanyak.

Karena hidup itu hanya mengisi waktu luang, dan waktu luangnya terserah yang meluangkan waktunya.

*diketik dengan senang hati

13 November, setelah pulang dari Cibiru

Hari ini kampus saya seharusnya bersedih, ya seharusnya menurutku tentunya, tadi pagi sudah banyak oang di kampusku yang aku kira akan adanya suatu acara beberes kampus seperti apa, ataupun banyak juga para pekerja bangunan yang mengerjakan bangunan kampus kami dengan wajah yang sedikit dipermak, tanpa merubah fondasi awalnya.

Oh ya, hari ini aku disuruh ke kampusku oleh Nia, nama aslinya jika tak salah Sonia, atupun mungkin itu salah, salah sebut eh tulis atau apalah kepanjangan nama itu mungkin Niaaaaaaaaaaa, panjang kan? Ia itu seorang Pemred di SUAKA, itu loh SUAKA tempat aku menimba ilmu secara otodidak dan bagaimana menulis dengan baik dan tentunya bagaimana bersikap.

Sejujurnya aku sudah mulai bosan ke SUAKA, yang aku lihat banyak produk jurnalistik tergeletak dan acak-acakan, ditambah lagi kesan dari debu yang menempel di bagian lainnya di SUAKA seolah SUAKA hanya menulis tanpa melihat apa yang dilakukan untuk rumahnya, saya sadar saya tak lebih baik sewaktu saya masih menjabat sebagai anggota yang entah dikategorikan aktif, namun mungkin hal ini yang saya rasakan saat ini, dan mungkin saja saya itu bukan orang pertama merasakan kebosanan ini.

Saya bosan dengan kultur di SUAKA sekarang, sudah jarang adanya diskusi keilmuaan, ya sekadar berbagi ilmu yang berbeda dari perfektif keilmuan yang berbeda pula, namun mungkin karena mayoritas itu jurnalistik sehingga berbagi ilmu hanya menyangkut jurnalistik saja, yang saya pandang untuk menjadi seorang jurnalis memerlukan ilmu lain tak hanya jurnalistik karena jurnalistik hanya mediasi, tempat, media sebuah ilmu bisa didapat dari produknya, atau pun mungkin bukan karena hal itu dan masih banyak hal lain yang membuat gundah belakangan ini, ditambah lagi karena saya hanya memantau dari jauh dari kabar di SMS ataupun kabar di internet saja sehingga parsial ataupun saya hanya memberikan pandangan atas prasangka saya saja.

SUAKA baru saja punya rumah baru, di tempat yang baru, jika tak salah namanya Dua Saudara, tapi jika salah pun tak apa menurutku, karena dulu aku kenal itu sebagai tempat ma'had dari Psikologi, ya menurut Iyan temanku itu begitu. Sebuah lingkungan yang terkurung dikelilingi oleh tempat UKM lainnya, sangat khas dengan kosan mahasiswa, namun dengan sekejap disulap jadi tempat para mahasiswa berkarya,maksud saya berkarya sesuai dengan minatnya.

Oh ya SUAKA punya dua ruangan, kata Miko sih itu tempatnya teater, namun teater minta satu rumah saja untuk tetap berkarya di bidang dan minatnya, sehingga sekre SUAKA punya dua kamar, dan tetangga kami sedari dulu, ya maksud saya KOPMA, sepertinya penulisannya harus Kopma saja, soalnya itu akronim, jd kembali ke topik Kopma, Kopma punya tiga ruangan tepat di sebelah kiri ruangan SUAKA.

Tepatnya ruangan SUAKA itu nomer 11 dan 12, ruangan sebelas itu penuh dengan barang-barang yang materialnya kertas, sedangkan yang satunya lagi ruangan dengan empat kursi dan satu bangku panjang yang muat untuk duduk berempat, tentunya dengan tertib jika duduknya.

