Kamis, 06 Desember 2012

Hari tasyrik terakhir tahun ini

Siang ini sepertinya aneh jika mengatakan ini adalah sarapan, sarapan di hari Selasa yang dengan langit yang cenderung panas, di speaker Jonas tengah berkata Am I Wry No untuk Farah, entah siapa itu, tapi yang saya tahu lagu ini disontek oleh Peter Pan sebelum menjadi Noah. Imitasi kadang kala menjadi plagiasi jika terlalu banyak, dan itu saya tahu.

Pagi tadi saya terbangun di Cibiru, dengan pagi yang terlambat shalat Shubuh, dengan nettbook Salman yang menyala, Norman yang tertutup selimut dan komputer Suaka yang ber WARNING terlihat jelas karena merahnya, banyak virus rupanya komputer jurnalis, semoga hatinya tidak terpengaruh virus yang aneh-aneh juga, karena tugas jurnalis itu untuk kemanusiaan, sampai kapan pun.

Tadinya mau menyapa teman di atas gunung sana, tapi rasanya malas, tubuh saya ingin beristirahat, untuk hari-hari yang terasa panjang, meskipun hitungan detik, jam, dan menitnya tetap sama.

Adalah saya yang tengah mengendarai motor tua saya di jalanan Banjaran Minggu pagi ini, akhirnya Banjaran macet juga rupanya, sangat macet untuk ukuran saya di jam Delapan pagi hari.

Saya akan menuju sebuah daerah di Garut, dengan alamat yang saya tidak ketahui sepenuhnya itu ada di mana, entahlah, untuk sebuah ucapan kadang kala menjadi sangat sentimentil untuk saya. Bagi saya janji kadang kala menjadi beban yang jelas harus terlaksana.

“mang haji dupi alamat akad c adam teh dimana?” tulis saya dalam SMS.

Teman saya Adam akan menikah, ia akan menikahi seorang dara asal Garut, sebuah kota yang membesarkannya dengan semua kekurangan dan semua kelebihannya.

Ternyata Garut mempunyai kelebihan kendaraan siang ini, jalanan Kadungora hingga Leles bahkan hingga menuju Tugu Intan siang ini jalanan hampir terus menerus berjalan pelan, sepertinya hari tasyrik terakhir di tahun ini adalah seperti ini, seperti macetnya jalanan ini, jalanan menuju Garut tahun ini, jalanan yang sering saya lewati bersama Shogun 125 milik saya, milik saya yang harus segera turun mesin, karena kebakaran tiap hari melandanya ketika asap mulai mengepul dari knalpotnya.

Saya awalnya mengira Irsyad telah pergi mendahului saya siang ini, ternyata dari kabarnya di pesan singkat, ia baru saja akan memulai perjalanannya siang ini, dan akhirnya saya menuju Rancabango terlebih dahulu untuk mengetahui tempat yang jelas untuk tempat kejadian perkara. Perkara di mana Adam akan jadi seorang bukan perjaka lagi.

Rancabango telah sepi siang ini, sepertinya tidak banyak santri yang melakukan Idul Adha di pesantren ini, dan keluarga Husni tengah adakan semacam acara keluarga, dan saya menunggui warung buka, hingga akhirnya Hari datang bersama istrinya, anaknya, dan adiknya.

Kami shalat di masjid pesantren, mesjid yang dulu mengajarkan kami shalat berjamaah, dan mungkin yang lain shalat berjamaah, sisanya shalat munfarid di asrama. Sungguh kejadian yang diluar dugaan.

Hari mempunyai seorang anak perempuan yang lucu, bukan berarti orang tuanya tidak lucu, tapi bukan waktunya lucu lagi mungkin tepatnya. Entah kenapa Hari sangat disayang dengan kata Keling oleh teman-teman, mungkin perbedaan warna kulit sangat mempengaruhinya, tapi itu tidak berpengaruh untuk anaknya yang lucu itu, Faza ia panggil demikian.

