Kamis, 06 Desember 2012

Bermain ke Tasikmalaya

Rabu pagi ini tidak semendung pagi kemarin, pagi yang lumayan banyak sinar mentari, pagi yang menyuruhku untuk mengerjakan satu hal yang kemarin belum selesai, sebenarnya tulisan kemarin itu hampir setengah halaman, atau mungkin tiga paragraf dan terhapus karena saya pijit lambang x di sisi kanan komputer dan mengetik no setelahnya, sungguh pagi yang banyak sekali kegiatannya.

Adalah Sabtu pagi, saat mentari mulai hangat, dan beberapa saat kemudian mulai menyengat mengantarkan saya membawa motor saya menuju bengkel di mana motor saya hampir menuju sore baru beres, Shogun yang sudah lama saya pakai, sudah ratusan kali saya duduk di joknya, sudah ratusan kali berhenti, sudah saya lupa berapa kali saya isi bensinnya, dan saya tak tahu lagi sudah berapa liter yang saya beli dan saya habiskan untuk perjalanan bersama motor itu, dan saya kira Shogun 125 telah siap saya ajak bermain menuju kota santri di selatan Jawa Barat, Tasikmalaya tepatnya, dan sepertinya begitu untuk sore itu.

Hujan datang sebelum saya berangkat, dan hujan juga datang setelah beberapa saat saya berangkat, bertemankan rintiknya hujan saya melaju pelan saja, pelan saja, karena pandangan buram oleh helm yang telah lama menemani saya, buramnya mungkin sama seperti masa depan saya, buram karena saya kadang bingung saja.

Di earphone saya seseorang tengah bercakap pendek saja, dan perjalanan terus berlanjut, buah batu hampir saja jelang ketika tiba-tiba motor saya harus mendadak berasap tebal dan tak berkutik ketika harus masuk bengkel lagi, dan hanya diam saja ketika saya tinggalkan di sebuah bengkel Suzuki depan Metro, berjabat tangan dan mohon maaf mengganggu malam penjaga bengkel.

Angkot Cibiru tengah melaju ketika saya hentikan, saya hanya bisa melihat seorang bidadari tengah tersenyum dan hanya berucap santai ketika perjalanan mulai melaju, saya harus sadar diri, seorang penjahit seperti saya sepertinya tak mungkin halal berjabat tangan dengannya.

Cibiru saya jelang, dan lalu lintas tak padat malam itu, saya bergegas menuju SUAKA tempat saya dulu ingin memulai mimpi saya, Herton sudah tak ada, untung ada Aad berkenan mengantar saya menuju Jatinangor, tempat kami akan berkumpul, tempat kami akan sekadar berpapasan untuk beberapa waktu, karena kami adalah teman.

Adalah saya yang mungkin menganggap ucapan itu adalah suatu akad, baik terjadi pada satu orang maupun pada beberapa orang, seperti halnya ajakan untuk datang pada pernikahan seorang teman.

Wahid adalah seorang mahasiswa yang telah lulus, ia bergelar sarjana Ushuludin dan entah mengapa gelarnya seperti itu, seperti fakultas saja. Atau mungkin sebuah gelar yang akan menemaninya menuju hidup bahagia dengan Lena teman sepenghidupannya.

Wahid akan menikahi lena pacarnya di Tasik,

“Datang heueuh!” ucapnya santai,

“Siap!,” timpalku.

Saya kenal Wahid itu tak begitu lama, jika mengobrol dengan pak Kirman, seorang tukang sablon tetangganya, Wahid dulu enggan disebut namanya dan hanya ingin dipanggil dengan sebutan Hunter, atau mungkin penyebutannya dengan Hanter saja, entah mengapa pak Kirman berujar demikian, atau mungkin itu yang paling berkesan tentangnya, soalnya masa lalu kan tak ada yang tahu, seperti halnya masa depan saja, tak terlihat jelas. Buram karena seberapa jauh kita bisa merasakan masa depan kita tetap saja hidup di hari ini.

Entah mengapa seolah harus saja, meskipun hanya sebuah ucapan, meskipun banyak pekerjaan di rumah, dan sepertinya kondisi tidak memungkinkan jika pakai hitungan akumulatif, tapi jumlahnya tetap biner.  Saya harus datang.

