Jumat, 20 Juli 2012

Jumaahan 13

Adalah saya yang sedang mengendarai motor pagi ini menuju Bandung, Leles telah aku lewati beserta razia polisi itu juga aku telah lewati, pemandangan yang sedikit aneh untuk sepagi ini, tapi itu tak akan merubah pandangan burukku untuk polisi, mayoritas polisi maksudku, mereka para sipil yang bersenjata.

Begitu pula Rancaekek itu akan saya jelang dan ternyata Dinda masih ada di Subang tengah makan mie, dan segera ia akan ke Bandung untuk mengurusi urusannya dengan beberapa orang yang ia mendapatkan urusan dengannya, dan tentunya dengan kuitansinya.

Saya tengah sampai di Suaka, sebuah daerah yang ada di Cibiru, sebuah Sekre yang selalu saya kenang untuk masa mahasiswa yang telah saya lewati tanpa kesimpulan yang pasti, saya ingin mendengar khutbah di mesjid As-Siraj siang ini.

Jalanan cibiru tengah lengang siang ini, dan begitu pula Dinda tengah ada di buah batu untuk urusannya yang mungkin ia sangat pentingkan. Dan saya menuju kesana setelah Jumaahan selesai.

Sepulang dari masjid saya dapati Dede, ia seorang mantan presma saya dahulu ketika saya masuk kelas MKS, sepertinya ia tegah gusar kerena baru saja resign dari pekerjaannya, terkesannnya saja, soalnya perkataanya sepertinya tidak teratur untuk siang ini, ia tengah bersama seorang perempuan, mungkin ia itu istrinya, atau mungkin pacarnya, ia dulu kerjanya di CIMB, tapi itu dulu, saya hanya memberi saran yang mungkin tak banyak merubah keadaan, mencari kerjalah atau berwiraswasta.

Dan sayapun pamit pada Nasrul dan Salman, juga Hamdan untuk segera menuju Buah Batu.

Dan itu adalah saya yang telah duduk di halaman Stembi, untuk menunggu seorang bidadari jatuh dari tangga lantai dua, dan Dinda tengah ada di halaman lain parkiran sekolah tersebut.

Kami punya renacana untuk hanya bermain-main di Bandung ini, telah lama saya tak jumpai Dinda ternyaa hari ini ia pakai celana, saya tak menduganya sebenarnya, tapi begitulah adanya, dengan dandanan serba hitam ia terlihat seperti itulah. Cantik sekali.

Sembari menunggu waktu,menunjukkan jam 3 sore saya mengajaknya mencari panganan ringan di Buah Batu ini, dan SMU 22 adalah tempat saya sekolah dulupun saya jambangi saja, semoga ada jus dingin disana, dan tentunya ada Panji juga, saya masih ada urusan keuangan dengannya.

“Nda tanggal sabaraha ayeuna?” tanyaku singkat.
“Tanggal 13,” ujarnya singkat.
“Pangnandaankeun dina HP, taun engke jadi hari anniversary,” timpalku singkat.
“Najong...” jawabnya sembari tawa terurai.

Dan saya harap itu jadi kenyataan, tapi jiakpun harus kisah sedih sayapun akan menikmatinya, soalnnya sudah lama saya tak bersedih, tapi itulah adanya, saya sangat tahu pilihan kata sedih itu lebih sedikit dari senang.

Sebenarnya banyak sekali alibi yang saya bangun siang ini, hanya untuk berdua saja, eh mungkin banyakan dan itu saya dengan dinda, beberapa malaikat dan ratusan setan sedang ada dipikiran ataupun pada beberapa hal yang saya anggap itu sangat ghaib.

Dan ternyata Panji belum datang siang ini, dan para warga teater bohlam mau siap-siap untuk MOS hari senin esok, semoga saja saya bisa hadir esok, tapi entahlah, banyak kain di rumah saya soalnnya.

Mesjid di 22 tengah diam saja ketika koridornya mendapat penampilan baru, keramik yang baru mungkin untuk menyambut murid baru tahun ini, banyak sekali penampilan yang lebih hijau di 22 tahun ini, begitupun Dinda tengah shalat ditemani genderang drumyang ditabuh bertalu-talu.