Oh ya, barang mahal di SUAKA bertambah, yaitu dua buah WC dalam berbeda kamar, dua-duanya ada airnya, ya maksud saya airnya mengalir tanpa adanya intervensi dari saluran air lainnya, saya sendiri senang untuk ada di WC tersebut, karena untuk sebelumnya harus numpang ke WC samping Mahapeka yang selanjutnya tak enak ketika harus mengantri lama dan seterusnya mengotori lantai yang sudah dipel oleh mereka, semoga saja yang pakai WC di sekre yang baru tidak jorok, dan lebih bisa bersyukur.

Beberapa hari yang lalu, aku bersikeras untuk tidak ke SUAKA, entahlah perasaan ini sepertinya tidak nyaman untuk ke SUAKA, seolah saya harus mundur secara teratur dari SUAKA, untungnya SMS dari Ojan memberikan pilihan untuk menjadi anggota non aktif dan selanjutnya saya menjadi anggota yang non aktif yang saya pilih di sela-sela kesibukan saya yang lain.

Terus terang, saya sudah ingin non aktif sedari beberapa bulan sebelumnya, mungkin karena kesibukan saya sendiri dan lain hal, ditambah lagi perasaan bersalah karena mangkir dari tugas jurnalistik ketika saya perhatikan, saya tidak memberikan perubahan yang berarti untuk SUAKA, saya malu jika hanya jadi benalu, hanya bisa berdiam diri di SUAKA, tidur di SUAKA, makan di SUAKA, dan tidak memberikan hal yang berarti untuk SUAKA, saya kira seharusnya saya mulai ditegur sejak saya jadi anggota oleh Wicaksono Arif, dan dimarahi oleh Miko ketika Miko jadi Pemred, dan seharusnya saya dicerca Fikri dan Agus yang tidak bertanggung jawab atas kelakuan saya di SUAKA, untuk sekedar saran mungkin pernah terlempar dari mulut teman namun sepertinya sanksi sosial jarang terjadi di SUAKA.

SUAKA kini menjadi perhatian saya, ketika mulai dana di SUAKA mulai kering, saya perkirakan jika hanya menganut pada mesin cetak maka SUAKA tak akan maju lebih baik, karena kadang saya berfikir produk yang bagus tidak berarti isinya itu bagus. Sehingga saya lebih tertarik dengan SUAKA yang difotokopi saja, ketimbang hanya menjadi sampah dan terlupakan siapa yang telah membuatnya, siapa yang menulisnya, ataupun siapa yang cape untuk mencetak produk jurnalistik yang disebut, majalah, dan tabloid.

Bahkan untuk alat produksi, printer HP yang bagus itu raib, untuk rencana Print On Demand pun hancur, karena kelakuan orang tak bermoral, telah meraibkan printer SUAKA, ketika mendapat SMS dari Nasrul pun, saya mulai curiga ada yang aneh di SUAKA, ditambah kabar dari Miko, Raibnya Printer membuat saya sedih, terlebih lagi kultur untuk menjaga barang di SUAKA sepertinya sudah mulai luntur, sekarang kamerapun tak punya, rekorder entah kemana, dan hal paling tak disukai pun datang. Menuduh.

Dua buah, lemari tersisip di ruangan sekre SUAKA yang lama, entah punya siapa itu lemari, dan entah mengapa ada di sekre SUAKA, dan tentunya barang yang pernah aku buat bareng Miko dan Wicak, sebuah rak yang mungkin tak berharga lagi sehingga harus ada di sekre SUAKA yang lama, dan aku sarankan ke Nasrul untuk membawanya, namun entah mengapa perasaanku Nasrul malas untuk mengangkut rak buku itu.

Setelah kenyang, dengan beberapa suap nasi, dan ketan tentunya, yang hadir di siang hari sebelum hujan Nasrul, Bayu, Riza berpulang, saya dan Miko duduk-duduk saja, sembari menonton Film dan beberapa video unggahan dari Youtube, tak lama Hamdan dan Ojan datang, dan sebelum hujan hadir lagi, saya sebaiknya harus pulang.