Malam Minggu yang cukup dingin di Jatinangor, ada seorang pengantin baru di kamar kos, ia dipanggil Adam, ia tak bisa hadir karena pekerjaannya menganggapnya demikian, ia tengah gembira sepertinya dan ajakan memaksa hanya akan merubah situasi gembiranya saja, begitu juga ia sepertinya terlarut dalam tidurnya meski adzan Shubuh telah datang ketika saya tinggalkan ia begitu saja, Husni dan Kahfi  telah datang menjemput, untuk segera menjelang Tasikmalaya, jalanan masih basah sepertinya embun menemani dinginnya udara Rancaekek ketika saya jelang dan Garut saya temui beberapa menit kemudian dengan tak terasa seperti barusan saja, sepertinya obrolan politik membuat saya muak sekali, tapi bukan pada orangnya, tapi pada semua variabel yang membuat teman saya berpolitik. Itu saja tentang politik. Entahlah kenapa saya tak suka yang demikian.

Danil telah beberapa kali dikabari ketika saya hampir sampai di Garut, dan entah mengapa ia begitu lama kami tunggu, dan kami sepertinya harus meneruskan perjalanan yang menuju siang ini menuju Tasikmalaya setelah Irsyad dan Rian kami temui, Terios silver itu terus melaju dan entah mengapa teman-teman berubah menjadi menjengkelkan, atau bahkan menyebalkan.

Saya tak suka jalanan dengan mobil, jika pakai bus untuk perjalanan  kurang dari tiga jam saya masih kuat, tapi lebih dari itu saya berpikir dua kali untuk melaksanakannya, saya lebih pilih kereta atau motor saja.

Dan kami telah samai di Tasikmalaya, sebuah sebutan lain dari kota santri, jalanan benda kami abaikan dan mulai melaju pelan menuju kanan, daerah dekat Dadaha itu sepertinya sedang berbenah menuju kota besar, terlihat dari banyaknya pembangunan di daerah itu.

Rombongan kami dua mobil, dan semua tempat duduk telah terisi, ada Ijul dengan istrinya, dan ada juga Acid dengan suaminya dan Rika dengan suaminya yang mungkin masih ada di rumahnya, begitu juga ada Anggun dengan kemeja batiknya, dan mereka memakai kendaraan berplat B dari Bekasi dan ada Irfan dengan adiknya yang menjadi istri Ijul.

Andi tengah santai sepertinya di hari Minggu yang cerah di Tasikmalaya namun tidak untuk keluarganya, hanya Andi yang tersisa dan beberapa pegawai terlihat di hari Minggu dengan pekerjaannya, dan rumah sebesar itu lengang saja, dengan suara mesin bordir yang terdengar sayu di pagi hari temani saya tidur karena perut samping kiri sakitnya lumayan menyiksa.

Saya kira saya akan sakit hari itu, namun sehabis bangun sakitnya tak kentara. Dan kami melanjutkan perjalanan, sebuah gedung tengah terdengar alunan musik, musik khas undangan pernikahan, mulai dari dangdut dan lagu-lagu yang sedang sering terdengar di media-media setempat, entahlah saya tak terlalu suka, saya lebih suka lagu-lagu yang mereka kurang kenal, dan mungkin jika mereka kenal, mereka akan lebih suka dari saya.

Wahid tengah berkuning emas tua hari itu begitu juga Lena, hanya doa khas pernikahan di islam yang saya bisa ucapkan, dan jawaban amin yang saya dengar, jika pun itu sebuah ucapan saya kira demikian, tapi entahlah saya harapkan lebih.

Jika saya sadari bahwa dua variabel silaturahmi telah terjalin atas terikatnya dua orang ini, semoga jalinannya makin kuat melebihi kuatnya jalinan tali yang kusut ketika bermain layangan, jalinan yang lebih kuat dari tambang yang sering Ucok pegang ketika ia berlayar di lautan, jalinan yang lebih kaut dari seutas tali yang sering dipakai menarik kendaraan yang mogok, jalinan yang lebih kuat dari obat kuat yang sering dijual di jalanan hingga malam, dan jalinan yang lebih kuat dari bersatunya oksigen dan carbon yang membuatnya mengepul di udara, dan jalinan itu saya harap ada di wahid dan lena di harinya.

