17 Agustus, tahun ini
Tangan saya telah
dingin oleh udara Bandung hari ini, yahari senin yang cerah di Banjaran,
berbeda dengan senin sebelumnya di Malang sana,entah diksi yang cocok
untuk kata malang sebenarnya ataupun Malang dengan artisebuah kota di
Jatim sana.
17 Agustus pagi ini jalanan di Banjaran
telah lengang,seperti akan menyambut sesuatu dari arah Ciapus sana, ya
saya berjalan kakisaja menyusuri jalanan Ciapus, jalanan sejauh satu
kilo meter tepat terhitungdari penanda jarak di motor saya dulu ketika
masih benar, jarak yang cukupuntuk prolog pagi itu, pagi yang akan
mengawali perjalanan paling jauh darirumah untuk tahun ini saja.
Di tangan kiri saya plastik putih berisi air mineral danbeberapa cemilan kecil, di tangan kanan saya ada trashbag dan lembaran plastik yang tak sempat saya jadikan jashujan.
Jalanan
tampak riuh dengan orang-orang yang menikmati tanggalkemerdekaan
negaranya, tapi bagi saya kemerdekaan adalah ketika terbebas
darikewajiban, ya kewajiban sebagai manusia yang tahu kewajibannya saja
dengan katalain jika ilmunya belum memerdekakan manusia kemungkinan
masih terjajah olehnafsunya.
Beragam atribut mulai dari
menjadi bencong hingga hewanterpampang jelas di jalanan, mungkin itulah
cara mereka menikmati tanggalkemerdekaannya, tapi berdandan menjadi
lain kodratnya saya anggap merupakanpenjajahan terhadap dirinya sendiri.
Rumah
saya sudah dekat dan para anak-anak tengah sibuk di sampingjalanan
dengan berbagai ekspresi, mulai dari takut hingga biasa saja.
Menikmatitontonan nyata di hari Minggu, mungkin lebih baik daripada
menonton film dikotak elektronik sana.
Persiapan pun
dimulai di pagi ini, pagi yang mengawali sayameninggalkan rumah, menuju
atap pulau Jawa sana, menuju titik tertinggi daratanini, semoga tak ada
halang rintang dalam perjalanan hari ini.
Memulai perjalanan
Hari
ini tas pinjaman saya ari A Elfa telah siap, terlihatterisi penuh
dengan berat yang melebihi biasanya, saya dapat bagian membawatenda trip
kali itu, saya hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk tugas sayakali
itu.
Setelah semua persiapan sudah siap, motor telah di
depanpintu sana sudah siap mengantar saya menuju daerah yang tak saya
kenali, Semerusemua orang panggil demikian, saya tak tahu arti dari kata
tersebut, yang sayatahu puncaknya Mahameru, dengan keangkuhan
sepertinya puncaknya dinamai, yangsaya tahu maha itu selain punya
mahasiswa tapi batasan atas tafsiran sebuahnama, ya nama Tuhan kami.
Siang
itu Kiara Condong telah saya pijaki, ya di depan stasiunsaya temukan
Faisal dengan temannya Rizki, saya panggil dua huruf terakhirnyasaja.
Para
teman sudah siap ternyata di stasiun sana, semua telahhadir. Azie,
Dian, Adoy, Arie, Faisal dan Kiki, sedang Ratna rencananya akanbertemu
di Malang sana.
Tiket telah saya pegang, saya masukan
ke tas kecil saya,tentunya setelah diperiksa oleh petugas stasiun dan
menunggu kereta datangseolah lama sekali, ada yang kurang di hari ini,
suara seorang gadis cantik di handphone melengkapi awal perjalanansaya hari itu.
Di kereta.
Dalam
hitungan jari saya masih terhitung jelasnya saya menaikikereta api,
sepertinya beberapa kali entah 6 kali atau entah berapa
pastinya,sepertinya kurang dari sepuluh namun untuk kali ini sepertinya
rasanya lain,naik kereta lebih teratur dan lebih nyaman, namun dengan
semua kelebihanmembuat saya harus membayar lebih, namun untuk itu saya
jadi lebih bisabersyukur, karena kebetulan uangnya pun ada.
Ternyata
di kereta ada restoran semampunya juga, ya semisalkopi dan mi instan
bisa dengan cepat langsung dibuat, sedangkan nasi gorengbisa langsung
disajikan dan tentunya menjadi pilihan yang menguntungkan jikasedang
dalam perjalanan, karena kereta api tak bisa menunggumu walaupun
hanyasekedar membeli sebatang rokok atau seonggok roti tawar.
Duduk
lama sepertinya membuat waktu menjadi semakin manjasaja, seolah terus
melekat dengan semua orang, sedang mereka yang di luarkereta tengah
terdiam ataupun hanya melihat ketika kereta yang saya tumpangimemelesat
dengan kecepatan tinggi, kami yang terbawa cepatnya kereta
segerameninggalkan Bandung menuju Malang sana, sebuah kota yang terkenal
denganapelnya, dengan universitasnya dengan kemiripannya dengan
Bandung.
Saya, Dian, Arie duduk sebangku sedang Adoy
dan Azie didepan kami yang sedang duduk, mereka ternyata duduk juga, dan
ada satu orangsantri yang sekolah di entah saya lupa lagi bahkan saya
lupa lagi namanya siapadan sekolah di mana yang saya ingat ia mengaku
santri kelas dua aliyah, dan iatepat duduk di hadapan saya sedang tidur
rupanya. Dan Faisal duduk di seberangsana, ia bersama rombongan ibu-ibu
yang membawa anaknya, juga Kiki ia berbedagerbong dengan kami.
Menuju
malam suasana makin tidak terkendali, terutama denganposisi tidur dan
duduk yang berkurang kenyamanannya, mungkin karena Faisal ikutserta
dalam posisi kami yang sengaja begitu saja, namun dalam keadaan yang
takterkendali saya namakan ia Faisal Bedebah karena membuat formasi
duduk yangnyaman terusik untuk beberapa saat. Sekali lagi ah, Faisal
Bedebah!
Malam berganti pagi, kereta Malabar yang saya
tumpangi telahsampai di stasiun Malang, tepatnya kota Malang dengan
udara yang sayakenal,mirip Bandung sekali.
Menuju Tempat Kejadian Perkara
Saya
sengaja tulis judulnya demikian, karena untuk saya sajasaya tak ingin
beri judul dengan kata lainnya, sebuah nama mengingatkan sayadengan
beberapa situasi yang saya tak ingin ulangi lagi.
Malang
tengah dingin pagi ini, cerah sekali dengan udarayang mirip ketika saya
bangun pagi di Banjaran, menyejukkan sekali, seorangsupir tengah
mengobrol dengan Faisal dengan bahasa Jawa, saya tak mengertimaksudnya
apa, mungkin Faisal mengonsultasikan rencana masa depannya dengan
paksupir tersebut, mungkin ia mengadu pada pak supir karena saya
memanggilnyabedebah, atau mungkin juga ada hal lainnya. Saya tak tahu.