Da hari ini saya akan kenang untuk beberapa jam yang singkat, saya tak ingin membaginya menjadi tulisan mengingatnya saja sudah cukup, mengingat kalau hari ini adalah hari yang indah, meskipun ke Cimahi hanya untuk mengisi bensin premium, dan sedikit mengantuk ketika menjalankan motor menuju pulangnya badan ke rumah di Banjaran, dan itu adalah saya yang mengetik catatan pagi ini.


*diketik dengan senang hati

Jum'at pagi ini

Sepertinya itu adalah saya yang sedang bingung mencari alamat Cirengit tempat futsal di Garut raya, itu tempat futsal yang tengah Husni, Udin dan teman-temannya bermain bola. Bola kaki tepatnya.

Setelah beberapa menit saya mencari tempat tersebut akhirnya saya jumpai juga tempat tersebut, sebuah daerah yang bisa ditempuh dengan 10 menit berkendara motor dari Rancabango.

Mereka tengah asyik bermain bola dengan kaki dan badannya, tawa ringan kerap kali terdengar merdu di malam Jum’at yang dingin ini, Garut sepertinya tak menampakkan banyak bintang malam ini, ternyata Zaki telah pulang dari kampusnya di Malaysia, Zaki itu adiknya Husni, adik kesayangannya. Sepertinya begitu.

Malam ini mereka sepertinya tengah asyik bermain bola dan saya pun tak dihiraukannya, saya hanya mendengar suara merdu di telinga saya, seorang yang mungkin jika pada waktunya akan menjadi cita-cita saya untuk hidup saya yang singkat.

Ternyata ada Fikri tengah bermain bola, saya sendirian sangat kaget untuk beberapa bulan tidak bertemu penampilannya berbeda jauh sekali dari sebelum ia menikahi istrinya, ia berubah beberapa kilo lebih banyak, dan futsal sepertinya sangat cocok untuk jadwalnya sebagai seorang suami.

“Ka pesantren heula atuh?” ujarku
“Hampura ke we deui, aya urusan heula,” ujar Fikri
“Wah nyaan teu bisa di pending heula ieu teh?” tanyaku singkat
“Biasa malem Jumaah, nyunahan heula,” jawabnya singkat
“Aiihhh, heureuyna make status KTP euy ayeuna mah,” timpalku

Obrolan yang singkat diakhiri oleh tawa riang dari banyak orang,  ternyata Fikri menjadi seorang petani hari-hari ini, semoga lancar saja, diselingi oleh bermusik sepertinya, soalnya ia meminta beberapa referensi band yang saya tahu, semisal Bloc Party dan Pale saint, Mogwai dll, semoga saja bermanfaat.

Dan adalah saya yang tengah mengendarai motor menuju Rancabango, Udin telah pulang mendahului sepertinya sama akan melaksanakan tugasnya di malam Jumat ini.

Gerbang pesantren telah tertutup malam ini, dan mi hangat sangat nyaman untuk dimakan malam ini, sepertinya itu pun diamini Husni, begitu pula Zaki.

Malam ini Husni hanya main poker onlen saja, sepertinya ia tengah keranjingan main permainan itu, bermain kartu dengan entah siapa,
“Judi etamah ning, ni?” tanyaku
“Kartu,” ujarnya
“Aslinya ni,” timpalku
“Judi mah teu perlu modal, nupasti mah kawani na,” ujarnya

Entah sampai jam berapa ia bermain game, yang pasti ketika saya terbangun subuh sudah datang, begitu pun para jemaah telah hadir di mesjid, jumlahnya pun seperti halnya saya dulu ketika pertama kali datang, jumaha yang akan saya kenang, ketika shubuh itu lima shaf, dan itu sangat keren, karena shubuh di tempatku itu paling banyak dua shaf.

Pagi ini sepertinya cerah, tak banyak awan putih yang menemani langit Garut, dan sepertinya hangatnya air sempat terlintas, namun ada janji yang harus saya tepati di Bandung hari ini. Saya harus pulang.