Adalah saya yang mengira jikalau akad pernikahan itu dilaksanakan hari Ahad, adalah saya yang berangkat pagi, adalah saya yang melakukan perjalanan untuk empat jam melelahkan Garut - Bandung untuk sebuah janji kecil seorang lelaki, dan adalah saya yang baru sadar jikalau teman-teman baru saja datang dari rumah Adam, mereka tengah diam di pelataran masjid, Kutub putra ustad Mulyadi, Ijul, Rian Gorgom, Anggun.

Sepertinya kesalahan saya dalam menandai tanggal berefek tak menentu dalam melakukan kegiatan, terutama ini adalah sakralnya sebuah ucapan akad.

Akhirnya kami menunggu di rumahnya saudaranya Husni, sebuah rumah di belakang warung, dengan bertambahnya jumlah teman sepertinya sangat menyenangkan, ada Wahid di sana yang sepertinya akan memberikan undangannya untuk para undangannya, akan menikah juga rupanya.

Irsyad pun datang, dan Ahmad dalam perjalanan menuju Rancabango.

Beristirahat adalah waktu yang indah untuk sebuah ranjang kapuk dengan hari yang panas, dan setelah makan rendang adalah sebuah kenikmatan tersendiri, dan karena tidur adalah kegiatan perseorangan untuk kami di rumah tersebut.

Ternyata akad nikah itu akan dilaksanakan Seninnya, dan akhirnya firasat buruk itu terjadi juga, susahnya pulang itu terjadi juga, dan akhirnya saya hanya diam di Banyuresmi hingga malam ini saya jelang.

Ternyata untuk menjadi seorang pengantin itu butuh perjuangan butuh mental yang kuat hingga semua variabel mencapai ekuilibrium, sepertinya ada kegundahan di hati Adam, ia tak tenang, dan saya harap ia menikmatinya untuk menjadi proses akumulasi hidupnya, ia akan menjadi seorang suami, seorang bapak, seorang imam untuk istrinya, mungkin panggilannya bukan hanya Syifa saja ada hal lain bagi mereka berdua, hal indah yang akan mereka kenang, hal sentimentil, saya harap jika kamu tahu lagu Symetry dari Mew, kamu akan seindah puisi itu.

Malam ini telah datang, dan Chelsea harus kalah karena peraturan yang tak adil menurut saya, dan malam ini saya harus tidur seperti Wahid, dan Ahmad, dan sepertinya bukan seperti Rivan yang tidur dengan aurat yang tak jelas juntrungannya, dan Icad sepertinya bermain PS bareng Husni dan entah siapa lagi ada di atas sana, di atas yang sedang menggunakan Joystick untuk permainan mereka.

Esok Adam harus berakad nikah.


#diketik sembari senggang

Missing You

Entah mengapa malam ini sulit untuk tidur, mungkin sedari siang terlalu banyak kegiatan menutup mata, sehingga sekarang saja belum tertidur seperti kemarin. Sepertinya rasa sakit tidak berbuah manis hari ini, saya sepertinya kurang bersyukur dengan tidak beristirahat dan hanya mengetik dan mendengar Slowdive bernyanyi di youtube, lagu yang kerap saya hafal, karena delaynya yang mengawang perlahan.

Judulnya Missing you, mungkin saya seperti perasaan saya, sedang rindu dengan kata maaf dari seorang teman yang telah enggan, aduh sepertinya paragraf ini terlalu sentimentil.

Jika ingat kata sentimentil, saya selalu ingat lagunya Blueboy yang Melancholia, bukan alasan yang jelas tapi ingat saja, seolah lagu itu berkata tentang keadaan.

Ada yang menarik dari penggambaran lagu Slowdive yang satu ini, hanya gambaran hitam putih perjalanan seseorang keluar dari stasiun kereta bawah tanah, berjalan berkeliling kota, seolah yang bingung saja, mungkin ini yang membuat judul lagu dan penggambarannya sulit diterima untuk pertama kali, atau mungkin ini penggambaran paling tepat karena, merindukanmu seperti mencari dalam kebingungan.