Saya
temukan Ratna telah ada di Malang ini, ia diantar olehsaudaranya,
terlihat siap memulai perjalanan, dengan sepatu yang telah hadir
dikakinya, sebuah ransel yang sepertinya penuh dengan entah isinya apa
saja dansenyuman yang mengawali pertemuan saya dengan dokter muda RS
Dustira ini,entahlah ia ini seorang dokter atau pendaki gunung. Jika ia
dua-duanya sayakhawatir ia akan buka praktek di hutan sana, atau mungkin
ia akan mengobatipasiennya dengan obat yang ia racik sendiri dari
pendakiannya selama di gunung.Entahlah.
Yang saya tahu
sekarang itu tujuan selanjutnya ialah menujutempat rental alat kemping,
Adoy secara tak sengaja meninggalkan sepatunya diBandung, entah ada
siapa yang membuat ia lupa, mungkin seorang yang sangatspesial di
hatinya membuatnya bingung, seorang yang mungkin akan
mengisikebingungannya dengan semua rencananya. Seperti tulisan di kertas
kemarin. AKUDAN KAMU, NANTI DI RANU KUMBOLO. Semoga rencananya
tersiapkan dengan baik,karena saya yakin Adoy itu orang baik, dan saya
yakin hanya orang baiklah yangpantas bersanding dengan orang baik.
Rental
alat kemping telah di gang depan kami, saya turuntemani Adoy mencari
sepatunya yang akan ia sewa, ternyata rental alat-alatkemping punya
harga yang lumayan tinggi, itu membuat saya semakin yakin untukikut
dalam bisnis tersebut. Bisnis yang saya rencanakan dengan
sebaik-baiknyarencana saya.
Setelah mendapat barang
yang dimaksud mobil melaju pelanmenuju pasar Tumpang, nama yang aneh
bagi saya awalnya namun apa daya saya takbisa mengubahnya, pada
kenyataannya Jack Derrida tak bisa memberikan nilaidekonstruksi untuk
sebuah kenyataan yang harus ditelan mentah-mentah, sebuahnomenklatur
yang tak bisa diganggu gugat.
Sebuah rumah menjadi
shelter sementara ada di belakang pasartersebut, ya kami transit untuk
beberapa saat di sana, dan membeli beberapalogistik yang akan kami bawa
untuk perjalanan kami.
Pasar setempat kami
jelajahi dengan beberapa panganan jugatelah kami nikmati, dan Ranu Pani
kami jelang dengan truk. Perjalanan yangsempat membuat saya berdebar
kencang hari itu, perjalanan yang sempat membuatsaya bingung dengan
tujuan saya, perjalanan yang sempat membuat rindu pulangsemakin menjadi,
perjalanan yang sempat membuat saya ingin segera pulang walauhanya
ingin bertemu kamu untuk sebentar saja.
Semua orang
sudah siap dan pendakian pun dimulai di terikmatahari ini, jalanan
berdebu mulai saya dapati, dan pegunungan yang kerap kalimenjadi
destinasi banyak pendaki gunung saya dapati juga, sebuah tempat
yangmenyejukkan rupanya.
Ternyata Faisal mempunyai
masalah dengan perutnya, sempat iasangat rewel dalam perjalanan kali
ini, sepertinya penyakit mencret sangat takcocok untuk mencapai tempat
kejadian perkara.
Namun dengan semua kejadian yang
dilakukan siang itu,akhirnya Ranu Kumbolo saya dapati juga, ternyata
lebih indah dari foto-fotoyang pernah saya lihat, air yang jernih
memantulkan cahaya bulan malam ini,beberapa bintang berbinar ramah
menyambut kami di danau ini.
Berkemah dimulai dan
selanjutnya bisa ditebak, kamimakan-makan dan minum-minum, sembari
bercanda ringan menghabiskan logistik yangada. Menutup malam dengan
kedipan mata terakhir malam ini, malam yang indah danmungkin sangat
syahdu jika Dinda bisa ikut.
Pagi itu saya disambut
dengan butiran es di atas tenda,dengan udara dingin yang menusuk kulit,
dengan langit yang indah, dengan semuakenangan yang indah yang akan kami
sangat kenali, dengan cahaya matahari yangdirindukan menyapa kulit
dengan bukit berpasir di sana dan kenangan manismempunyai teman yang
baik hatinya.
Pagi berganti hangat semakin hangat dan
mulai memanaskansituasi, semua patok di tenda telah terlepas, makanan
telah tersedia, kamiberbenah untuk memulai pendakian kembali.
Ranu
Kumbolo kami lewati begitu saja, di sisi lain danau adabanyak sekali
tenda, dengan banyak sekali sampah, namun tidak sehebat sampahketika
mendaki gunung Slamet, sampah di sini lebih terkondisikan dengan
lebihbaik. Arie bilang tanjakan di depan itu tanjakan Cinta, entah siap
yangmenamainya entah apa juga di belakang penamaan itu, yang pasti itu
tanjakankedua untuk perjalanan hari ini, di depan ada Oro Oro Ombo,
sebuah deretanpadang Savana dengan Lavender ungu di atasnya, beberapa
sisi kanan sebagianhabis terbakar rupanya, sayang sekali Lavender
terlihat gersang siang itu,mungkin waktu yang lain bisa saya jumpai
ketika mekar.
Selanjutnya Cemoro Kandang, rupanya itu
nama bagi daerahberbukit yang banyak sekali pohon cemara, jika
melihatnya saya ingat gunung Puntangdi Banjaran sini, namun dengan pohon
yang lebih besar dan debu yang lebihbanyak.
Tak terasa
perjalanan semakin sore saja, ya Jambangan telahkami lewati puncak
Mahameru sudah menanti di depan sana, Kalimati kami jelangbeberapa menit
lagi.
Di Kalimati ada sumber air yang dinamai Sumber
Mani,terkesan sangat erat dengan seks tapi sepertinya itu hanya bagian
kecil dariperan sumber air ini, ternyata Sumber Mani hanya satu-satunya
sumber air di arsiranKalimati, sehingga disarankan membawa air hingga
sore hari saja, soalnya jikaberpapasan dengan binatang buas selanjutnya
akan masuk ke koran lokal dantentunya berita naas untuk sanak saudara.
Sumber
Mani punya air yang menguras habis rasa haus, airnyadingin dan saya
rasa itu air paling nikmat dari semua perjalanan saya mendakigunung,
jika pun tak percaya, coba saja simpan sebanyak mungkin rasa haus
dansegera minum air di mata air tersebut.
Tenda telah
berdiri kokoh ketika saya pulang mengambil air,setelah Maghrib segera
shalat dan siap-siap melaksanakan perjalanan malammenuju puncak, ya trek
yang tidak diketahui oleh kami berdelapan membuat kamimengutamakan
waktu yang lebih senggang untuk menuju puncak.
