Selasa, 10 April 2012

Ciwidey, bulan Desember

Motor saya telah melaju ke Soreang, tugu bapak-bapak yang bawa bedil juga telah saya lewati, dan udara dingin pun menjadi teman seperjalanan yang asik di Selasa malam waktu itu.

Sebetulnya saya harus di Cibiru namun karena ternyata saya sudah berjanji akan datang, maka saya tidak bereskan lay outan garapan saya dari Miko, kau tahu Miko, ia itu jurnalis mahasiswa dulu, ya sekarang ia sudah lulus dan bekerja di Mizan.

Sebetulnya hanya tinggal cover, iklan-iklan fiktif, dan halaman, dan mungkin jika ingin materi baru, maka silahkan sajaisi, semuanya sudah ada tempatnya, tinggal masukan halaman dan disusun, Miko pasti tahu hal itu.

Karena, hal itu juga saya ke Buah Batu, mengantar orang tua saya pergi ke Cikutra, sepertinya ia ada keperluan dengan BRI di sana.

Sepertinya sore mulai menjelang ketika telepon saya hidupkan, dan terdengar suara merdu di ujung sana, namun beberapa dering telepon lainnya membuat aneh percakapan dan sebaiknya saya sudahi.

Banjaran kami jelang, dan setlah makan dulu di Rengas Condong, perut saya sepertinya sudah nyaman lagi, sebelum sampai ke halaman rumah, saya baru ingat kalau motor saya sudah diisi bensin.

Setelah bermodal ijin dari orang tua saya, saya pergi menaiki motor saya, dan Pasir Jambu saya jelang. Alamat di SMS menunjukkan Cikeurteuw, aneh? Ya itulah ungkapan saya yang pertama, dan ternyata sulit juga untuk dapat alamat itu.

Bangunan tingkat dua, sudah di depan saya, dan saya naiki tangganya, dan terlihat Upi sama GIles sedang memegang mic, mereka mengucapkan selamat datang ke saya dan saya pun menerima selamatnya.

Setelah bersalaman seperlunya, saya pun makan jagung hangat, dan saya berterima kasih untuk yang menyediakan makanan dan minuman yang ada.

Acara itu, hari itu maksudnya, adalah liburannya anak-anak? Eh bukan para peserta teater Bohlam, ya mereka kan telah dibagikan raportnya, sepertinya mereka bosan untuk sekolah dan ingin keluar rumah, meninggalkan rumahnya dan beberapa hari kemudian mereka pulang lagi.

Saya tak bisa lama untuk pegang mic, saya hanya ucapkan beberapa kata selamat yang tidak penting untuk pilihannya, dan karena jika lama saya pegang mic, saya sepertinya akan segera diusir oleh pihak keamanan setempat.

Dan acara pun berlangsung, ada yang nyanyi dan ada juga yang bernafas, ada yang duduk-duduk saja, dan ada yang ngomong terus kayak Giles dan Upi, sepertinya saya harus jumroh untuk menghentikannya, namun saya tak lakukan itu, karena mereka saya kasihani.

Setelah usai, saya harus tidur sepertinya dan malam itu sangat panas, soalnya saya menggunakan SB, dan ketika mereka asik berisik, saya tidur.

Saya mulai bangun ketika mereka ingin tidur namun sepertinya saya tidak bisa, karena waktu Shubuh telah datang dan setelah lama meracau. Mereka akan segera tertidur pulas. Dan saya pun demikian.

Setelah senam pagi pakai doa bahasa arab sekalian berterima kasih kepada Alloh SWT karena telah memberikan Shubuhnya, sepertinya saya harus segera pulang karena ada janji yang belum saya tepati, mengantarkan barang ke Pak haji Arif untuk segera dibordir.

Hujan telah turun dan udara dingin menemani percakapan pagi dan sebelum pulang, saya pamit dulu.

*diketik pagi-pagi

Menentang keren

Kemarin ada pembicaraan menarik di SUAKA, tentang ‘keren’ yang menjadi korban konteks dan dijajah teks itu sendiri.

ke·ren /kerén/ a 1 tampak gagah dan tangkas; 2 galak; garang; lekas marah; 3 lekas berlari cepat (tt kuda); 4 perlente (berpakaian bagus, berdandan rapi, dsb)

Banyak persepsi bagaimana ungkapan keren itu datang, namun Ojan sepertinya terjebak pada bagaimana kata keren terpatok oleh tren yang berlaku, yang pake BB itu keren, yang pake ciput warna-warni itu keren, yang pake highheels itu keren, yang pake rok mini itu keren, dan bagaimana tren mengubah paradigma kesederhanaan itu hancur secara diam-diam.