#diketik sembari senggang,

Cuma Penjahit Biasa

Baru saja jalanan Ciwidey saya lalui dengan teman, Riza namanya, kerap kali dipanggil Jawa, entah mengapa teman-teman memanggilnya begitu, mungkin karena ia bisa bahasa Jawa, atau mungkin karena Banyuwangi bukan Jawa Barat, tentunya.

Koil sedang main di speaker siang ini, sepertinya hari ini akan turun hujan, seperti lagu yang sedang didengar lagu hujan.
Entah berapa kali lagu ini diputar, sangat apik terlantun, dan kabarnya Otong KOIL akan mainkan beberapa lagunya live di Gasibu hari ini, itu juga menurut kabar dari Facebook KOIL dan beberapa kabar dari Seperturan, inginnya aku menontonnya, namun sepertinya aku harus istirahat, beberapa jam ke belakang sangatlah menguras energi.

Sore lalu teman saya Riza tengah berbelanja beberapa keperluan minumnya di Griya Banjaran, dan Miko belum ada kabar jam berapa ia akan berangkat menuju Banjaran, rencananya kami akan menjadi alumni di reformasi SUAKA.

Alumni? Sepertinya lulus saja saya tak sanggup, aduh jadi minder.

Reformasi SUAKA merupakan hal lain dari pemilihan pimpinan baru di SUAKA, saya awalnya bertanya-tanya kenapa namanya Reformasi, menurut Ekos dulu, nama itu disepakati bersama dalam beberapa tahun ke belakang, mungkin efek penggunaan kata tersebut dalam eranya mahasiswa sebagai agen pembaharuan. Baru saja merakan baru mungkin.

Saya mengendarai motor Shogun yang saya punyai di jalan desa Ciapus dengan melewati 36 portal kecil, atau yang kerap kali disebut polisi tidur, entah mengapa saya iseng menghitung hal tersebut, menarik sekali untuk saya, karena dengan jarak satu kilometer kurang beberapa meter jumlah polisi tidur itu adalah jumlah yang cukup mengamankan arena bermain anak-anak yang telah hilang dan menggunakan jalanan sebagai tempatnya bermain sepeda dan lainnya di desa kami. Anak desa sepertiku sangat maklum untuk hal itu.

Di Griya Jawa tengah membawa plastik warna putih dengan sablonan Griya, ia tengah mencari seseorang ketika saya pandangi dari seberang jalan, saya hanya melambai dan mengajaknya menuju rumah saya yang kecil, dua bangunan dengan banyak jendela dan sedikit kamar jika dibandingkan asrama dua saudara.

“Ka imah heula we, sekalian istirahat heula jeng nungguan si Miko dek ka imah,” ujarku

Ia akhirnya ikut juga, di rumah saya hanya bakso langganan depan rumah yang bisa tersaji, maklum saat itu tak ada persiapan menyambut tamu yang akan datang, saya sedang menjahit saat itu dan sekarang sedang mengetik.

Jawa tengah mempersiapkan masa depannya dengan magisternya di Unisba, salah satu universitas sangat ternama di Bandung Raya, saya hanya bisa berkomentar sebisanya, maklum saya hanya buruh jahit biasa.

“Mun gawe mah tetep prioritas, mun kuliah mah investasi,” ujarnya

Saya sangat mengapresiasi niatannya untuk merangkai hidupnya dengan caranya sendiri, toh saya hanya bisa berkomentar saja, bukan memberikan arahan, semoga ia sampai dengan tujuannya dengan usaha dan keyakinannya, tapi kenapa paragraf ini seperti HMI ya, yakin usaha sampai gitu.

Miko dengan motornya tengah diam di dekat tukang buah di jalanan Banjaran sore itu, saya menjemputnya dengan motor yang biasa saya pakai.
Ia rencananya ingin membuat sebuah tas untuk meningkatkan produktivitasnya sebagai wartawan. Saya sendiri sangat salut untuk teman saya yang satu ini, ia tetap seperti dulu, meskipun tubuhnya lebih gempal dari sebelumnya, sepertinya ia butuh olahraga.