Jika saja saya bisa berharap, ya Alloh dua orang ini teman saya dan mungkin akan seterusnya menjadi teman saya, saya harap mereka mendapat hal yang paling baik diantara yang paling baik untuk hidupnya, untuk keturunannya kelak.

Wahid tampak gagah siang itu, dan Lena tampak menawan hari itu, mereka ditemani orang tua mereka, semoga indah saja harinya, karena kami akan pulang sehabis berfoto ria di siang hari yang lumayan panas.

Lumayan aneh hari itu, hari yang seolah tak terduga saja, hari yang keren untuk diingat, karena ini adalah hari Minggu yang akan mereka kenang.

Kami harus pergi, begitu juga saya, harus menyudahi makan-makan di resepsi pernikahan mereka. Saya tulis besar sekali di pigura foto mereka, HAVE A NICE DAY!


#sembari menunggu, ditemani satu album Mono dari Jepang

jika boleh saja

jika boleh saja kuminta satu hari yang indah buat besok
besok ketika mata terbuka dan senyuman manja menjadi latarnya
latarnya yang biru seperti cat dinding kamar yang masih berbau harum
harumnya tak mungkin sama seperti makanan tersaji rapi di meja makan pagi ini
pagi ini saja jikalau boleh untuk esok juga



# kamar sempit ketika asiknya melamun ketika lapar dan sakit

Akad itu meneteskan air mata

Banyuresmi telah kami tapaki pagi ini, meski terlambat namun sepertinya ini adalah yang paling tidak ngaret dibanding kegiatan-kegiatan sejenis sebelumnya.

Mobil-mobil telah terparkir di jalanan pagi ini, beberapa orang telah siap, hingga akhirnya mereka pergi juga.

Adam serba hitam pagi ini, pakaiannya maksud saya, Ma Hindun berungu ria pagi ini. Dan rombongan tengah riuh untuk hari bersejarah untuk saudaranya, dari bayi hingga tua renta tersedia, dari mobil Dolak hingga mobil APV juga ada.

Andi telah hadir pagi ini, dan rombongan kami sudah siap dengan beberapa orang yang telah pulang terlebih dahulu, ada kesibukan yang harus mereka jalani.

Saya dan Rivan ternyata tak dapat tempat duduk dan harus menunggu mobil selanjutnya, mobil yang mengantarkan saya terbangun di jalanan Margawati, sebuah daerah atas dataran lainnya, dataran yang kerap kali menjadi tempat banyaknya orang beternak dan bertani, dataran yang menjadi tempat berakadnya Adam Nur Alam, seorang teman yang saya kenal dari pesantren saya dulu.

Berarak kami berjalan menanjak, dari mulai prolog hingga acara yang bertajuk kebudayaan telah terjadi, begitu juga tetesan air mata seorang teman juga hadir di akadnya, wajahnya memerah, hingga siang ini langit cerah sekali, semoga harimu juga cerah.

Saya masih ingat hukum akumulasi yang sifatnya biner, saya harap hidupmu juga demikian biner dengan hasil yang positif meskipun variabelnya kamu tak tahu, saya harap itu proses akumulasi yang menyenangkan untukmu.

Saya masih ingat dengan hukum pasar yang ada dalam Das Kapital, saya harap kamu tidak seperti itu, saya harap semoga kamu tahu jikalau hukum pasar itu adalah kehendakmu bukan kehendak variabel luar pasar yang sifatnya negatif dan positif, begitu juga untukmu dalam ekonomi. Karena kamu imamnya.

Saya masih ingat penjelasan pertama dari arti ekonomi, ekonomi pada dasarnya sebuah ilmu tentang mengelola rumah tangga, ekos itu rumah tangga, dan nomos itu adalah ilmu terapan, dan saya harap kamu tahu kalau ekonomi itu adalah prosesmu untuk rumah tanggamu. Sebuah proses yang mencapai ekuilibrium yang menjadikanmu konstanta semua nilai yang berlaku.