Saya sekarang mengerti, mengapa Ojan memilih kata tersebut sebagai acuan dari tullisannya, sepertinya ia cemas dan tidak mau kesederhanaan menjadi rusak oleh hal-hal yang berlebihan, dan sikap berlebihan di UIN ataupun di Indonesia menjadi tren yang akut.

Saya artikan keren itu sebagai ungkapan untuk hal yang bukan menjadi kebiasaan awam, satu hal yang lebih dari hal-hal lainnya, satu pencapaian yang ada dalam batas wajar.

Secara tak langsung, saya sering ungkapkan keren untuk hal yang positif maupun negatif, saya ungkapkan keren untuk Hitler dan Fir’aun, karena keberaniannya, walaupun itu salah namun keberanian adalah hal lebih dibanding manusia pada kaumnya saat itu. Bukan berarti saya mendukung keingkaran, namun itu hanya ungkapan saya terhadap Hitler dan Fir’aun.

Saya sering menganggap keren Otong KOIl dan semua bagian dari band KOIL, karena saya suka semua lagunya, bukan berarti saya ingin menjadi seperti Otong atau pun anggota KOIL lainnya, ini masalah karya. Mereka berkarya di jamannya yang berbeda dengan tren yang ada saat itu, metode sampling kala itu belum terjadi namun KOIL berani untuk bereksperimen.

Suatu kelebihan yang berani melawan keinginan pasar menurut saya adalah satu hal yang keren, namun tidak berlebihan, karena semua menurut saya ada batasannya, ketika kata sangat, pisan, sekali, banyak, dan semua kata yang bersanding dengan kata lainnya yang mengindikasikan kata ‘lebih’, menurut saya akan kalah dengan kata ‘maha’ yang semuanya berujung pada Alloh SWT dan saya yakin manusia disempurnakan dengan keterbatasannya.

Begitu pun dengan tren

tren /trén/ n gaya mutakhir;

me·nge·tren a bergaya mutakhir; bergaya modern: muda-mudi dng telepon genggam di tangan ~ dewasa ini

tren diasumsikan dengan kecenderungan, jika itu menurut ilmu statistika, dan jika menurut ekonomi tren dipandang sebagai persilangan antara permintaan dan penawaran dalam kurun waktu tertentu.

Menurut saya tren itu ada rentang waktunya dan semuanya berlaku, syarat dan kondisi, mungkin saja sekarang itu dikategorikan ‘keren’ untuk mereka yang berbehel, berBB, berciput warna-warni, berhighheel, ber apapun, namun itu ada rentang waktunya, karena semua hal itu tergantung kebutuhan dan kemampuannya.

Jika berbehel itu tidak disertai kemampuan akan menyusahkan dirinya sendiri, dan begitupun berBB jika tak punya uang ya selamat mencari uang, ber hak tinggi selamat keseleo, dan hal lainnya.

Saya kira tak bisa memaksakan bahwa persepsi kolektif harus menjadi persepsi personal, karena persepsi itu hadir dari rembukan konsensus.