Saya hanya bisa memberikan pilihan bahan saja, sebelum adzan berkumandang dan akhirnya kami harus pergi dari tanah di mana aku dibesarkan.

Jalanan Soreang menuju Ciwidey tengah basah waktu kami lalui, hujan sepertinya telah terjadi beberapa waktu sebelumnya. Cimanggu kami jelang.

Banyak sekali orang di ruangan tersebut, mereka tengah pleno, dan sepertinya sangat serius sekali, namun bukan itu yang saya cari terlebih dahulu, saya sangat memerlukan WC saat itu sehingga tidak terlalu mengindahkan Iqmah, Ivan, Salman Kopma dan temannya ketika mereka memasak.

Udara Ciwidey tengah dingin malam itu, sangat dingin sehingga beberapa pleno saya tak terlalu ikuti dengan baik, saya kan cuma penjahit biasa.

Saya pilih untuk tiduran sebentar saja, namun sepertinya itu kalah dengan lumayan berisiknya suara rapat pleno, begitu pun dinginnya udara makin membuat istirahat tidak kunjung nyaman. Menyesal tak kubawa sleeping bag yang biasa aku buat dan kemudian aku jual.

Maklum saja, jika untuk skill menulis saya tak sebaik teman-teman di SUAKA, tapi jika untuk mencari kesempatan mendapatkan uang dari hal yang bisa saya lakukan untuk mendapatkannya, mungkin bisa lebih baik dari strata mahasiswa yang digunakan teman-teman di SUAKA.

Sepertinya ajakan untuk menikmati hangatnya air di pemandian air Cimanggu lebih menarik perhatian kami yang tengah kedinginan ini, sesaat setelah pleno dihentikan untuk sementara, akhirnya saya, Miko, Jawa, Norman, Aad, Iqbal dan Nasrul mendekati pemandian itu, dan akhirnya air hangat itu membasahi kami.

Tak terasa jam 4 pagi telah kami jelang, dan waktunya meninggalkan tempat itu dengan keriput di kulit tangan, dan rambut yang basah kami menuju warung di samping jalan.

Mie rebus dengan telur sangat enak sekali, sepertinya itu adalah menu paling enak di waktu itu. Waktu untuk kami mengingat masa lalu yang akan kami kenang untuk esok hari jikalau umur itu masih ada. Toh mati itu misteri, seperti misterinya kapan mereka akan lupa.

Adzan berkumandang pagi itu, Shubuh kami jelangdan berubah menjadi pagi di Ciwidey, pleno terus berlangsung, saya dan Jawa harus segera meninggalkan tempat itu, tempat yang mungkin akan kami kenali sebagi Reformasi SUAKA tahun ini.

Jalanan saya jelang pulang, dengan beberapa SMS yang kerap kali membuat saya gusar.

Jawa segera menuju Kopo, dan angkot Banjaran saya jelang untuk pulang dan segera menulis, ketakutan akan lupa mungkin menjadi sebab utama kegiatan jurnalistik itu ada.
Takut dilupakan, seperti takut dilupakannya tuhan sehingga ia menulis kitab untuk nabinya, atau itu mungkin terlalu berlebihan, karena rasa sayang tuhan itu nyata jika terus diingat. Mungkin saja.
Entahlah!

Sabtu, 06 Oktober 2012

Rasio Biner


Baru saja sampai di rumah ini, rumah yang kecil mungkin bagi mereka yang mempunyai rumah lebih besar dari rumah ini, rumah yang mungkin lebih besar jika dibanding-bandingkan dengan yang lebih kecil. Seperti itukah mungkin perbandingan.

Rasio, atau perbandingan merupakan alat ukur untuk menilai bahkan menghargai sesuatu, biasanya dalam perbandingan itu kadar konstantanya berbeda, namun bukan untuk menentukan sebuah jumlah yang berbeda semisal A=A atau mungkin jika penilaiannya A=2B sehingga didapat nilai yang sama.