Bulan
tengah indah malam ini, jika kamu di sini kamu punakan tahu bulan itu
indah adanya, udara malam tengah dingin kala itu, sepertiadanya dingin
semua orang tahu akan hal itu.
Berdelapan sudah siap dengan pakaiannya masing-masing,dengan head lamp
di atas kepala, dengan jaketnya masing-masing, dengan rasapenasaran
yang berkobar rendah di kepalanya masing-masing, dengan nyalasemangat
yang terus dijaga di benaknya masing-masing.
Doa telah
terlontar pelan memulai perjalanan kami, puncak punsegera kami jelang,
dari kalimati kami menyusuri jalan ke bawah menuju jalansetapak menuju
Arcopodo, daerah berdebu di ditapaki pelan saja, denganistirahat yang
kadang menjadikan kaki lebih nyaman untuk berjalan lagi, hinggaakhir
vegetasi nampaknya semuanya baik-baik saja.
Gunungan
pasir di sana mengajarkan kami untuk tetap tahubatasan menjadi dirinya
masing-masing, begitu juga dengan saya, saya hampirsaja bingung kenapa
juga harus mendaki sejauh ini, meninggalkan rumah,meninggalkan tugas
saya sebagai buruh kecil di rumah jahit yang saya kelola,meninggalkan
pesanan seteman yang mungkin kemarin sedang marah-marah karenaditagih
temannya, tapi saya yakin pendakian itu hanya sementara, dan ini
hanyaduniawi semata.
Kebingungan terbayar lengkap
dengan semua jawaban kenyataanyang ada disana, angin yang kerap kali
menyapa lebih mesra dari dekapan seorangibu, pasir membelai lebih keras
dibandingkan belaian lembut pari lainnya, danternyata inikah gunung
tertinggi di pulau Jawa ini.
Kerlip bintang di sana
berbinar lebih indah dalam situasiini, bulan pun demikian, purnama tak
hentinya mengingatkan untuk segera pulangjika rasa penasaran sudah
selesai.
Dalam perjalanan sering sekali beristirahat,
untuk sekedarduduk, ya hanya duduk saja, sepertinya dua langkah turun
satu itu jelas sekali,trek yang berpasir dan keadaan yang hampir saja
membuat semua orang bingung.
Di tengah perjalanan kami
terpisah, ari saya dan Ratna beradadi depan, rupanya Azie dan Faisal
kedinginan, dan beberapa penyakit perutsangat tak nyaman jika ada di
gunung, jika tak percaya silakan wawancara merekaberdua.
Puncak
mulai terlihat, ari rupanya sudah lebih dahulu sampaidan mengabadikan
beberapa momen dengan kameranya, begitu juga dengan tetes airmata yang
terlihat jelas dari bekas air di atas hidungnya, dia menangisternyata,
dan begitu juga saya ketika sampai di puncaknya.
Saya
bingung kenapa harus sampai ke sini, di rumah banyaksekali yang harus
saya kerjakan, kenapa saya harus di sini, apakah saya kurangbersyukur
dengan pekerjaan saya yang saya tinggalkan, ataukah ini hanya mimpi,saya
bingung kenapa saya harus ke tempat pemujaan seperti itu, banyak
sekalisesajen di sana, banyak sekali.
Setelah memotret beberapa gambar, saya pastikan untuk segeraturun, angin di sana kurang bersahabat dengan kulit saya.
Dian
menyusul, juga Faisal, Adoy, dan selanjutnya Kiki dansaya bingung Azie
di mana, ternyata berbeda jalur, saya segera turun dengan Ratna,dan
begitu pun yang lain, rupanya Azie dan Kiki tidak
mengentaskanpendakiannya, Kiki sudah mulai sesak napas di pendakian
pertamanya ini.
Kami sempat duduk di batas vegetasi, sembari mengobrol danmengurai lelah, menuju siang kami menuju tenda di kalimati sana.
Telah
siang rupanya ketika terbangun dari mimpi pendek ditenda, dan pada
kenyataannya kami segera menuju Ranu Kumbolo lagi, dan semuakesenangan
dimulai kembali.
Sepertinya kata hanya terbatas kata
saja untuk tahu jikaditulis, dan gambar pun hanya dokumentasi per sekian
detik untuk menggambarkanindah bisa bangun pagi di Ranu Kumbolo, jika
tak mencobanya, tak akan tahujernih airnya, indahnya pagi itu.
Jika ingin tahu saja, saya sarankan untuk mencobanya, minimal sekali seumur hidup.
Ada
hal yang selama ini saya ingin tulis untuk semua halyang telah terlalui
dari semua perjalanan, saya sangat berterima kasih telahbisa mengenal
kalian, saya sangat bersyukur punya teman seperti kalian.
;)
*ditutup dengan lagu Desire dari Pure Saturday
Minggu, 17 November 2013
Di Pantai, Kemarin
Saya telah lama menunda-nunda
untuk segera menulis, entahlah saya tunda untuk beberapa menit atau
berapa jam, setelah puas memperdengarkan Kings And Queens dari 30 Second
To Mars dan beberapa video yang kerap kali berpikir ulang kenapa
Klaxons buat video klip Echoes di gurun, kenapa video dari Vampire
Weekend kebanyakan simple dengan hasil yang memuaskan, kenapa Karen O
harus berkata “Wait they not love you like i love you..” dalam lagu
Maps, kenapa Toki Asako seksi sekali pas bareng Toe.
Adalah saya yang sedang terus-terusan memperdengarkan Kings and Quens dari 30 Second To Mars sekarang setelah kepulangan saya di rumah ini, ya maksud saya di Banjaran ini.
Dan adalah saya juga yang tengah berbelanja di pasar Banjaran pagi kemarin, dengan daftar dari SMS nya Ibu kyai haji dokter Tiara, ia itu seorang dokter muda dari Sukabumi sana dengan ilmu yang ia peroleh dari Unjani, Unjani itu akronim seperti Puskesmas dan SMS itu adalah singkatan.
Ternyata ia khilaf untuk memberikan daftar pada saya untuk logistik perjalanan kami hari ini, perjalanan yang mengakhiri kami untuk Juni ini, entah kenapa saya ingat The Monophones jika bulan Juni berakhir, seolah sound tracknya itu Rain Of Juli saja. Dan hujan sore ini saya saksikan demikian.
Saya diantar adik saya untuk membawa motor saya kembali ke rumah saya, setelah sebelumnya bersama Dinda dari depan museum Sri Baduga saya temukan ia, ia telah beres dengan wawancara dari calon tempat kerjanya, calon tempat kerjanya mirip sekali dengan suara orang sedang bersin, Holcim!