*diketik siang hari

Teruntuk Reinanissa Pratiwi

Jikalau kau tahu,

Sesungguhnya saya menyesal melihat pipimu harus memerah

Karena tetesan air yang tak lama menetes dari matamu yang lelah

Bukankah kau beberapa waktu tadi ceria itu sempat datang

Jikalau kau tahu,

hidup itu bukan pada angka dan penilaian dalam buku

Hidupmu adalah hidupmu

Dan begitu pun hari esok adalah milikmu sepenuhnya

Sepenuhnya milikmu, dan hanya kau yang bisa merubahnya

Jikalau kau tahu,

Tulisan tangan gurumu, akan jadi sejarah untukmu

Nikmatilah, dan bukan untuk kau sesali

Ketika yang lalu harus berlalu

Begitu pun hari ini adalah milikmu

Hanya milikmu

Jikalau kau tahu,

Kesedihan itu bukan pilihan yang bijak

Bukan sepantasnya pilihan mu yang harus kau pijak

Dan begitu pun esok hari adalah sepenuhnya milikmu

Milikmu sepenuhnya, dan kau hanya tinggal merubahnya

Semoga keceriaan itu datang dengan bijak

Dan kau bisa memilikinya di setiap harinya

Bangun tidur di Banjaran, 25 Desember

Teruntuk Fadlan, Aktivis kampus

Kau tahu Drown? Itu loh judul lagunya The Smashing Pumkins, lagu yang keren pisan! Keren pisan! Saya sangat ingat intro lagu ini, jika waktu itu JAVAROCKINGLAND pas ngundang The Smashing Pumkins, iklannya pake lagu ini, aslinya keren pisan lah ini lagu, eh kenapa jadi ngomongin lagu ini teh, saya kan ingin cerita tentang teman saya.

Saya kenal ia dengan nama Fadlan, begitupun dengan teman-teman yang saya kenal mungkin memanggilnya demikian, cukup fadlan saja, atau mungkin ada panggilan lain yang dimilikinya, maaf saya tak tahu, begitupun dengan panggilan lengkap dari orang tuanya.

Pertemuan kami itu di Garut, tepatnya di sebuah pesantren yang lingkungannya tidak lebih dari dua hektar, semuanya dikelilingi oleh sawah, sehingga kadang serasa ada di sebuah daerah yang terpisah dari lingkungan lainnya, pesantren itu disebuT pesantren Persis No 99 Rancabango.

Rancabango itu nama daerah di Tarogong, itu loh sebuah daerah yang dekat dari Cipanas Garut, dan ketika itu saya tahu itu awal Juni dia awal millenium kedua, santri baru pada berdatangan, sebuah ritus sosial yang menjadi kebiasaan di kalangan Persis untuk meneruskan sekolahnya ke sekolah Persis juga ataupun mereka yang ingin, termasuk saya dan mungkin juga teman-teman yang selanjutnya mengenalku.

Pagi hari yang aneh, ya maksud saya mungkin ini memang yang pertama, kami berjajar dan berbaris, dan berbanjar rapi, yaitu sebuah hari pertama untuk mengucapkan doktrinasi untuk santri takjiziah, ya itulah masa saya melihat rombongan Cicalengka.

Maksud saya rombongan Cicalengka itu adalah Fadlan, Icad, Ahmad dan Hibban, ya mungkin mereka sekeluarga besar sekali sehingga mereka terlihat berjajar rapi, dengan baju krem cerah dan celana cokelat kami mulai berkata bahasa arab yang awal mulanya sangat saya tidak kenal, seolah mantra semua orang hampir menurut kecuali ustadnya.

Fadlan itu orangnya sangat suka untuk berolahraga, ya terlihat soalnya ia sering memakai baju olahraga semisal sepakbola, dan mungkin ia sangat ingat sepatu bolanya yang sangat ia banggakan semasa pesantren dulu, tapi itu dulu, sekarang aku tak tahu jelas apakah ia masih sama, namun dilihat dari ukuran celananya yang besar dan ukuran badannya yang mulai tambun, sepertinya saya sarankan ia kembali berolahraga.

Saya sudah lupa ia duduk di bangku urutan berapa ataupun ia duduk dengan siapa, yang pasti di angkatan kami itu dibagi dua kelas untuk para calon lelakinya, dan satu kelas untuk calon perempuannya, dan aku ikut ke jemaah kelas c, dan Fadlan entahlah? ia masuk kelas mana, aku sudah lupa.

Ia itu masuk ruangan Bukhori, ya maksud saya, karena sistemnya asrama jadi setiap ruangan mempunyai nama dan ruangan yang berbeda pula membuat setiap ruangan tahu siapa teman terbaiknya, dan Bukhori itu terbagi atas 3 ruangan, jika tak salah ia masuk ruangan Bukhori 3, jikapun salah tak apalah juga, soalnya itu kewajaran dan kesempurnaan hanya milik Alloh SWT.

Saya tak tahu jelas tentang kebiasaannya yang baik maupun yang buruk di pesantren, soalnya saya kenalnya sebentar, yang saya tahu ia sangat gencar tentang Isaba, ataupun Ikatan Santri Asal Bandung, mungkin jiwa organisatorisnya sudah terbentuk sejak dari pesantren dulu, hingga ia masuk universitas.