Dulu ketika belajar menjadi mahasiswa kerap kali saya dengar kata rasio, sebagian teman menganggapnya sebagai pikirannya, atau mungkin lebih pastinya penjumlahan saja, hanya untuk mencari sama dengan (=), sehingga kadang kala bilangan yang digunakan itu sifatnya tunggal.

Dalam jenis bilangan ada kategori biner, sehingga bukan angka pasti yang didapat, semuanya tidak terlalu jelas, mungkin jika menyambung-nyambungkan atau mungkin hanya sekedar tafsir saja, efek penggunaan bilangan biner dalam matematika turut mempengaruhi penggunaan teori invisible hand atau tangan tuhan dalam teori ekonomi david ricardo, bahkan mungkin beberapa paham yang mengacu pada nihilisme hingga absurditas mungkin juga efek dari penggunaan bilangan biner dalam akumulasi ilmu yang digunakan dalam konsep berpikirnya.

Ada beberapa kata yang mungkin dalam bahasa Indonesia sering kali menjadi pertanyaan yang tak terjawab, kata misteri dan masa depan.

Saya sendiri sangat takut untuk dua kata tersebut, takut jika misterinya tak akan terungkap karena umur tak sampai. Begitu juga masa depan, seolah semunya terkesan hanya canda gurau saja.

Dulu sering kali saya anggap hidup itu semuanya sudah diatur bahkan sudah dipastikan masuk neraka atau masuk surga, sehingga yakin sekali dengan Qada dan Qadar seseorang hingga pemahaman itu sedikit berkurang karena kata ikhtiar yang sering kali saya dengar untuk beragam maslah yang mungkin sepele, bahkan mungkin dianggap besar.

Sehingga saya sering kali berpikir semuanya itu hanya anggapan saja, da itu saya pastikan biner, seperti halnya teori kemungkinan, atau mungkin memberikan kemungkinan untuk menerima anti thesis, hingga menolak thesis yang telah diterima masyarakat.

Dan kadang kala saya berpikir bahwa semunya itu hanya kumpulan variabel-variabel yang terjumlah saja, namun pemahaman manusia menamakannya biner karena tidak tahu konstanta yang jelas seperti apa. Singkatnya saja semua hal baik secara jelas dapat diterima oleh naluriah manusia, namun untuk sangsi bagi hal buruk itu berbeda tergantung konstanta masyarakat yang dikandungnya.

Sepertinya kata selera menjadi jawaban dari semua hal-hal yang dianggap berbeda penilaiannya oleh sebuah masyarakat.

Bukannya menolak persamaan dari sosialisme namun ada hal personal yang tidak dapat diganggu gugat oleh orang lain. Selera seseorang adalah miliknya sendiri, meskipun itu adalah hasil akumulasi dari selera-selera yang dibangun lingkungannya.

Tapi bagaimana dengan selera tuhan, apakah itu dibangun oleh makhluknya, atau hanya anggapan makhluknya saja mungkin seperti jumlahnya saja biner. Surga dan neraka.


*diketik sembari senggang

Jumat, 20 Juli 2012

Jumaahan 13

Adalah saya yang sedang mengendarai motor pagi ini menuju Bandung, Leles telah aku lewati beserta razia polisi itu juga aku telah lewati, pemandangan yang sedikit aneh untuk sepagi ini, tapi itu tak akan merubah pandangan burukku untuk polisi, mayoritas polisi maksudku, mereka para sipil yang bersenjata.

Begitu pula Rancaekek itu akan saya jelang dan ternyata Dinda masih ada di Subang tengah makan mie, dan segera ia akan ke Bandung untuk mengurusi urusannya dengan beberapa orang yang ia mendapatkan urusan dengannya, dan tentunya dengan kuitansinya.