*diketik sembari senggang

Kamis Juli, tahun ini

Dan saya sedang duduk di depan komputer ketika Movie Script Ending mulai dinyanyikan oleh Death Cab For Cutie, ternyata mengetik itu mulai tidak secepat dulu ketika hampir tiap kronik saya ketik, sepertinya jari ini mulai lambat dalam mengetik.

Hari di tanggal dua belas Juli ini saya tengah mengendarai motor yang sudah lama saya kendarai, akhirnya sampai juga di Moch Toha, sebuah jalan yang saya harap tidak ada pabrik di sisi jalannya, dengan selokan yang bersih dan sungai Citarum yang jernih seperti kata taruma diartikan oleh kaum pribumi di tanah pasundan ini.

Adalah saya yang tengah mengantarkan ibu saya untuk membeli bahan yang ia kehendaki untuk membuat baju dan beberapa kaos pesanan dari langganannya, begitulah risiko untuk menjadi seorang penjahit seperti saya dan mereka yang punya hajat hidup atas bantuan jarum.

Dan Otista telah saya lewati untuk segera memulai kesibukan lainnya, mengambil uang di teman saya, Santi namanya, ia anak suaka yang tengah Aad sangat sukai, saya sangat merasa bersalah karena perhitungan saya salah dalam menentukan waktu, janjinya saya sampai jam 12, ternyata sampainya jam 1 siang, alangkah saya menyesal untuk itu.

 Ternyata Santi tengah berdiri manis di samping pak Satpam di depan kampus, ternyata ia akan segera pulang untuk menemui ibunya di rumahnya di Salawu, sebuah daerah yang dulu saya jadikan tempat penelitian untuk tugas sosiologi dan antropologi saya ketika SMU, kampung naga namanya.

“Bumi abimah terus deui ti Naga teh,” ujar Santi menerangkan ketika mengobrol di kosannya, entah mengapa saya jadi ingin ke Garut, karena hari ini saya tak ada kerjaan dan saya pikir Salawu bukan tempat yang jauh untuk ditempuh.

Alhasil, akhirnya saya akan mengantarkan Santi ke Salawu setelah lama menunggu di kosannya, ketika Santi telah beres mencuci pakain, sebelumnya saya ke Suaka, inginnya mengajak Aad untuk ikut serta, dan mungkin jika jodohnya ia akan menemui calon mertuanya yang bisa bahasa Inggris.

Saya tak mengira ternyata Salawu itu tempat yang lumayan jauh, ditambah lagi jalanan yang baru untuk jalur saya yang belum saya kenal sehingga perjalanan itu saya lalui dengan santai saja.

Pemandangannya sangat bagus untuk saya yang kerap kali di depan mesin jahit, begitu pun dengan udara dingin sepertinya kurang cocok untuk celana ketat yang saya pakai.

Tasik malaya itu artinya, tasik yang malaya, begitulah dari penuturan Santi, kabarnya banyak batu sisa Galunggung yang menyembur sehingga sepanjang sawah yang saya lewati banyak batu sebesar pintu kerap terlihat, dan begitu pun kampung naga saya jelang, dan sebentar lagi rumah Santi akan saya jumpai.

Hari telah sore untuk wilayah Tasikmalaya, ketika saya sampai di rumahnya, ia mempunyai seorang ibu yang membuka les privat bahasa Inggris, mungkin jika mengobrol denga Miko ia akan memulai bahasa Britishnya, ataupun dengan Ratna, Hayati ataupun Risna yang sejurus dengan bahasa tersebut.

Santi punya dua orang adik yang sekolah di SMK dan SD, namanya Nabil, mirip dengan pacarnya Miko, mirip namanya saja maksud saya tidak secara fisik, soalnya ia itu laki-laki.

Saya jadi enak sekali ketika ada makanan di depan saya, ikan goreng telah tersedia ketika saya makan, dengan nasi panas tentunya jadi enak sekali.

Dan saya harus segera pulang sepertinya, karena teman di Garut telah menunggu saya, di perjalanan pulang ada suara merdu yang hadir di earphone di samping helm saya.