Saya masih ingat jika bersatunya sebuah jalinan silaturahmi itu akan memperbanyak rizki, saya harap kamu sadari itu karena dua keluarga besar telah terjalin silaturahminya. Saya harap kamu sadar itu jika nanti rizkimu bertambah, kamu bisa bersyukur.

Saya masih ingat perkataanmu di malam hari ketika saya berkunjung ke Jatinagor, “Hirupmah lain ku teori,” ujarmu pelan tapi singkat. Saya harap kamu sadar itu juga setiap saat, karena beragam teori bukanlah penentu untuk hidupmu kelak, hidup untuk keluargamu, sebuah hidup yang indah. Aamiin!
Jikalau kamu tahu apa itu massa, sebuah ukuran untuk berat, saya harap kamu tahu, setiap temanmu berharap yang terbaik untukmu, untuk semua ukuran yang ada, untuk semua konstanta, untuk semua masa lalu yang indah, dan untuk semua masa depan yang cerah. Aamiin!

Saya sadar tak tahu artinya doa Rasulllah untuk anaknya ketika mereka dinikahkan, namun saya berharap lebih dari itu, karena kata-kata tak cukup menjelaskan saya dan teman-teman bersuka atas akadmu, sebuah janji untuk masa depanmu yang akan segera kau jelang.

Saya sadar jikalau ini hanyalah beberapa kata-kata yang tertulis saja, dan saya harap kamu tahu jika kami berharap yang terbaik bagimu kelak. Aamiin!


#diketik untuk Adam sembari senggang

Hari tasyrik terakhir tahun ini

Siang ini sepertinya aneh jika mengatakan ini adalah sarapan, sarapan di hari Selasa yang dengan langit yang cenderung panas, di speaker Jonas tengah berkata Am I Wry No untuk Farah, entah siapa itu, tapi yang saya tahu lagu ini disontek oleh Peter Pan sebelum menjadi Noah. Imitasi kadang kala menjadi plagiasi jika terlalu banyak, dan itu saya tahu.

Pagi tadi saya terbangun di Cibiru, dengan pagi yang terlambat shalat Shubuh, dengan nettbook Salman yang menyala, Norman yang tertutup selimut dan komputer Suaka yang ber WARNING terlihat jelas karena merahnya, banyak virus rupanya komputer jurnalis, semoga hatinya tidak terpengaruh virus yang aneh-aneh juga, karena tugas jurnalis itu untuk kemanusiaan, sampai kapan pun.

Tadinya mau menyapa teman di atas gunung sana, tapi rasanya malas, tubuh saya ingin beristirahat, untuk hari-hari yang terasa panjang, meskipun hitungan detik, jam, dan menitnya tetap sama.

Adalah saya yang tengah mengendarai motor tua saya di jalanan Banjaran Minggu pagi ini, akhirnya Banjaran macet juga rupanya, sangat macet untuk ukuran saya di jam Delapan pagi hari.

Saya akan menuju sebuah daerah di Garut, dengan alamat yang saya tidak ketahui sepenuhnya itu ada di mana, entahlah, untuk sebuah ucapan kadang kala menjadi sangat sentimentil untuk saya. Bagi saya janji kadang kala menjadi beban yang jelas harus terlaksana.

“mang haji dupi alamat akad c adam teh dimana?” tulis saya dalam SMS.

Teman saya Adam akan menikah, ia akan menikahi seorang dara asal Garut, sebuah kota yang membesarkannya dengan semua kekurangan dan semua kelebihannya.

Ternyata Garut mempunyai kelebihan kendaraan siang ini, jalanan Kadungora hingga Leles bahkan hingga menuju Tugu Intan siang ini jalanan hampir terus menerus berjalan pelan, sepertinya hari tasyrik terakhir di tahun ini adalah seperti ini, seperti macetnya jalanan ini, jalanan menuju Garut tahun ini, jalanan yang sering saya lewati bersama Shogun 125 milik saya, milik saya yang harus segera turun mesin, karena kebakaran tiap hari melandanya ketika asap mulai mengepul dari knalpotnya.