Saya dengannya menuju Buah Batu, tepatnya depan tol Buah Batu saya berhenti dan seperti perjalanan sebelumnya, saya makan Siomay dengan Baso Tahu yang dijajakan di sana, namun kali ini saya yang ditraktir, karena uang yang ada di ATM tak mau keluar rupanya, entahlah. Dan ATM juga adalah singkatan, Cuma dari bahasa inggris, Automatic Teller Machine, bukan Anjungan Tunai Mandiri karena itu adalah jebakan istilah dari bank Adoy bekerja untuk penetrasi branding di masyarakat Indonesia dan ternyata sebagian orang berhasil terpengaruh.
Dinda tampak cantik kali ini, bukan sekali atau dua kali saya temukan demikian, sepertinya hampir setiap kali demikian terkecuali ketika ia muntah-muntah di Pangrango sana, sebentar paragraf ini sepertinya tidak romantis ya, tapi tak apalah, saya juga yakin semua orang akan berkurang kecantikan atau ketampanan satu saat, tinggal dicek lagi saja momentumnya kapan.
Langit di arah timur sudah menghitam pas saya duduk di sebelah Dinda di sana arah barat tampak cerah, namun hujan poyan datang dengan tak terkira, setelah shalat saya pun mencari tempat yang lebih nyaman untuk duduk, dengan secangkir kopi hangat sepertinya akan lebih menyemangka, sebelum teman-teman datang.
Ternyata saat kopi dihidangkan teman-teman baru saja sampai di hadapan saya dengan hujan yang datang dengan sedikit tetapi banyak saya datangi mobilnya dan berganti tempat dengan adik saya untuk segera membawa pulang motor yang telah lama temani saya ke mana pun saya pegang stangnya.
Dan perjalanan pun dimulai, dengan jalan tol yang sedang mengalami pelebaran, saya kira itu dari efek BBM naik sehingga pelayanan pun harus ditingkatkan, ternyata itu sudah menjadi program Jasamarga sedari 3 bulan lalu.
Cimahi saya jelang bareng Dian, Azi, Dinda, dan Ari. Semuanya dalam satu posisi duduk, dan setelah RS Dustira dan Unjani Ratna dan Tiara akan kami temukan, sehingga teman kami seperjalanan akan lebih banyak lagi.
Seiring matahari yang terus turun di arah barat sana, Tol Baros kami masuki dengan teman yang menunggu di Cileunyi sana, ada Adoy dengan Wildan tengah berdua saja, romantis ga ya?
Ternyata GOR Bandung Lautan Api terlihat seperti katel yang terbalik jika dari tol, di sana mungkin akan menjadi tempat bermain bola para pemain Persib, sehingga jika nanti ada permainan bola yang macet bukan Soreang, dan iring-iringan bobotoh tak bermoral tak akan kebut-kebutan di Banjaran lagi. Sebentar sepertinya bukan GOR tapi lenih mirip Stadion tapi bagaimana menentukan skala itu bangunan GOR atau itu sejenis stadion?
Sebentar lagi Cileunyi dengan kemacetannya yang hampir panjang sekali dengan tahu Sumedang yang beralamat Cileunyi juga dengan Adoy dan Wildan yang menunggu di sana.
Teman seperjalanan telah lengkap, dengan melaju cepat tapi menegangkan terus saja berjalan, sempat di Cicalengka berhenti untuk shalat, dan seterusnya melaju cepat saja.
Dengan ban yang terus saja melaju kencang hampir setiap perjalanan diisi dengan celotehan khas masing-masing, ya masing-masing punya suara yang khas, dengan lantunan lagu yang terdengar kencang dengan keadaan yang terus berubah, Ciamis telah terlewati, dan Banjar pun kami jelang dengan lapar yang terus saja memberikan sinyal tak nyaman di perut, dengan celetukan yang hampir saja tak terkontrol setiap kali melihat warung nasi dan restoran samping jalan.
Dan ternyata restoran yang dituju Azi sangat tepat, dengan porsi yang cukup untuk sekedar berucap syukur dengan nasi dan Soto Betawi sepertinya sudah cukup untuk membuat perut diam untuk sementara waktu.
Perjalanan dimulai lagi, dengan malam yang hampir menuju pagi, dengan jalur yang tak kami ketahui.
Batu Karas, ya sebuah daerah di Pangandaran sana kami jelang dengan teratur, dengan membayar upeti sekadarnya kepada preman setempat dengan tanpa tiket masuk akmi sampai di sana. Tujuannya cuma satu, Batu Nunggul.
Ya, itulah nama destinasinya, sebuah kawasan yang sepi dari wisatawan lainnya, dengan jalur yang tak biasa untuk dilalui.
Sembari hujan yang terus saja datang kami bersiap dengan tenda, dua mata itu tetap mengintai dan perasaan tak enak sempat muncul dan gelak tawa pada paginya meredupkan kecemasan akan binatang liar.
Malam hari itu ternyata badai sedang bermain-main dengan ombak di sana, tepatnya di depan tenda kami dengan deburan yang kerap kali datang membawa putihnya lautan dengan suaranya yang tak kalah dengan suara guntur di atas sana, dan untungnya ketika pagi datang cerah menyambut kesadaran kami.
Sudah cukup kami bersyukur dengan udara yang menyejukkan pagi ini, sudah cukup rasanya untuk tahu indahnya matahari terbit di ufuk timur sana, cukup rasanya untuk tahu indahnya hari ini, hari bersama teman-teman yang mungkin akan kami sangat banggakan untuk masa tua kami, dengan kenangan indah yang tak mungkin bisa diulang, dengan nikmatnya waktu itu, terlebih lagi indahnya waktu bersamamu.
*diketik dengan senang hati
Adalah saya yang sedang terus-terusan memperdengarkan Kings and Quens dari 30 Second To Mars sekarang setelah kepulangan saya di rumah ini, ya maksud saya di Banjaran ini.
Dan adalah saya juga yang tengah berbelanja di pasar Banjaran pagi kemarin, dengan daftar dari SMS nya Ibu kyai haji dokter Tiara, ia itu seorang dokter muda dari Sukabumi sana dengan ilmu yang ia peroleh dari Unjani, Unjani itu akronim seperti Puskesmas dan SMS itu adalah singkatan.
Ternyata ia khilaf untuk memberikan daftar pada saya untuk logistik perjalanan kami hari ini, perjalanan yang mengakhiri kami untuk Juni ini, entah kenapa saya ingat The Monophones jika bulan Juni berakhir, seolah sound tracknya itu Rain Of Juli saja. Dan hujan sore ini saya saksikan demikian.
Saya diantar adik saya untuk membawa motor saya kembali ke rumah saya, setelah sebelumnya bersama Dinda dari depan museum Sri Baduga saya temukan ia, ia telah beres dengan wawancara dari calon tempat kerjanya, calon tempat kerjanya mirip sekali dengan suara orang sedang bersin, Holcim!