Ternyata Salawu tak sejauh tadi ketika rutenya mulai saya ingat lagi, saya kira anak-anak SUAKA sangat bisa menjadikan Salawu sebagai arena untuk mengisi liburan yang nanti akan dikenang oleh tuan rumah dan semua anggotanya.

Dan Salawu saya pulang dulu, jikalau sempat main lagi ke sana.

*diketik sembari senggang

Selasa, 26 Juni 2012

Melerai sejarah


Hari ini kamar saya sudah penuh debu, sudah beberapa Minggu saya tak membereskannya, saya sadar kadang kala saya tak tahu terima kasih untuk sebuah ranjang yang kerap kali saya tiduri, dan beberapa baju yang kerap kali saya buat mereka basah dengan keringat saya, begitu pun dengan lantai kamar saya yang kini telah berdebu.

Di bawah ranjang saya ada batang sepeda balap yang belum sempat saya bereskan pengerjaannya, batang tersebut mulai ada bagian yang karatan, padahal, yang saya ingat dulu, sepeda tersebut tinggal saya cat kembali, ukuran batangnya untuk velk 17, untuk ukuran saya pun sepeda tersebut lumayan jinjit ketika saya coba, setangnya yang tanduk telah dingin ketika saya ambil untuk saya lap dari debu yang menempel padanya.

Saya rasa paduan antara debu dan lembab adalah hasil yang tepat untuk kamar saya hari ini, sebuah hasil dari beberapa minggu ke belakang, entah apa jadinya saya jika tanpa kamar ini, ruangan dindingnya sudah tidak putih bersih lagi, banyak poster tertera di sisinya, mulai dari gambar hasil karya orang lain, hingga pengumuman pemerintah kerap kali hadir di dindingnya, begitu pun poster tengkorak yang besar terlihat jelas ketika akan tidur, sebuah lemari pakaian berwarna cokelat yang saya dapatkan dulu ketika pindah ke rumah ini, dua baris rak terdapat di dalamnya.

Banyak catatan kuliah yang dulu saya catat ada juga di dalamnya, ternyata lemari tersebut tak muat untuk pakaian saya yang lumayan banyak, begitu pun dengan catatan yang ada di dalamnya, mulai dari diktat kuliah hingga fotokopian yang kerap kali aku harus bayar meski aku tak tahu faedahnya apa, teori saja.

Saya sepertinya harus segera melerai pertikaian tentang masa lalu saya yang kerap kali membuat saya minder karena tidak meluluskan kuliah saya karena kemalasan saya, sepertinya alasan malas sudah cukup jelas untuk hidup saya yang muram ini.

Banyak alasan yang bisa saja dikeluarkan untuk beragam pertanyaan yang mungkin akan datang ketika banyak cara untuk menempuh hidup dengan santai.

Hari ini, saya membakar beberapa catatan yang kerap kali membuat saya teringat kembali untuk tetap duduk di bangku kuliah, asap mulai keluar dari kamarku yang pengap, karena tak ada jendela yang proporsional untuk kamarku yang sempit, seperti ada kebakaran saja hari ini, semua pakaian yang menggantung di kamarku berbau asap, asap beberapa catatan yang kerap kali aku ingin lupakan.

Aku ingin berdamai dengan masa laluku, masa lalu dengan semua cita-cita yang kerap aku pasang dengan tingkatan yang maksimal, namun sepertinya kehendakNya itu lain.

Saya sangat menikmati panasnya api di kamarku iseng ini, walaupun sedikit membuat sulit bernapas, tapi lembabnya kamarku perlahan hilang, lantai di kamarku mulai hangat untuk sementara.

Hari ini ranjangku telah keluar dari kamarku, ranjang tersebut tergeletak rapi di hadapan rumah jahit, kamarku seolah luas hari ini, setelah dipel dengan aroma mawar, bau asap tak terlalu kentara, buku-buku telah rapi dan berada di dalam lemari pakaian, dan pakaian ada di rak buku.