Saya awalnya mengira Irsyad telah pergi mendahului saya siang ini, ternyata dari kabarnya di pesan singkat, ia baru saja akan memulai perjalanannya siang ini, dan akhirnya saya menuju Rancabango terlebih dahulu untuk mengetahui tempat yang jelas untuk tempat kejadian perkara. Perkara di mana Adam akan jadi seorang bukan perjaka lagi.

Rancabango telah sepi siang ini, sepertinya tidak banyak santri yang melakukan Idul Adha di pesantren ini, dan keluarga Husni tengah adakan semacam acara keluarga, dan saya menunggui warung buka, hingga akhirnya Hari datang bersama istrinya, anaknya, dan adiknya.

Kami shalat di masjid pesantren, mesjid yang dulu mengajarkan kami shalat berjamaah, dan mungkin yang lain shalat berjamaah, sisanya shalat munfarid di asrama. Sungguh kejadian yang diluar dugaan.

Hari mempunyai seorang anak perempuan yang lucu, bukan berarti orang tuanya tidak lucu, tapi bukan waktunya lucu lagi mungkin tepatnya. Entah kenapa Hari sangat disayang dengan kata Keling oleh teman-teman, mungkin perbedaan warna kulit sangat mempengaruhinya, tapi itu tidak berpengaruh untuk anaknya yang lucu itu, Faza ia panggil demikian.

Adalah saya yang mengira jikalau akad pernikahan itu dilaksanakan hari Ahad, adalah saya yang berangkat pagi, adalah saya yang melakukan perjalanan untuk empat jam melelahkan Garut - Bandung untuk sebuah janji kecil seorang lelaki, dan adalah saya yang baru sadar jikalau teman-teman baru saja datang dari rumah Adam, mereka tengah diam di pelataran masjid, Kutub putra ustad Mulyadi, Ijul, Rian Gorgom, Anggun.

Sepertinya kesalahan saya dalam menandai tanggal berefek tak menentu dalam melakukan kegiatan, terutama ini adalah sakralnya sebuah ucapan akad.

Akhirnya kami menunggu di rumahnya saudaranya Husni, sebuah rumah di belakang warung, dengan bertambahnya jumlah teman sepertinya sangat menyenangkan, ada Wahid di sana yang sepertinya akan memberikan undangannya untuk para undangannya, akan menikah juga rupanya.

Irsyad pun datang, dan Ahmad dalam perjalanan menuju Rancabango.

Beristirahat adalah waktu yang indah untuk sebuah ranjang kapuk dengan hari yang panas, dan setelah makan rendang adalah sebuah kenikmatan tersendiri, dan karena tidur adalah kegiatan perseorangan untuk kami di rumah tersebut.

Ternyata akad nikah itu akan dilaksanakan Seninnya, dan akhirnya firasat buruk itu terjadi juga, susahnya pulang itu terjadi juga, dan akhirnya saya hanya diam di Banyuresmi hingga malam ini saya jelang.

Ternyata untuk menjadi seorang pengantin itu butuh perjuangan butuh mental yang kuat hingga semua variabel mencapai ekuilibrium, sepertinya ada kegundahan di hati Adam, ia tak tenang, dan saya harap ia menikmatinya untuk menjadi proses akumulasi hidupnya, ia akan menjadi seorang suami, seorang bapak, seorang imam untuk istrinya, mungkin panggilannya bukan hanya Syifa saja ada hal lain bagi mereka berdua, hal indah yang akan mereka kenang, hal sentimentil, saya harap jika kamu tahu lagu Symetry dari Mew, kamu akan seindah puisi itu.

Malam ini telah datang, dan Chelsea harus kalah karena peraturan yang tak adil menurut saya, dan malam ini saya harus tidur seperti Wahid, dan Ahmad, dan sepertinya bukan seperti Rivan yang tidur dengan aurat yang tak jelas juntrungannya, dan Icad sepertinya bermain PS bareng Husni dan entah siapa lagi ada di atas sana, di atas yang sedang menggunakan Joystick untuk permainan mereka.

Esok Adam harus berakad nikah.