Saya tengah sampai di Suaka, sebuah daerah yang ada di Cibiru, sebuah Sekre yang selalu saya kenang untuk masa mahasiswa yang telah saya lewati tanpa kesimpulan yang pasti, saya ingin mendengar khutbah di mesjid As-Siraj siang ini.

Jalanan cibiru tengah lengang siang ini, dan begitu pula Dinda tengah ada di buah batu untuk urusannya yang mungkin ia sangat pentingkan. Dan saya menuju kesana setelah Jumaahan selesai.

Sepulang dari masjid saya dapati Dede, ia seorang mantan presma saya dahulu ketika saya masuk kelas MKS, sepertinya ia tegah gusar kerena baru saja resign dari pekerjaannya, terkesannnya saja, soalnya perkataanya sepertinya tidak teratur untuk siang ini, ia tengah bersama seorang perempuan, mungkin ia itu istrinya, atau mungkin pacarnya, ia dulu kerjanya di CIMB, tapi itu dulu, saya hanya memberi saran yang mungkin tak banyak merubah keadaan, mencari kerjalah atau berwiraswasta.

Dan sayapun pamit pada Nasrul dan Salman, juga Hamdan untuk segera menuju Buah Batu.

Dan itu adalah saya yang telah duduk di halaman Stembi, untuk menunggu seorang bidadari jatuh dari tangga lantai dua, dan Dinda tengah ada di halaman lain parkiran sekolah tersebut.

Kami punya renacana untuk hanya bermain-main di Bandung ini, telah lama saya tak jumpai Dinda ternyaa hari ini ia pakai celana, saya tak menduganya sebenarnya, tapi begitulah adanya, dengan dandanan serba hitam ia terlihat seperti itulah. Cantik sekali.

Sembari menunggu waktu,menunjukkan jam 3 sore saya mengajaknya mencari panganan ringan di Buah Batu ini, dan SMU 22 adalah tempat saya sekolah dulupun saya jambangi saja, semoga ada jus dingin disana, dan tentunya ada Panji juga, saya masih ada urusan keuangan dengannya.

“Nda tanggal sabaraha ayeuna?” tanyaku singkat.
“Tanggal 13,” ujarnya singkat.
“Pangnandaankeun dina HP, taun engke jadi hari anniversary,” timpalku singkat.
“Najong...” jawabnya sembari tawa terurai.

Dan saya harap itu jadi kenyataan, tapi jiakpun harus kisah sedih sayapun akan menikmatinya, soalnnya sudah lama saya tak bersedih, tapi itulah adanya, saya sangat tahu pilihan kata sedih itu lebih sedikit dari senang.

Sebenarnya banyak sekali alibi yang saya bangun siang ini, hanya untuk berdua saja, eh mungkin banyakan dan itu saya dengan dinda, beberapa malaikat dan ratusan setan sedang ada dipikiran ataupun pada beberapa hal yang saya anggap itu sangat ghaib.

Dan ternyata Panji belum datang siang ini, dan para warga teater bohlam mau siap-siap untuk MOS hari senin esok, semoga saja saya bisa hadir esok, tapi entahlah, banyak kain di rumah saya soalnnya.

Mesjid di 22 tengah diam saja ketika koridornya mendapat penampilan baru, keramik yang baru mungkin untuk menyambut murid baru tahun ini, banyak sekali penampilan yang lebih hijau di 22 tahun ini, begitupun Dinda tengah shalat ditemani genderang drumyang ditabuh bertalu-talu.

Da hari ini saya akan kenang untuk beberapa jam yang singkat, saya tak ingin membaginya menjadi tulisan mengingatnya saja sudah cukup, mengingat kalau hari ini adalah hari yang indah, meskipun ke Cimahi hanya untuk mengisi bensin premium, dan sedikit mengantuk ketika menjalankan motor menuju pulangnya badan ke rumah di Banjaran, dan itu adalah saya yang mengetik catatan pagi ini.