Tiap generasi punya masa yang dibatasi, dan saya sadari hidup saya bukan hanya di SUAKA saja, mungkin sebentar lagi saya akan hadiri pernikahan Ratna di Cianjur ataupun acara Miko meminang seorang pilihannya, Elli, Lina dan teman lainnya.

Dan waktu muda pun berangsur dewasa, SUAKA akan tetap menulis.

Mudah mudahan SUAKA pindah ke tempat yang baru membawa hal yang baru juga, dan kebiasaan buruk di sekre yang lama segera hilang, Aamiin!

*sehabis hujan reda, dan kemenangan mutlak Tim Sepak Bola Indonesia.

*ditag ulang, maaf mic, komentar terdahulu dihapus dan belum dibaca semuanya

*ketika saya rasa proses tag-tag an akan berefek buruk maka saya rasa dihapus saja

Buat Nyi Vinon

Tadi pagi saya khatam baca bukunya Nyi Vinon, secara keseluruhan saya anggap semuanya keren, bahasa yang bertutur, sangat subjektif, bahkan terlalu personal untuk ditulis sebagai rangkaian cerita hidupnya.

Dari halaman awal, bahasa yang diusung sangatlah bertutur, naratif, sehingga terkesan teratur, namun setelah membaca halaman demi halaman, banyak keteraturan berubah menjadi acak-acakan, kembali ke masa lalunya dan dalam sekejap kembali ke masa ‘tidak terlalu’ lalu baginya.

Jika menurut tulisannya, namanya Vinondini Andriati, namun ketika saya baca di bukunya ada yang janggal juga, kenapa saat gurunya di Aussie memanggilnya Miss Effendi? Nah mulai dari situ saya anggap ini buku hanya karangan saja, atau lebih lengkapnya cerita fiksi bagi saya sendiri, namun mungkin bagi mereka yang tahu siapa itu Nyi Vinon akan menganggapnya sebagai kenyataan karena dia awal ini dibuat sebagai Otobiografi, dengan alasan saya, saya tak bisa membedakan ini based On True Story atau bukan, meskipun ada literatur lain sebagai lampiran keterangan, tapi saya tetap tidak mengerti di bidangnya sebagai Arsitek.

Namun secara garis besar banyak pemikiran-pemikiran bu Vinon yang saya rasa keren, mulai dari argumennya yang terkesan blak-balakan, hingga menyembulkan hal yang kadang tabu dalam kemasan tulisan yang terkesan peminim, ketika saya perhatikan lagi, kebanyakan mengarah pada sisi kewanitaannya, tentang inilah tentang itulah, dan hampir mayoritas tokoh yang disebutkan atau berperan penting dalam bukunya itu perempuan.

Saya sempat kaget, ketika membaca, ketika Vinon tidur dan ibunya menyuruh makan, “Kamu boleh ga solat asal jangan ga makan,” soalnya berbeda sekali dengan keluarga saya, ibadah yang dijunjung tinggi, dan kemudian makan nomer keduanya jikalau sudah sholat, namun ketika saya perhatikan itu adalah ungkapan yang cerdas dalam mengungkapkan suatu kondisi, ketika bangun biasanya akan lebih sadar yang mana yang wajib dan yang mana yang sunah, dan mungkin saja pilihan setelah makan itu adalah sholat.

Banyak cerita yang saya ambil hikmahnya dari bukunya Nyi Vinon ini, gambaran akan mahasiswa Itenas, yang sempat dulu di pikiran saya jika terdengar kata Itenas, itu Ospekannya yang gahar dan Film karya mahasiswanya yang membuat Bandung lautan asmara, dan sekarang saya akan lebih ingat bahwa Itenas telah memberikan alumni yang membuat karya sebuah buku otobiografi, sebuah karya yang secara tak langsung memberikan saya pandangan lain untuk Itenas.

Terima kasih atas karyanya yang keren, semoga menjadi hal baik untuk renungan hari ini dan esok kelak.


*diketik untuk apresiasi saja buku yang bagus yang telah berpindah tangan ke tangan yang mungkin nanti saya akan genggam secara halal