Saya dengannya menuju Buah Batu, tepatnya depan tol Buah Batu saya berhenti dan seperti perjalanan sebelumnya, saya makan Siomay dengan Baso Tahu yang dijajakan di sana, namun kali ini saya yang ditraktir, karena uang yang ada di ATM tak mau keluar rupanya, entahlah. Dan ATM juga adalah singkatan, Cuma dari bahasa inggris, Automatic Teller Machine, bukan Anjungan Tunai Mandiri karena itu adalah jebakan istilah dari bank Adoy bekerja untuk penetrasi branding di masyarakat Indonesia dan ternyata sebagian orang berhasil terpengaruh.
Dinda tampak cantik kali ini, bukan sekali atau dua kali saya temukan demikian, sepertinya hampir setiap kali demikian terkecuali ketika ia muntah-muntah di Pangrango sana, sebentar paragraf ini sepertinya tidak romantis ya, tapi tak apalah, saya juga yakin semua orang akan berkurang kecantikan atau ketampanan satu saat, tinggal dicek lagi saja momentumnya kapan.
Langit di arah timur sudah menghitam pas saya duduk di sebelah Dinda di sana arah barat tampak cerah, namun hujan poyan datang dengan tak terkira, setelah shalat saya pun mencari tempat yang lebih nyaman untuk duduk, dengan secangkir kopi hangat sepertinya akan lebih menyemangka, sebelum teman-teman datang.
Ternyata saat kopi dihidangkan teman-teman baru saja sampai di hadapan saya dengan hujan yang datang dengan sedikit tetapi banyak saya datangi mobilnya dan berganti tempat dengan adik saya untuk segera membawa pulang motor yang telah lama temani saya ke mana pun saya pegang stangnya.
Dan perjalanan pun dimulai, dengan jalan tol yang sedang mengalami pelebaran, saya kira itu dari efek BBM naik sehingga pelayanan pun harus ditingkatkan, ternyata itu sudah menjadi program Jasamarga sedari 3 bulan lalu.
Cimahi saya jelang bareng Dian, Azi, Dinda, dan Ari. Semuanya dalam satu posisi duduk, dan setelah RS Dustira dan Unjani Ratna dan Tiara akan kami temukan, sehingga teman kami seperjalanan akan lebih banyak lagi.
Seiring matahari yang terus turun di arah barat sana, Tol Baros kami masuki dengan teman yang menunggu di Cileunyi sana, ada Adoy dengan Wildan tengah berdua saja, romantis ga ya?
Ternyata GOR Bandung Lautan Api terlihat seperti katel yang terbalik jika dari tol, di sana mungkin akan menjadi tempat bermain bola para pemain Persib, sehingga jika nanti ada permainan bola yang macet bukan Soreang, dan iring-iringan bobotoh tak bermoral tak akan kebut-kebutan di Banjaran lagi. Sebentar sepertinya bukan GOR tapi lenih mirip Stadion tapi bagaimana menentukan skala itu bangunan GOR atau itu sejenis stadion?
Sebentar lagi Cileunyi dengan kemacetannya yang hampir panjang sekali dengan tahu Sumedang yang beralamat Cileunyi juga dengan Adoy dan Wildan yang menunggu di sana.
Teman seperjalanan telah lengkap, dengan melaju cepat tapi menegangkan terus saja berjalan, sempat di Cicalengka berhenti untuk shalat, dan seterusnya melaju cepat saja.
Dengan ban yang terus saja melaju kencang hampir setiap perjalanan diisi dengan celotehan khas masing-masing, ya masing-masing punya suara yang khas, dengan lantunan lagu yang terdengar kencang dengan keadaan yang terus berubah, Ciamis telah terlewati, dan Banjar pun kami jelang dengan lapar yang terus saja memberikan sinyal tak nyaman di perut, dengan celetukan yang hampir saja tak terkontrol setiap kali melihat warung nasi dan restoran samping jalan.
Dan ternyata restoran yang dituju Azi sangat tepat, dengan porsi yang cukup untuk sekedar berucap syukur dengan nasi dan Soto Betawi sepertinya sudah cukup untuk membuat perut diam untuk sementara waktu.
Perjalanan dimulai lagi, dengan malam yang hampir menuju pagi, dengan jalur yang tak kami ketahui.
Batu Karas, ya sebuah daerah di Pangandaran sana kami jelang dengan teratur, dengan membayar upeti sekadarnya kepada preman setempat dengan tanpa tiket masuk akmi sampai di sana. Tujuannya cuma satu, Batu Nunggul.
Ya, itulah nama destinasinya, sebuah kawasan yang sepi dari wisatawan lainnya, dengan jalur yang tak biasa untuk dilalui.
Sembari hujan yang terus saja datang kami bersiap dengan tenda, dua mata itu tetap mengintai dan perasaan tak enak sempat muncul dan gelak tawa pada paginya meredupkan kecemasan akan binatang liar.
Malam hari itu ternyata badai sedang bermain-main dengan ombak di sana, tepatnya di depan tenda kami dengan deburan yang kerap kali datang membawa putihnya lautan dengan suaranya yang tak kalah dengan suara guntur di atas sana, dan untungnya ketika pagi datang cerah menyambut kesadaran kami.
Sudah cukup kami bersyukur dengan udara yang menyejukkan pagi ini, sudah cukup rasanya untuk tahu indahnya matahari terbit di ufuk timur sana, cukup rasanya untuk tahu indahnya hari ini, hari bersama teman-teman yang mungkin akan kami sangat banggakan untuk masa tua kami, dengan kenangan indah yang tak mungkin bisa diulang, dengan nikmatnya waktu itu, terlebih lagi indahnya waktu bersamamu.
*diketik dengan senang hati
Hal yang selanjutnya sering
menikmati kesedihan di pagi hari
dengan lirih yang berhujjah
di waktu yang sempat kita cumbui bersama
nun jauh di sana
ihktiar telah berucap pelan untuk setahun lebih
saatnya menjadi dewasa, seperti agungnya gunung
juga dinginnya kumpulan rasa di air lautan
ujar hanya sebentar namun tulisan lebih lama berucap
jika hanya jarak dan waktu yang belum sepakat
mungkin nanti saatnya menjadi lebih sering bersama
*banjaran 3 juli 2013
dengan lirih yang berhujjah
di waktu yang sempat kita cumbui bersama
nun jauh di sana
ihktiar telah berucap pelan untuk setahun lebih
saatnya menjadi dewasa, seperti agungnya gunung
juga dinginnya kumpulan rasa di air lautan
ujar hanya sebentar namun tulisan lebih lama berucap
jika hanya jarak dan waktu yang belum sepakat
mungkin nanti saatnya menjadi lebih sering bersama
*banjaran 3 juli 2013
Demi kian
Selasa, saya panggil hari ini demikian, sebuah hari kedua dalam
hitungan pembelajaran saya sewaktu sekolah dulu, baik SMU maupun
perkuliahan yang tak saya bereskan itu, hari kedua dalam hitungan Minggu
atau hari yang saya yakini berasal dari saduran bahasa arab, entah
mengapa bahasa arab dominan dalam serapan kata yang bersangkutan dengan
hitungan, terutama dalam hitungan hari.