*diketik dengan senang hati

Jum'at pagi ini

Sepertinya itu adalah saya yang sedang bingung mencari alamat Cirengit tempat futsal di Garut raya, itu tempat futsal yang tengah Husni, Udin dan teman-temannya bermain bola. Bola kaki tepatnya.

Setelah beberapa menit saya mencari tempat tersebut akhirnya saya jumpai juga tempat tersebut, sebuah daerah yang bisa ditempuh dengan 10 menit berkendara motor dari Rancabango.

Mereka tengah asyik bermain bola dengan kaki dan badannya, tawa ringan kerap kali terdengar merdu di malam Jum’at yang dingin ini, Garut sepertinya tak menampakkan banyak bintang malam ini, ternyata Zaki telah pulang dari kampusnya di Malaysia, Zaki itu adiknya Husni, adik kesayangannya. Sepertinya begitu.

Malam ini mereka sepertinya tengah asyik bermain bola dan saya pun tak dihiraukannya, saya hanya mendengar suara merdu di telinga saya, seorang yang mungkin jika pada waktunya akan menjadi cita-cita saya untuk hidup saya yang singkat.

Ternyata ada Fikri tengah bermain bola, saya sendirian sangat kaget untuk beberapa bulan tidak bertemu penampilannya berbeda jauh sekali dari sebelum ia menikahi istrinya, ia berubah beberapa kilo lebih banyak, dan futsal sepertinya sangat cocok untuk jadwalnya sebagai seorang suami.

“Ka pesantren heula atuh?” ujarku
“Hampura ke we deui, aya urusan heula,” ujar Fikri
“Wah nyaan teu bisa di pending heula ieu teh?” tanyaku singkat
“Biasa malem Jumaah, nyunahan heula,” jawabnya singkat
“Aiihhh, heureuyna make status KTP euy ayeuna mah,” timpalku

Obrolan yang singkat diakhiri oleh tawa riang dari banyak orang,  ternyata Fikri menjadi seorang petani hari-hari ini, semoga lancar saja, diselingi oleh bermusik sepertinya, soalnya ia meminta beberapa referensi band yang saya tahu, semisal Bloc Party dan Pale saint, Mogwai dll, semoga saja bermanfaat.

Dan adalah saya yang tengah mengendarai motor menuju Rancabango, Udin telah pulang mendahului sepertinya sama akan melaksanakan tugasnya di malam Jumat ini.

Gerbang pesantren telah tertutup malam ini, dan mi hangat sangat nyaman untuk dimakan malam ini, sepertinya itu pun diamini Husni, begitu pula Zaki.

Malam ini Husni hanya main poker onlen saja, sepertinya ia tengah keranjingan main permainan itu, bermain kartu dengan entah siapa,
“Judi etamah ning, ni?” tanyaku
“Kartu,” ujarnya
“Aslinya ni,” timpalku
“Judi mah teu perlu modal, nupasti mah kawani na,” ujarnya

Entah sampai jam berapa ia bermain game, yang pasti ketika saya terbangun subuh sudah datang, begitu pun para jemaah telah hadir di mesjid, jumlahnya pun seperti halnya saya dulu ketika pertama kali datang, jumaha yang akan saya kenang, ketika shubuh itu lima shaf, dan itu sangat keren, karena shubuh di tempatku itu paling banyak dua shaf.

Pagi ini sepertinya cerah, tak banyak awan putih yang menemani langit Garut, dan sepertinya hangatnya air sempat terlintas, namun ada janji yang harus saya tepati di Bandung hari ini. Saya harus pulang.


*diketik sembari senggang

Kamis Juli, tahun ini

Dan saya sedang duduk di depan komputer ketika Movie Script Ending mulai dinyanyikan oleh Death Cab For Cutie, ternyata mengetik itu mulai tidak secepat dulu ketika hampir tiap kronik saya ketik, sepertinya jari ini mulai lambat dalam mengetik.