#diketik sembari senggang

Missing You

Entah mengapa malam ini sulit untuk tidur, mungkin sedari siang terlalu banyak kegiatan menutup mata, sehingga sekarang saja belum tertidur seperti kemarin. Sepertinya rasa sakit tidak berbuah manis hari ini, saya sepertinya kurang bersyukur dengan tidak beristirahat dan hanya mengetik dan mendengar Slowdive bernyanyi di youtube, lagu yang kerap saya hafal, karena delaynya yang mengawang perlahan.

Judulnya Missing you, mungkin saya seperti perasaan saya, sedang rindu dengan kata maaf dari seorang teman yang telah enggan, aduh sepertinya paragraf ini terlalu sentimentil.

Jika ingat kata sentimentil, saya selalu ingat lagunya Blueboy yang Melancholia, bukan alasan yang jelas tapi ingat saja, seolah lagu itu berkata tentang keadaan.

Ada yang menarik dari penggambaran lagu Slowdive yang satu ini, hanya gambaran hitam putih perjalanan seseorang keluar dari stasiun kereta bawah tanah, berjalan berkeliling kota, seolah yang bingung saja, mungkin ini yang membuat judul lagu dan penggambarannya sulit diterima untuk pertama kali, atau mungkin ini penggambaran paling tepat karena, merindukanmu seperti mencari dalam kebingungan.


#diketik sembari senggang,

Cuma Penjahit Biasa

Baru saja jalanan Ciwidey saya lalui dengan teman, Riza namanya, kerap kali dipanggil Jawa, entah mengapa teman-teman memanggilnya begitu, mungkin karena ia bisa bahasa Jawa, atau mungkin karena Banyuwangi bukan Jawa Barat, tentunya.

Koil sedang main di speaker siang ini, sepertinya hari ini akan turun hujan, seperti lagu yang sedang didengar lagu hujan.
Entah berapa kali lagu ini diputar, sangat apik terlantun, dan kabarnya Otong KOIL akan mainkan beberapa lagunya live di Gasibu hari ini, itu juga menurut kabar dari Facebook KOIL dan beberapa kabar dari Seperturan, inginnya aku menontonnya, namun sepertinya aku harus istirahat, beberapa jam ke belakang sangatlah menguras energi.

Sore lalu teman saya Riza tengah berbelanja beberapa keperluan minumnya di Griya Banjaran, dan Miko belum ada kabar jam berapa ia akan berangkat menuju Banjaran, rencananya kami akan menjadi alumni di reformasi SUAKA.

Alumni? Sepertinya lulus saja saya tak sanggup, aduh jadi minder.

Reformasi SUAKA merupakan hal lain dari pemilihan pimpinan baru di SUAKA, saya awalnya bertanya-tanya kenapa namanya Reformasi, menurut Ekos dulu, nama itu disepakati bersama dalam beberapa tahun ke belakang, mungkin efek penggunaan kata tersebut dalam eranya mahasiswa sebagai agen pembaharuan. Baru saja merakan baru mungkin.

Saya mengendarai motor Shogun yang saya punyai di jalan desa Ciapus dengan melewati 36 portal kecil, atau yang kerap kali disebut polisi tidur, entah mengapa saya iseng menghitung hal tersebut, menarik sekali untuk saya, karena dengan jarak satu kilometer kurang beberapa meter jumlah polisi tidur itu adalah jumlah yang cukup mengamankan arena bermain anak-anak yang telah hilang dan menggunakan jalanan sebagai tempatnya bermain sepeda dan lainnya di desa kami. Anak desa sepertiku sangat maklum untuk hal itu.

Di Griya Jawa tengah membawa plastik warna putih dengan sablonan Griya, ia tengah mencari seseorang ketika saya pandangi dari seberang jalan, saya hanya melambai dan mengajaknya menuju rumah saya yang kecil, dua bangunan dengan banyak jendela dan sedikit kamar jika dibandingkan asrama dua saudara.

“Ka imah heula we, sekalian istirahat heula jeng nungguan si Miko dek ka imah,” ujarku

Ia akhirnya ikut juga, di rumah saya hanya bakso langganan depan rumah yang bisa tersaji, maklum saat itu tak ada persiapan menyambut tamu yang akan datang, saya sedang menjahit saat itu dan sekarang sedang mengetik.