Angkatan saya di pesantren itu angkatan ke 13, kata orang itu sih angka sial, namun pandangan berbeda datang dariku, menurutku, karena aku juga angkatan tiga belas dan bisa lulus, namun temanku yang lain itu angkatan ke 13 setengah banyak yang dominan tak lulus, awalnya aku sangat prihatin untuk itu, namun aku sadar ada hikmah di balik itu, dan Fadlan sangat tahu akan hal itu.

Aku tinggalkan pesantren diawal aku menginjak tsanawiyyah, dan kau tahu, aku sangat berduka akan hal itu, dan mungkin sebagian temanku ada yang berduka, dan mungkin juga mereka ada yang senang karena orang yang selalu menghujat dan mengkritik mereka telah pindah sekolah.

Cibiru terlihat cerah hari itu, ya sadar itu tahun 2007, tahun yang setahun setelah aku lulus au mulai kuliah, atas pilihan sendiri aku masuk UIN, dan hingga sekarang aku belum lulus, dan aku temukan Fadlan sebagi panitia ospekan masa itu dikenal dengan Taaruf, tak kenal maka tak kenalan dan mulai dari itu aku kenalan dengan UIN, baik buruknya adalah rumahku untuk saat itu.

Fadlan itu masuk HMI, itu loh Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus, yang bisa aku pastikan berbuat politik kotor, kayaknya straight ya aku menulis politik kotornya, namun tak apalah, jika ada yang mempertanyakan aku akan jawab sebisa mungkin. Namun aku tak tahu apakah Fadlan ikut politik kotornya ataupun ia akan menjadi susu ditelan nila sebelanga. Entah mengapa aku sangat tidak suka HMI, hingga saat ini pun demikian dan yang paling aku tak sukai adalah kata islam yang dipaksa ikut ke organisasi tersebut.

Jika tak salah Fadlan ikut ke dalam struktur atas di HMI, teman-teman di kampus biasa mengenalnya dengan sebutan hijau saja, bahkan kelakar teman sering menyebutnya manusia hijau atau HULK? Ah itu tak penting, karena Fadlan yang aku kenal itu baik orangnya, atau mungkin juga berpura-pura baik orangnya. Entahlah.

Fadlan sekarang itu ngekost bareng Rivan dan Anggun, teman baik kami semasa di pesantren dulu dan hingga sekarang menjadi teman baik, teman sekosan juga, kosannya juga sangat menjorok ke dalam, ya maksud saya masuk ke dalam beberapa komplek kosan lainnya. Dan itu uniseks.

Oh ya, Fadlan sekarang punya pacar, awalnya saya lupa itu pacarnya, setelah saya ditegur Fadlan bahwa itu pacarnya, saya mulai kembali mengingatnya. Dan saya sadari kelupaan saya. Namanya itu Jewel... apa ya saya lupa, keren kan namanya? disadur dari bahasa Inggris mungkin, dan Fadlan sepertinya nyaman dengannya, semoga menjadi kisah indah di kemudian hari.

Apa lagi yah? Klo ngobrolin Fadlan biasanya tak jauh dari organisasi, demo, pacarnya, pesantren, dan lain sebagainya. Yang pasti semoga Fadlan kembali menjadi anak yang soleh, klo nulis kembali teh asa gimana ya? Seolah ia itu tidak soleh sekarang, namun karena saya tak tahu ia soleh ataupun tidak, maka tak apalah jua.

*untuk Fadlan diketik malam-malam, diedit pagi-pagi sembari senggang

Tracklist sebelum tidur

Di telinga saya sedang berbisik Placebo, “Please don’t die…” ujarnya, memang juara ini lagu Commercial For Levi, dengan dua menit lebih tapi terus teringat klo lagu ini sering dinyanyikan dulu sewaktu SMU.

Track selanjutnya lagu Tourist dari Athlete, “Just wanna be with you…. My baby….” Ujarnya, entah kenapa lagu ini selalu terngiang setelah Wires yang dulu kerap kali menjadi teman sebelum tidur.

Mungkin aku juga akan segera tidur menjelang lagu ni berakhir, namun ada Shoot The Runnernya Kasabian yang belum beres aku perdengarkan, entah kenapa sedari awal aku mendengar lagu ini sangat khas dengan petikan distorsi yang aneh, namun tetap harmonis. Walaupun secara harfiah kata-katanya kasar, namun tetap mengingatkan saya akan The Datsuns.