Sebuah papan tulis putih hadir di kamarku hari ini, ukurannya yang besar menyisakan sedikit dinding untukku, aku ingin tidak lupa mencatat hari ini, mencatat bahwa aku bisa lebih baik untuk esoknya.

Pakaian kotor pun telah aku bersihkan hari ini, sembari menunggu kering aku hanya duduk dan mulai kembali membaca catatan yang dulu aku buat, ternyata banyak barang yang bukan pada tempatnya, beberapa barang dari SUAKA, beberapa buku milik temanku yang harus segera aku kembalikan, kemungkinan besar itu saya pinjam sebelum sakit beberapa Minggu kemarin, aku telah lupa lagi.

Catatan ujian telah aku pegang hari ini, ternyata kebanyakan hasil ujianku tidak terlalu buruk untuk saya perkirakan, meskipun tak semuanya 100 tapi beberapa bernilai 70, beberapa nama dosen muali saya ingat-ingat kembali, semoga mereka diberkahi rizki yang bermanfaat untuk kehidupan mereka, Pa Pambudi yang selalu dengan tenang memberikan kami pengertian tentang akuntansi, Pa Wawan yang menggantikan Pa Nurol Aen untuk bahasa Inggris, Pa Iwan yang memberikan kami pengertian lebih tentang fiqih dalam muamalah, Pa Hasan Ridwan yang telah dengan sabar memberikan kami tugas yang membuat kami sempat bingung untuk tugas akhir kami, Bu Dewi yang dengan tenang memberitahukan kami bahaya dari sistem ribawi, Bu Dyah yang dengan pelan tapi pasti memberikan keterangan yang jelas untuk lembaga keuangan syariah, Pa Toha Hasan yang beri tahukan kami tentang koperasi yang baik dan menurut agama itu mungkin dibenarkan, dan beberapa dosen yang kerap kali memberikan inspirasi kalau hanya teori hanya akan membuatku tahu di ubun-ubun tanpa kulitmu tahu itu panas atau dingin, rasanya asam atau manis.

Catatan tugas akhir yang saya tak kerjakan, penelitian bulanan yang menjadi fokus saya untuk beberapa tahun ke belakang saya dapati juga, ternyata tulisan saya terlalu banyak untuk sebuah bab 1, sehingga dari 37 halaman hanya 12 halaman yang disetujui oleh pembimbing, itu pun tanpa ia baca dan hanya melihat judulnya saja, saya sangat sakit hati ketika mendapat perlakukan seperti itu, namun ternyata status memberikan hak dan kewajiban lebih sedikit untuk saya.

Dahulu sebelum saya sakit thipus anfal, saya pikir semuanya bisa saya kerjakan kembali, namun sepertinya uang berkata lain, saya harus lebih dulu membantu keluarga saya dulu dibandingkan semua hal yang kerap menggelayuti pemikiran saya tentang ekonomi, saatnya saya praktek.

Beberapa ubin telah tertutup selimut saya yang tebal ketika saya ingin meniduri kamar saya, ketika lampu saya matikan, sepertinya saya harus mencatat hari ini, karena esok adalah misteri yang mungkin saja lebih indah dari hari ini.


*diketik sembari senggang

Jikapun marah, saya harap tak pakai benci


Saya telah duduk lama di kursi ini, begitu pun layar di MS Word di depan mata saya telah lama kosong, Cuma judul tentangmu yang tetap ada di pikiranku, telah lama aku berpikir, obrolan-obrolan yang kita pernah bicarakan, baik saling berhadapan atau kau ada di belakangku, obrolan yang mungkin kau anggap sebagai angin lalu hingga hanya bayangan yang telah lama meninggalkan tepatnya ketika kita berkendara berdua saja.
Begitu pun gelas berisi air panas telah menjadi dingin ketika saya sentuh kembali, ternyata baru setengahnya saya habiskan.
Di telinga saya sedang berbisik Cholil dari efek rumah kaca berkata, “Tubuhmu membiru.... Tragis..,” ucapnya pelan, sepertinya bukan tubuhku saja yang terkulai membiru dan tragis, tapi rasanya semuanya bagian dalamnya juga.