Dan entah mengapa saya dengan pasrah menerimanya, kenapa senin tak disebut gfshdgljadb atau selasa disebut gknkasjkh saja, seolah semuanya sudah menjadi ketetapan jika seminggu itu tujuh hari, sebulan itu empat Minggu dan setahun itu dua belas bulan.
Sebuah ketetapan yang membuat berpikir ulang untuk menghujatnya, ataupun untuk mencari alasannya kenapa harus demikian.
Hari dalam hitungan waktu terdiri dari 24 jam dengan empat waktu yang terselip di antaranya pagi, siang, sore, malam dan entah kenapa itu disebut demikian, seolah harus menerimanya saja, sehingga alasan kadang kala hanya sia-sia untuk mengelak dari waktu yang terus saja bergulir.
Dalam waktu semuanya terjadi begitu cepat, dengan beragam rumus yang diciptakan manusia dengan beragam konstanta hitungan yang membuatnya patokan, semisal detik itu jadi bagian dari menit dan menit membangun jam dan selanjutnya sehingga hitungan tahun pun terjadi, atau mungkin tahun yang terus dibagi-bagi dan didistribusikan menjadi bagian kecil untuk lebih mudah dipahami.
Dalam kitab saya waktu menjadi penanda yang jelas untuk surat yang sangat pendek, sangat jelas sekali esensinya, jika tak hati-hati mempergunakan waktunya pilihannya sudah jelas, keberuntungan atau kerugian.
Saya berusaha untuk menggunakan waktu dengan sebaiknya, meski kadang kala itu hanya semboyan saja, tetapi jika menghitung nilainya, saya kira itu lebih baik karena telah mencobanya.
Misalnya saya beli jam, bukan untuk gaya-gayaan tapi untuk tahu saja jika waktu sedang dalam jam apa, namun dalam jam saya kebanyakan saya gunakan ialah speedometernya saja, saya kadang penasaran dalam kegiatan saya menghabiskan berapa menit, jam, dan detik, sehingga dalam kegiatan pendakian pun saya berlaku demikian, menghitung seberapa cepat perjalanan saya, seperti perjalanan ke Pangrango kemarin, dalam hitungan lebih kurang 25 jam saya berada dalam kawasan gunung Pangrango, beserta sedikit cerita indah dan banyak cerita menyeramkan dari ganasnya alam.
Dan waktu mengajarkan saya untuk bersyukur tentang umur, sedemikian desain yang unik sekali menghantarkan saya untuk sadar berada di sini, dengan saya yang seperti ini, dan keadaan yang harus saya terima, baik dan buruknya.
Demikian dalam hitungan waktu beserta cita-cita dan banyaknya harapan esok akan seperti apa tetap akan saya jelang, dengan baik dan buruknya.
Demikian dalam hitungan waktu umur saya akan jelang dengan seadanya kemampuan saya, dan sepertinya mengapa saya harus dustakan untuk nikmat semegah ini.
*diketik dengan senang hati | Your Hand In Mine – Explosions In The Sky
Dan entah mengapa saya dengan pasrah menerimanya, kenapa senin tak disebut gfshdgljadb atau selasa disebut gknkasjkh saja, seolah semuanya sudah menjadi ketetapan jika seminggu itu tujuh hari, sebulan itu empat Minggu dan setahun itu dua belas bulan.
Sebuah ketetapan yang membuat berpikir ulang untuk menghujatnya, ataupun untuk mencari alasannya kenapa harus demikian.
Hari dalam hitungan waktu terdiri dari 24 jam dengan empat waktu yang terselip di antaranya pagi, siang, sore, malam dan entah kenapa itu disebut demikian, seolah harus menerimanya saja, sehingga alasan kadang kala hanya sia-sia untuk mengelak dari waktu yang terus saja bergulir.
Dalam waktu semuanya terjadi begitu cepat, dengan beragam rumus yang diciptakan manusia dengan beragam konstanta hitungan yang membuatnya patokan, semisal detik itu jadi bagian dari menit dan menit membangun jam dan selanjutnya sehingga hitungan tahun pun terjadi, atau mungkin tahun yang terus dibagi-bagi dan didistribusikan menjadi bagian kecil untuk lebih mudah dipahami.
Dalam kitab saya waktu menjadi penanda yang jelas untuk surat yang sangat pendek, sangat jelas sekali esensinya, jika tak hati-hati mempergunakan waktunya pilihannya sudah jelas, keberuntungan atau kerugian.
Saya berusaha untuk menggunakan waktu dengan sebaiknya, meski kadang kala itu hanya semboyan saja, tetapi jika menghitung nilainya, saya kira itu lebih baik karena telah mencobanya.
Misalnya saya beli jam, bukan untuk gaya-gayaan tapi untuk tahu saja jika waktu sedang dalam jam apa, namun dalam jam saya kebanyakan saya gunakan ialah speedometernya saja, saya kadang penasaran dalam kegiatan saya menghabiskan berapa menit, jam, dan detik, sehingga dalam kegiatan pendakian pun saya berlaku demikian, menghitung seberapa cepat perjalanan saya, seperti perjalanan ke Pangrango kemarin, dalam hitungan lebih kurang 25 jam saya berada dalam kawasan gunung Pangrango, beserta sedikit cerita indah dan banyak cerita menyeramkan dari ganasnya alam.
Dan waktu mengajarkan saya untuk bersyukur tentang umur, sedemikian desain yang unik sekali menghantarkan saya untuk sadar berada di sini, dengan saya yang seperti ini, dan keadaan yang harus saya terima, baik dan buruknya.
Demikian dalam hitungan waktu beserta cita-cita dan banyaknya harapan esok akan seperti apa tetap akan saya jelang, dengan baik dan buruknya.
Demikian dalam hitungan waktu umur saya akan jelang dengan seadanya kemampuan saya, dan sepertinya mengapa saya harus dustakan untuk nikmat semegah ini.
*diketik dengan senang hati | Your Hand In Mine – Explosions In The Sky
Jumat, 14 Juni 2013
Mengingat Kemarin
Saya targetkan untuk menulis catatannya dengan 30 menit sajasoalnya banyak bahan baju yang harus segera saya potong menjadikannya kaospesanan A Sofwan dari RSHS dan hoodiespesanan Gifi sampai flysheet dadakan pesanan A Ucan.
Kemarin adalah hari yang lumayan panjang dengan malam yangpanjang. Terasa aneh juga dengan kegiatan malam yang datang tergesa-gesa dengankesibukan yang berubah dengan drastis.
Saya sebagaimana saya tahu selalu berusaha menjunjungnilai-nilai yang saya pegang. Dalam hal menulis, dalam hal berekonomi hinggadalam hal lainnya. Bahkan hingga saya kira terlalu memaksakan untuk sebuah halyang sentimentil.