Ini adalah Camera Obscura, lagu yang mengalun, pastinya saya hapal ini judulnya apa, Lunar Sea, jikalau sering mendengar ini lagu pasti tahu kalo kebanyakan stick drum yang digunakan oleh band ini seperti sapu lidi. Terompetnya pun demikian, halus pisan, tidak seenerjik lagu ska, namun bukan pula bossa ataupun jazz, hanya tiupun panjang pada satu nada. Dan mungkin akan dikenal juga lewat petikan gitarnya yang santai, namun sayang track yang aku miliki sepertinya cacat, sedikit scratch terdengar barusan, atau mungkin juga komputernya, ataupun sindikasi lainnya.

Aku menunggu track selanjutnya, judulnya Heartbeat dari Tahiti 80’s, sayang sekali band ini telah bubar jika tak salah dan beberapa personilnya membuat band yang namanya Fugu, mirip biskuit kan? “Can you feel my heartbet when I close to you…” ujarnya, “Enough for me, is not much for you” ujarnya diawal, selalu terngiang selalu, lagu-lagu masa silam, semasa indah itu sering ada di seragam abu putih.

Lagu Heartbeat belum usia, namun sepertinya track trakhir saya sangat tunggu ialah Pale Saint, judulnya A Thousand Star Burst Open, lagu yang pendek sih, empat menit duapuluh tiga detik jika tak salah jumlahnya, sebuah lagu yang mengalun, saya juga bingung ini postrock atau shoegaze, soalnya kesan yang timbul itu gloomy dan lagunya pun sekarang terdengar, sehingga sepertinya saya harus menutup akhir tulisan ini, sebuah tracklist di malam hari sebelum tidur.

*diketik malam-malam sembari senggang

hari yang biasa aja

hari ini tanggal 22 desember, ya menurutku hari yang biasa aja, namun kenapa sering dianggap hari ibu, sepertinya penghormatan atas ibu itu harus tanggal itu, yang aku tahu penghormatan terhadap ibu itu sepanjang mampu aja, bukan sepanjang masa, jikalau sepanjang masa, mungkin selama hidupnya seorang anak akan mengabdi kepada ibunya, sehingga ia tidak terbebas untuk menjadi orang tua, karena masih terikat untuk tetap mengabdi kepada ibunya, selanjutnya jalan pintas yang ditempuh adalah menunggu masa hidup seorang ibu usai, tragis.

jika saja nabi tak berkata tiga kali terhadap ibu, aku akan tetap berterima kasih untuk ibuku, karena atas segala kebaikannya aku menjadi aku seperti ini, tak bisa menyalahkan, karena dari setiap kekurangannya adalah kemampuannya yang ia bisa lakukan, tak bisa saya paksakan orang tua saya menjadi seperti saya inginkan, dan begitu juga sebaliknya, mereka tak bisa paksakan saya seperti mereka inginkan, untungnya orang tua saya itu pengertian, mengerti seperti apa mendidik anaknya menjadi yang terbaik menurut kemampuannya.

jika saja hari ini bukan hari ibu, saya akan tetap menghormati beliau, bukan karena ingin dipuji atau pun pendapat orang, karena yang saya tahu orang tuaku lebih menghormati orang tuanya daripada menghormati siapa pun yang saya kenal.

setiap hari saya ucapkan doa semoga orang tuaku diberi keberkahan oleh yang mempunyai waktu, entah itu dikabul atau pun tidak, yang pasti aku hanya berdoa, jika dikabul mungkin aku berucap syukur dan seterusnya jika belum dikabul ya berdoa lagi.

kadang kala, saya sering terjebak dengan konteks yang ada di lingkungan, tanpa sering mempertahankan hakikat yang bisa dielaborasi lebih maslahat, semisal hari raya iedul fitri, sering sekali bermaafan dan setelah itu usai ya mulai berdosa lagi, dengan alasan nanti juga akan ada iedul fitri lagi, atau pun anggapan menyepelakan suatu momentum untuk menjadi lebih baik. baik orangnya.

saya sempat tertegun ketika ada ucapan dari teman, "jika hidup itu seremonial saja, dan ritus-ritus sosial saja yang diinginkan, tak ubahnya seperti benalu di pikiran orang yang tak lama akan disingkirkan orang karena tak berguna," ujarnya, saya takut demikian.