Aku harap Vampire Weekend menyanyikan I Stand Corrected untukku siang ini, memberikan semangat indah kalau hidup itu banyak teman untuk tetap menganggap hidup itu indah, meskipun tanpa adanya dialog tentang teman.

Jikalau kau tahu siang ini cerah sekali, aku ingin bertemu nenekku yang sangat aku cintai setelah ibuku, ternyata aku sangat matrilineal untuk seseorang yang sangat aku sayangi, beliau tengah terbaring di RSUD Hasan Sadikin, entah mengapa ketika perasaanku kalut, aku menjadi tenang di sampingnya, walaupun ucapannya pasti telah aku tebak, “Sok, sing soleh hidep teh,” ucapnya singkat, beliau jarang untuk berkata banyak di usianya yang renta.

Hari ini banyak pesanan datang, banyak juga yang harus aku kerjakan, namun ternyata pikiranku masih ada dalam dialog tentangmu, tentang ucapan-ucapan yang mungkin sempat membuatmu marah, dan yang aku harap jika pun kamu marah tak memakai benci di dalamnya.


*diketik sembari senggang

Jumat yang agung


Jumat ini hangatnya sangat membuat mengantuk, entahlah seperti hari Jumat lainya yang agung, Jumat yang milik semua orang, bukan hanya agung yang punya.

Pagi ini indahnya bukan main, sembari berjalan santai, tangan kecil itu tetap berpegang erat untuk menggenggam telunjuk saya, sepertinya lima jarinya yang mungil hanya untuk telunjuk saya, Ridho, saya dan semua orang memangilnya demikian, seorang anak kecil yang sengaja dinamai oleh ayahnya Ridho Insan Kamil, nama yang sangat familiar untuk pecinta dangdut dinasti Rhoma Irama.

Gang di samping sawah itu tetap lengang ketika kami berdua berjalan santai hanya untuk melihat adanya matahari yang mulai terbit, daun dari padi yang hijau terlihat bercahaya dengan adanya embun yang tak lama lagi akan hilang dipanasi sang matahari, tetesannya belum sampai pada daun tengahnya, baru terlihat di ujung atasnya, seperti karpet yang baru di semprot oleh air yang butirannya sangat kecil.

Dan hari ini rencananya adalah memberikan barang-barang orang lain yang terselip di kamar saya, beberapa barang dari SUAKA, beberapa barang lainya dari teman, yang mungkin untuk faedahnya saya tak tahu pasti apakah masih berfungsi penuh untuk beberapa buku.

Dan adanya keinginan untuk membawa buku Ihya Ulumudin yang saya titipkan, walaupun niatannya hanya untuk alasan yang tak terlalu jelas, inginnya sekadar bertatap muka.

Ridho berjalan dengan kencang ketika kami akhirnya berhenti untuk melihat butiran air yang saya usapkan ke mukanya,
“Eta naon di,” tanyanya,
“Ibun..” jawabku singkat.

Saya pun pulang karena memang harus segera pulang, hari mulai menghangat, dan ketika pulang ternyata di lapangan voli tengah ada komedi putar, sarana rekreasi ringan untuk kami yang mendapatkan masa silam sebagai anak desa, mungkin anak desa sekarang pun demikian.

Jumat yang agung, saya ingat ketika dahulu Idul Adha yang tepat untuk hari jumat, kata khatib,
“Ketika hari ied datang pada hari jumat, atinya itu dua hari raya pada watu yang sama,” ujarnya,
Begitupun ketika saya baca keterangannya di Bulughul Maram tetang hari raya pun demikian adanya.

Hari ini saya lihat uwa saya yang memberikan ceramah, entah kenapa merasa ngantuk sekali hari ini, tapi saya paksakan untuk tetap mendengarkan ceramahnnya, ada yang menarik tentang ceramahnya, di usianya yang senja saya kerap kali saksikan ia tak bisa untuk mengimami shalat, biasanya ia memberikan kesempatan untuk mengimami kepada orang lain, seolah ia memaksakan dirinya untuk tetap memberikan khutbah, ketika kabar sering sakit saya dengar dari saudara yang lain.