Sabtu kemarin saya dapati jika SUAKA mau mengadakan plenotengah dan tempat pelaksanaannya itu berubah, maksudnya dipindah tempatkan.Masih di Bandung, saya sanggup mencarinya, terutama masih di Cibiru. Sebuahtempat yang kadang kala saya rindukan untuk kembali ke sana. Tempat yang kerapkali membuat saya bingung kenapa harus ke sana.
Baru enam menit ternyata saya menulis, ya menulis catatanyang tak terlalu penting rasanya,toh masa depan itu saya belum tahu dan sejarahhanya akan dicatat dan dikenang.
Seperti pleno kemarin, sepertinya bagi saya itu kenanganyang cukup diingat saja, saya tak menuliskannya sebagai sebagai sejarah yangsaya harus catat dan menjadikannya sebuah pelajaran, karena kewajiban sayahanya sebatas saran yang tak penting juga, secara struktural hingga sistematis,toh itu saya anggap silaturahmi saja.
Dalam tujuan saya, saya ingin bertemu teman lama saja,kabarnya ada Wicak ke sana, dan ternyata lebih dari itu ada Miko, jugapermaisurinya begitu pun ada Ojan, Bayu, Hamdan, Iqmah dan Ivan, dan tentunyasekali ialah para anggota LPM SUAKA, tempat saya belajar untuk tahu sebuahnilai dan mempelajari harga dari teks dan konteks.
Entah kenapa saya sukasekali kalimat sebelum ini, sehingga kesannya keren sekali.
Sebenarnya dalam pleno tengah itu acara yang biasa saja,biasanya adanya evaluasi dan biasanya para pengurus itu keteteran akan programnya masing-masing, saya tahu pasti soalnyabegitu pun saya dulu menjalaninya, namun dengan situasi yang berbeda.
Rapat berlangsung cepat dengan para anggota yang mulai lelahdan hanya semangat saja saya kira itu penolongnya. Hingga mereka dengan sadarakan menentukan bagaimana LPM SUAKA ke depannya, tanggung jawab sebagaimahasiswa yang bisa bersikap cerdas dalam keadaan yang buruk dan mempengaruhisecara tulisan dan perilaku bercirikan kejujuran, seperti kejujuran sebuahtulisan, tak mungkin sebuah tulisan terbaca ‘jujur’ harus dibaca ‘bohong.’
Saya kira akan membahas dari segi karya namun entah mengapasaya kira kualitas tulisan SUAKA kini makin berkurang, entah karena isunyaitu-itu saja, atau mungkin karena berkaca apa kualitas yang dahulu, ataumungkin, paradigma dalam penulisan hingga peliputan telah berubah, sepertiberubahnya sebuah pandang satu hal dengan hal lainnya.
Namun dalam pandangan saya, karya yang baik adalah yangberkelanjutan, maksudnya sebuah isu tidak akan habis setelah penerbitan, karenasaya kira penerbitan itu dikategorikan sukses jika mendapat tanggapan, baik promaupun kontra. Bukan setelah ditulis berita kemudian beres, dan itu hanya jadiangin lalu. Seperti melihat air saja, air yang baik itu air yang mengalir,begitu pun jika ingin tahu jumlah akumulasi air di lautan, dapat menghitungnyadari debit air di sungai hilir ke hulu, namun kadang kala pers mahasiswa sangatsuka sekali dengan hal baru dan mungkin hanya sampai muara saja.
Saya tahu korelasi sangat penting sebuah produk, bahkanuntuk sebuah tulisan, namun tulisan yang bagus tidak menentukan kemasan yangmewah. Saya ingat sebuah mini sekali majalah, atau lebih cocok buku saku,namanya OPEN MIND, itu buatannya para mahasiswa Bandung dan entah mana lagi,penulisnya sangat banyak, kemasan kecil dan fontyang kecil sedikit art work, bahkan iklan yang ada itu iklan layanan masyarakat atau lebih tepatnya, propaganda konstruktif, dan yang palinganeh dari semua tulisannya, pasti diakhiri dengan pertanyaan bagaimana dengankamu? Ya sebuah pertanyaan singkat seolah media dialog saja. Senang sekali jikaitu menjadi pertanyaannya dari SUAKA untuk para mahasiswa.
SUAKA juga begitu mungkin, umur yang sudah mumpuni tidak mempengaruhi kualitas sebuah organisasi semisal SUAKA, toh kekurangan itu hadir untuk bersanding dengan kelebihan, tulisan juga hadir sebagai penanda saja,tanda bahwa telah dicatat dengan tulisan, bukan hanya kenangan saja.
Suasana makin larut saja dan begitu pun hari itu makin malam saja, dan bermain kartu sangat membantu melepas penat, seperti dulu lagi sepertinya namun dengan orang yang berbeda dan situasi yang berbeda juga.
Sepertinya inilah mungkin perasaan alumni ketika kami disindir habis di pleno tengah dulu dan begini rasanya menjadi bagian yang telah lama meninggalkan keorganisasian.
*diketik dengan senang hati
Pangrango kali ini
Seperti judulnya first breath after coma dari Explosions InThe Sky, mungkin itu adalah gambaran yang paling bisa dijelaskan untuk hari ini, hari untuk bersyukur karena bisa pulang.
Jum’at yang dingin membawa saya menuju sorenya yang lebih dingin di Kiara Condong, motor saya melaju pelan saja, jembatan fly over telah saya lewati, di gang sempit itu saya jemput Dinda, seorang dara yang entah kenapa saya senang sekalibersamanya.
Saya putuskan untuk menitipkan motor saya di kosan temannya,teman sekotanya di Sumedang sana.
Setelah lahap dengan kwetiawnan nikmat di jalanan Antapani saya segera menaiki angkot dan menuju rumah Wildan,kata Dian di SMS ada Tiara dan Ratna di sana, duo dokter dari Unjani ini kerapkali buat saya tak habis pikir mengapa mereka senang sekali dengan gunung,terlebih lagi ini gunung tinggi.
Pangrango, ya yang saya tahu hanya itu, sebuah gunung yang berdempet dengan Gede, jikalau menerka-nerka nomenklaturnya, Gede telah jelas tergambar, karena memang ukurannya pun dikategorikan demikian. Besar.
Sedangkan menerka kata Pangrango saya kesulitan, jika ungkapan ‘pang’ itu artinya lebih dari sesuatu yang sejenis, lalu ‘rango’artinya apa? Saya belum cari artinya itu apa sebuah nama mungkin hanya akan jadi sebutan tapi bagi saya menamai itu memberikan doa, memuliakan sesuatu dengan sebutan itu adalah cara yang indah untuk memulai niat baik.
Hujan datang tak tentu hari itu, kadang datang dengan bergerombolan dan kadang datang dengan lebih banyak dari gerombolan, dari rintik hingga guyuran membasahi lapisan luar dari kulit di tangan, berenam kami menaiki mobil Ratna menuju rumah Azi.