*diketik pagi-pagi sembari senggang

Sulitnya itu indah, part 2

Garut sudah kami duduki, maksud saya, saya sudah duduk di daerah Garut, kau tahu Garut kota apa? Sudahlah semua juga tahu kalau Garut kotanya orang-orang Indonesia dengan sub suku bangsa, yaitu sunda, ah tak penting juga paragraph awal ini.

Gerbang pesantren yang warnanya hijau telah kami masuki, setelah sebelumnya kami sempat makan dan minum di warungnya Udin, bentar, bukan warunganya Udin ketang, warung yang punyanya. Namun Udin bekerja di sana, tempatnya di sekitar pesantren jua, jika kau tahu jalanan yang berdebu di seberang warung selalu jadi saksi bisu para santri membeli barang dari warung itu.

Mesjid kami telah masuki dengan berwudlu sebelumnya, dan yang ceramah itu ustad yang sebelumnya sering marah kepadaku karena sering membangkang dari pendapatnya, namun karena seringnya aku dimarahi, aku jadi seperti aku sekarang ini, bebal.

Dan suasana Jum’atan sepertinya seperti Jum’atan pada khalayak ramai di daerah lain, ya begitulah namun tempatnya saja yang berbeda, di masjid itu banyak santrinya dan warung itu saya kembali masuki, mulai makan dan minum lagi, mulai obrolan yang tak terlalu penting, bagaimana hidup setiap orang melakukannya dan memaknainya.

Tak lama, motor telah kami tumpangi, ya maksud saya, saya dan Anggun yang akan mempaketkan barang ke ibunya, setelah makan mie dan kelapa muda kami berpulang.

Tak terasa adzan Ashar mulai terdengar, mungkin bagi beberapa orang yang tak kenal bahasa arab, mungkin mereka anggapan itu mantra yang menghipnotis umat Islam untuk masuk masjid dan sepertinya akupun demikian, aku masuk mesjid.

Di mesjid tidak seperti tadi penuh, namun sekarang itu dua shaf saja, dan aku tak sengaja memperdengarkan lagu Jamming di rakaat kedua, aduh malu benar dan ternyata Bob Marley tetap berteriak di HP saya, dan ternyata sulit juga menghentikannya. Setelah shalat pun demikian, ternyata panggilan dari bapakku, dan HPnya saja yang memanggilku, soalnya terpencet mungkin. Entahlah.

Tak lama setelah beberapa saat keluar masjid, ada mobil datang ke parkiran mesjid dan keluarlah raksasa dan bermuka lima puluh dan berkaki seribu… aduh mulai kacau ini tulisan, sebenarnya itu adalah Baduy dan Andi yang datang, ternyata mereka datang bersama-sama jangan-jangan…. Mereka itu teman baik dan ternyata mereka benar adanya teman baik, sepertinya mereka seperjalanan, dan itupun yang saya lihat.

Saya sebenarnya enggan melihat Baduy atau tepatnya Muhamad Riyadul Irfan, soalnya saya tak datang ke pernikahannya, ya ia telah menikah, ia telah menikahi seseorang yang tak saya kenal, dan saya belum mengucapkan doa.

Saya hanya berucup selamat dan meminta maaf karena tak hadir di pernikahannya.

Dan Andi terlihat seperti sebelumnya dan saran saya sebaiknya ia kembali ke khittahnya sebagai pemilik badan yang proporsional, sekarang ia lebih terlihat besar dibanding tahun-tahun pertama saya bertemu dengannya.

Sebetulnya dari angkatan kami itu telah banyak yang menikah, ya semisal Udin atau lebih dikenal dengan Fahrudin atau Pehul, atau Udin Serancabango, ia telah menikahi perempuan dan mungkin sebentar lagi ia resmi jadi bapak, ya maksud saya seorang ayah yang sah dari anaknya yang mungkin akan segera lahir, perkiraan saya demikian, soalnya itu lumrah.

Sepertinya alunan Eksplosion In The Sky telah membuat ritme tulisan saya menjadi semakin tak menentu, namun tentunya kehidupan bukan seperti itu, hidup itu terus berjalan dan demikian selanjutnya hidup akan terus berjalan.