Dulu ia pernah bertanya pada seorang tentara,
“Kang ari akang teu sieun ku perang,” tanyanya singkat,
“Ieuh tong hilap, tiap pelor teh boga alamatna masing-masing, tong hariwang,” jawab sang tentara.

Kesannya hanya percakapan singkat dari seorang tua dengan tentara, tapi saya sempat tertegun, karena saya sangat banyak sekali rasa takut untuk hidup saya yang singkat ini.

Sepertinya banyak cara untuk menikmati hidup, banyak cara pula untuk mengakhirinya, banyak cara untuk menghidupi hidupnya, banyak cara pula untuk menghentikan hidupnya.

Jumat yang agung, siang ini saya ketiduran hingga telat untuk membetulkan motor saya yang mulai renta, sehingga saya kesorean untuk datang menemui beberapa wajah yang kerap kali saya ingin temui.




*diketik sembari senggang sebelum motor melaju ke setiabudhi

setelah menjahit hari ini


baru saja saya masuk rumah ini, setelah beberapa lama meninggalkannya, ya maksud saya saya harus menjahit terlebih dahulu, terdengar sebuah lagu yang kerap kali didengar, lagu architecture in helsinki, the owl go.

lagu yang bagus sekali, untuk perasaan yang tak menentu.

The Owl Go


(Four, three, two, one)

Don't hide the treasures you've found in a hole in the ground
How 'bout the tree back your house where the owls go
Or in between the attic and the basement
Somewhere it's not dark, dark, dark, dark

Attic in a basement with a knife serrated, I'll protect you (2x)
Don't hide the pleasures you've found in your rolling around
Where all the leaves have been swept and the flowers grow
And don't go finding a replacement,
I promise I'll show you heart, heart, heart, heart

Finding replacement with a heart sedated, I'll forget you (4x)
And you won't make a sound or be nervous around piles of pictures
So old that that it feels like it is ending

(Four, three, two, one)

Attic in a basement with a knife serrated, I'll protect you (2x)

And you shout out loud
And you're bursting with pride
'Cause they don't let you talk
And your heart is finally mending

It's not too late now to change your mind
The grass gets greener when you get to the finish line

An attic in a basement
Attic in a basement
Attic in a basement
Attic in a basement
Attic in a basement
Attic in a basement

And you won't make a sound(sound) or be nervous around piles of pictures
So old that it feels like it is ending(around)
It shouldn't feel like it is ending



Perginya Burung Hantu

(Empat, tiga, dua, satu)

Jangan sembunyikan harta yang telah kau temukan dalam lubang di tanah
Bagaimana jika pohon di belakang rumahmu ketika burung hantu pergi
Atau di antara loteng dan ruang bawah tanah
Suatu tempat itu tidak gelap, gelap, gelap, gelap

Loteng di lantai dasar dengan pisau bergerigi, aku akan melindungimu (2x)
Jangan menyembunyikan kesenanganmu yang telah kau temukan di sekitarmu
Dimana semua daun tersapu dan bunga-bunga tumbuh
Dan jangan pergi mencari pengganti,
Aku berjanji akan menunjukkan hati, hati, hati, hati

Mencari pengganti dengan hati yang dibius, aku akan melupakanmu (4x)
Dan kau tidak berisik atau gugup sekitar tumpukan gambar
Jadi yang lama yang rasanya sudah berakhir

(Empat, tiga, dua, satu)

Loteng di lantai dasar dengan pisau bergerigi, aku akan melindungimu (2x)

Dan kau berteriak dengan suara keras
Dan kau penuh dengan kebanggaan
Karena mereka tidak membiarkan Anda berbicara
Dan hatimu akhirnya memperbaiki

Sekarang belum terlambat untuk mengubah pikiranmu
Rumput akan lebih hijau ketika kau sampai ke garis akhir

Loteng di lantai bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah

Dan kau tidak berisik atau gugup sekitar tumpukan gambar

Jadi lama yang rasanya sudah berakhir
Seharusnya tidak merasa seperti itu telah berakhir




*diterjemahkan dengan sesuka hati