Jawa tengah mempersiapkan masa depannya dengan magisternya di Unisba, salah satu universitas sangat ternama di Bandung Raya, saya hanya bisa berkomentar sebisanya, maklum saya hanya buruh jahit biasa.

“Mun gawe mah tetep prioritas, mun kuliah mah investasi,” ujarnya

Saya sangat mengapresiasi niatannya untuk merangkai hidupnya dengan caranya sendiri, toh saya hanya bisa berkomentar saja, bukan memberikan arahan, semoga ia sampai dengan tujuannya dengan usaha dan keyakinannya, tapi kenapa paragraf ini seperti HMI ya, yakin usaha sampai gitu.

Miko dengan motornya tengah diam di dekat tukang buah di jalanan Banjaran sore itu, saya menjemputnya dengan motor yang biasa saya pakai.
Ia rencananya ingin membuat sebuah tas untuk meningkatkan produktivitasnya sebagai wartawan. Saya sendiri sangat salut untuk teman saya yang satu ini, ia tetap seperti dulu, meskipun tubuhnya lebih gempal dari sebelumnya, sepertinya ia butuh olahraga.

Saya hanya bisa memberikan pilihan bahan saja, sebelum adzan berkumandang dan akhirnya kami harus pergi dari tanah di mana aku dibesarkan.

Jalanan Soreang menuju Ciwidey tengah basah waktu kami lalui, hujan sepertinya telah terjadi beberapa waktu sebelumnya. Cimanggu kami jelang.

Banyak sekali orang di ruangan tersebut, mereka tengah pleno, dan sepertinya sangat serius sekali, namun bukan itu yang saya cari terlebih dahulu, saya sangat memerlukan WC saat itu sehingga tidak terlalu mengindahkan Iqmah, Ivan, Salman Kopma dan temannya ketika mereka memasak.

Udara Ciwidey tengah dingin malam itu, sangat dingin sehingga beberapa pleno saya tak terlalu ikuti dengan baik, saya kan cuma penjahit biasa.

Saya pilih untuk tiduran sebentar saja, namun sepertinya itu kalah dengan lumayan berisiknya suara rapat pleno, begitu pun dinginnya udara makin membuat istirahat tidak kunjung nyaman. Menyesal tak kubawa sleeping bag yang biasa aku buat dan kemudian aku jual.

Maklum saja, jika untuk skill menulis saya tak sebaik teman-teman di SUAKA, tapi jika untuk mencari kesempatan mendapatkan uang dari hal yang bisa saya lakukan untuk mendapatkannya, mungkin bisa lebih baik dari strata mahasiswa yang digunakan teman-teman di SUAKA.

Sepertinya ajakan untuk menikmati hangatnya air di pemandian air Cimanggu lebih menarik perhatian kami yang tengah kedinginan ini, sesaat setelah pleno dihentikan untuk sementara, akhirnya saya, Miko, Jawa, Norman, Aad, Iqbal dan Nasrul mendekati pemandian itu, dan akhirnya air hangat itu membasahi kami.

Tak terasa jam 4 pagi telah kami jelang, dan waktunya meninggalkan tempat itu dengan keriput di kulit tangan, dan rambut yang basah kami menuju warung di samping jalan.

Mie rebus dengan telur sangat enak sekali, sepertinya itu adalah menu paling enak di waktu itu. Waktu untuk kami mengingat masa lalu yang akan kami kenang untuk esok hari jikalau umur itu masih ada. Toh mati itu misteri, seperti misterinya kapan mereka akan lupa.

Adzan berkumandang pagi itu, Shubuh kami jelangdan berubah menjadi pagi di Ciwidey, pleno terus berlangsung, saya dan Jawa harus segera meninggalkan tempat itu, tempat yang mungkin akan kami kenali sebagi Reformasi SUAKA tahun ini.

Jalanan saya jelang pulang, dengan beberapa SMS yang kerap kali membuat saya gusar.