Hari di tanggal dua belas Juli ini saya tengah mengendarai motor yang sudah lama saya kendarai, akhirnya sampai juga di Moch Toha, sebuah jalan yang saya harap tidak ada pabrik di sisi jalannya, dengan selokan yang bersih dan sungai Citarum yang jernih seperti kata taruma diartikan oleh kaum pribumi di tanah pasundan ini.

Adalah saya yang tengah mengantarkan ibu saya untuk membeli bahan yang ia kehendaki untuk membuat baju dan beberapa kaos pesanan dari langganannya, begitulah risiko untuk menjadi seorang penjahit seperti saya dan mereka yang punya hajat hidup atas bantuan jarum.

Dan Otista telah saya lewati untuk segera memulai kesibukan lainnya, mengambil uang di teman saya, Santi namanya, ia anak suaka yang tengah Aad sangat sukai, saya sangat merasa bersalah karena perhitungan saya salah dalam menentukan waktu, janjinya saya sampai jam 12, ternyata sampainya jam 1 siang, alangkah saya menyesal untuk itu.

 Ternyata Santi tengah berdiri manis di samping pak Satpam di depan kampus, ternyata ia akan segera pulang untuk menemui ibunya di rumahnya di Salawu, sebuah daerah yang dulu saya jadikan tempat penelitian untuk tugas sosiologi dan antropologi saya ketika SMU, kampung naga namanya.

“Bumi abimah terus deui ti Naga teh,” ujar Santi menerangkan ketika mengobrol di kosannya, entah mengapa saya jadi ingin ke Garut, karena hari ini saya tak ada kerjaan dan saya pikir Salawu bukan tempat yang jauh untuk ditempuh.

Alhasil, akhirnya saya akan mengantarkan Santi ke Salawu setelah lama menunggu di kosannya, ketika Santi telah beres mencuci pakain, sebelumnya saya ke Suaka, inginnya mengajak Aad untuk ikut serta, dan mungkin jika jodohnya ia akan menemui calon mertuanya yang bisa bahasa Inggris.

Saya tak mengira ternyata Salawu itu tempat yang lumayan jauh, ditambah lagi jalanan yang baru untuk jalur saya yang belum saya kenal sehingga perjalanan itu saya lalui dengan santai saja.

Pemandangannya sangat bagus untuk saya yang kerap kali di depan mesin jahit, begitu pun dengan udara dingin sepertinya kurang cocok untuk celana ketat yang saya pakai.

Tasik malaya itu artinya, tasik yang malaya, begitulah dari penuturan Santi, kabarnya banyak batu sisa Galunggung yang menyembur sehingga sepanjang sawah yang saya lewati banyak batu sebesar pintu kerap terlihat, dan begitu pun kampung naga saya jelang, dan sebentar lagi rumah Santi akan saya jumpai.

Hari telah sore untuk wilayah Tasikmalaya, ketika saya sampai di rumahnya, ia mempunyai seorang ibu yang membuka les privat bahasa Inggris, mungkin jika mengobrol denga Miko ia akan memulai bahasa Britishnya, ataupun dengan Ratna, Hayati ataupun Risna yang sejurus dengan bahasa tersebut.

Santi punya dua orang adik yang sekolah di SMK dan SD, namanya Nabil, mirip dengan pacarnya Miko, mirip namanya saja maksud saya tidak secara fisik, soalnya ia itu laki-laki.

Saya jadi enak sekali ketika ada makanan di depan saya, ikan goreng telah tersedia ketika saya makan, dengan nasi panas tentunya jadi enak sekali.

Dan saya harus segera pulang sepertinya, karena teman di Garut telah menunggu saya, di perjalanan pulang ada suara merdu yang hadir di earphone di samping helm saya.

Ternyata Salawu tak sejauh tadi ketika rutenya mulai saya ingat lagi, saya kira anak-anak SUAKA sangat bisa menjadikan Salawu sebagai arena untuk mengisi liburan yang nanti akan dikenang oleh tuan rumah dan semua anggotanya.

Dan Salawu saya pulang dulu, jikalau sempat main lagi ke sana.

*diketik sembari senggang