Jawa segera menuju Kopo, dan angkot Banjaran saya jelang untuk pulang dan segera menulis, ketakutan akan lupa mungkin menjadi sebab utama kegiatan jurnalistik itu ada.
Takut dilupakan, seperti takut dilupakannya tuhan sehingga ia menulis kitab untuk nabinya, atau itu mungkin terlalu berlebihan, karena rasa sayang tuhan itu nyata jika terus diingat. Mungkin saja.
Entahlah!

Sabtu, 06 Oktober 2012

Rasio Biner


Baru saja sampai di rumah ini, rumah yang kecil mungkin bagi mereka yang mempunyai rumah lebih besar dari rumah ini, rumah yang mungkin lebih besar jika dibanding-bandingkan dengan yang lebih kecil. Seperti itukah mungkin perbandingan.

Rasio, atau perbandingan merupakan alat ukur untuk menilai bahkan menghargai sesuatu, biasanya dalam perbandingan itu kadar konstantanya berbeda, namun bukan untuk menentukan sebuah jumlah yang berbeda semisal A=A atau mungkin jika penilaiannya A=2B sehingga didapat nilai yang sama.

Dulu ketika belajar menjadi mahasiswa kerap kali saya dengar kata rasio, sebagian teman menganggapnya sebagai pikirannya, atau mungkin lebih pastinya penjumlahan saja, hanya untuk mencari sama dengan (=), sehingga kadang kala bilangan yang digunakan itu sifatnya tunggal.

Dalam jenis bilangan ada kategori biner, sehingga bukan angka pasti yang didapat, semuanya tidak terlalu jelas, mungkin jika menyambung-nyambungkan atau mungkin hanya sekedar tafsir saja, efek penggunaan bilangan biner dalam matematika turut mempengaruhi penggunaan teori invisible hand atau tangan tuhan dalam teori ekonomi david ricardo, bahkan mungkin beberapa paham yang mengacu pada nihilisme hingga absurditas mungkin juga efek dari penggunaan bilangan biner dalam akumulasi ilmu yang digunakan dalam konsep berpikirnya.

Ada beberapa kata yang mungkin dalam bahasa Indonesia sering kali menjadi pertanyaan yang tak terjawab, kata misteri dan masa depan.

Saya sendiri sangat takut untuk dua kata tersebut, takut jika misterinya tak akan terungkap karena umur tak sampai. Begitu juga masa depan, seolah semunya terkesan hanya canda gurau saja.

Dulu sering kali saya anggap hidup itu semuanya sudah diatur bahkan sudah dipastikan masuk neraka atau masuk surga, sehingga yakin sekali dengan Qada dan Qadar seseorang hingga pemahaman itu sedikit berkurang karena kata ikhtiar yang sering kali saya dengar untuk beragam maslah yang mungkin sepele, bahkan mungkin dianggap besar.

Sehingga saya sering kali berpikir semuanya itu hanya anggapan saja, da itu saya pastikan biner, seperti halnya teori kemungkinan, atau mungkin memberikan kemungkinan untuk menerima anti thesis, hingga menolak thesis yang telah diterima masyarakat.

Dan kadang kala saya berpikir bahwa semunya itu hanya kumpulan variabel-variabel yang terjumlah saja, namun pemahaman manusia menamakannya biner karena tidak tahu konstanta yang jelas seperti apa. Singkatnya saja semua hal baik secara jelas dapat diterima oleh naluriah manusia, namun untuk sangsi bagi hal buruk itu berbeda tergantung konstanta masyarakat yang dikandungnya.

Sepertinya kata selera menjadi jawaban dari semua hal-hal yang dianggap berbeda penilaiannya oleh sebuah masyarakat.

Bukannya menolak persamaan dari sosialisme namun ada hal personal yang tidak dapat diganggu gugat oleh orang lain. Selera seseorang adalah miliknya sendiri, meskipun itu adalah hasil akumulasi dari selera-selera yang dibangun lingkungannya.

Tapi bagaimana dengan selera tuhan, apakah itu dibangun oleh makhluknya, atau hanya anggapan makhluknya saja mungkin seperti jumlahnya saja biner. Surga dan neraka.


*diketik sembari senggang