Azi itu seorang yang saya kenal ketika Ceremai kami daki bersama, kabarnya rumahnya di Margahayu, dan ternyata arah mobilnya itu sama menuju Margahayu sehingga itu bukan kabarnya lagi dan sepertinya paragraf ini hanya penghamburan saja, karena saya ingin minum dulu.
Setelah minum mari menulis lagi. Dan selanjutnya apa ya...
Rumah Azi sudah di depan kami, di belakang mobil Ratna ada David, Nicky, juga Ari, mereka menaiki mobil yang berbeda soalnya saya menulisnya juga di belakang mobil Ratna, masa mereka duduk ria di belakang mobil. Dan aduh saya harus menutup dulu tulisan ini dengan bagian satu, karena bagian duanya saya akan teruskan setelah nanti saya di depan komputer lagi, saya ada urusan keduaniawian dahulu.
Dan saya sudah di hadapan monitor kali ini, ya sembari menunggu air mendidih karena akan segera mandi saya menulis dulu atau dengan kata jelasnya mengetik, ya sekedar mencatat saja, pengingat kenangan, pengingat lupa dari alfa.
Ya, saya sudah di Margahayu kala itu, tepatnya di rumah Azi, dan kami sudah berkumpul di sana, tinggal menunggu Adoy untuk membawa SB buat Dian yang tertinggal, setelah sebelumnya bercanda ringan sekedar melepas penat dari dinginnya hujan dan menghangatkan suasana dengan beberapa petuah dari senior.
Setelah beberapa lama mobil itu saya naiki, ya naik mobil Ratna, sama dengan sebelumnya, Adoy di samping kiri saya dan Dinda di samping kanan saya, kesannya seperti cerdas cermat dan saya sebagai juru bicaranya, namun tidak seperti itu, karena Ratna di depan sedang pegang setir dan Tiara jadi asistennya. Seperti juri saja.
Rencananya kami menggunakan dua mobil, namun ternyata menjadi 3 mobil dan dimulailah perjalanan cerdas cermatnya. Maksud saya perjalanan di malam hari yang sedang hujan dan malam makin larut saja, sengaja saya tulis demikian biar terkesan drama padahal tidak drama sama sekali karena hidup itu seperti itu adanya, hidup dengan bernapas dan sadar di mana bumi dipijak.
Ternyata Ratna sama Azi tak berbeda jauh jika mengendarai mobil, sangat menegangkan bagi saya tapi begitulah sepertinya karena sejak SMP dulu Ratna sudah memakai mobil sehingga kemungkinan asam garam dengan mobil ia sudah cicipi, dan berbeda dengan saya yang baru saja ikut mobil Ratna. Bingung apakah ini pakai Ambulan atau bukan?
Di depan tol kami berhenti dan mengunyah beberapa baso tahu dan siomay teman seperjuangannya kami lahap, sembari menunggu Azi ganti mobil, karena mobil yang satunya ada masalah rupanya, sedang David terlebih dahulu masuk jalan tol.
Ada sedikit nomenklatur yang asal-asalan dari Indonesia buat nama jalan tol, semua orang bilang tol itu artinya jalan bebas hambatan, padahal itu kata serapan dari Inggris tall yang artinya panjang, sehingga kadang kala saya suka aneh pas orang bilang, tol itu artinya bebas hambatan.
Lalu setelah beberapa lama rombongan Azi datang bersama Wildan, Dian, dan Yas. Dan dimulailah ngantuk di jalanan bebas hambatan hingga akhirnya saya sadar sudah di daerah menuju Cibodas.
Malam yang pendek dengan waktu yang entah terukur atau tidak. Pagi ini kami jelang dengan berjalan kaki menuju tempat yang kami janjikan akan bertemu di sana. Di Mandalawangi.
Sebentar tulisan saya pending dulu, airnya sudah mendidih rupanya. Waktunya mandi.
Dan saya sudah mandi sekarang, air hangat sudah cukup nikmat untuk hari ini, di malam hari akan lebih syahdu jika kulit punggung bertemu air hangat, dan itu nikmat sekali, akan lebih menyenangkan jika mulai menulis lagi, terlebih lagi menulisnya setelah berpakaian.
Pagi sudah datang barusan, semuanya sudah bersiap dengan perlengkapan masing-masing, kulihat semuanya tampak gagah dengan carriernya masing-masing, dan sepertinya perkataan Ari jadi kenyataan, jika wanita pakai carrier akan terlihat lebih cantik, dan itu saya saksikan pagi itu.
Langkah demi langkah mulai menjauh dari parkiran, Simaksi sudah siap dan Pangrango kami datangi.
Ternyata pendakian hari ini sedang ramai dengan orang, sedari mulai perjalanan banyak sekali orang yang sejalur dengan perjalanan menuju kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, mereka yang menuju air terjun, hingga air panas yang mungkin bisa ditempuh dengan satu hari perjalanan singkat.
Saya salah sangka rupanya, saya kira perjalanan yang saya tempuh akan tak jauh beda dengan Ciremai, rupanya kawasannya sudah banyak tertata manusia, jalanan yang sudah banyak berbatu, dengan jembatan yang dipastikan di beton hadir sedari pertengahan perjalanan saya menuju hutan Pangrango.
Terkesan aneh, namun sepertinya itulah hasil karya manusia untuk memudahkah perjalanan para wisatawan menuju sana.
Sepanjang perjalanan tak ada yang aneh, karena mungkin belum sampai pada trek yang terjal dengan akar dan jalanan becek dengan pasir gunung yang khas, jujur saja saya rindu sekali dengan situasi seperti itu, namun sore itu yang mulai menghitam seolah membuat saya merinding tiap kali mengingatnya.
Saya bersama Dinda sepanjang perjalanan, saya sadar harus tanggung jawab karena membawa teman dalam trip ini, sehingga kecepatan pun menyesuaikan dengan kecepatannya, saya ingin tahu saja, apakah seorang yang saya pilih untuk mengisi rencana saya hidup bisa saya andalkan jika di luar rumah, kata orang di hutan semua orang akan menjadi dirinya sendiri.
Rupanya fisik Dinda kurang cocok untuk perjalanan menuju Pangrango, dengan berat yang kurang dari sebelasan kilo di punggung saja ia sudah kepayahan, dan jujur saja saya sendiri mulai bingung ketika hampir melewati Kandang Badak.
Lewat Kandang Badak suasana berubah, awan hitam mulai menggelayut di atas sana, suara petir kadang datang dengan kilatnya yang membuat kalut karena tempat yang dituju belum saya datangi juga.
Dinda makin parah saja, dan yang lebih saya takutkan, kemungkinan teman yang lain sudah ada di atas sana, mereka pasti butuh flysheet yang ada di tas saya, dan ketakutan itu makin menjadi saja, Dinda sudah tak sanggup untuk meneruskan perjalanan, ia sudah bingung rupanya, tas kuningnya saya simpan dan saya meneruskan perjalanan dengan hujan yang terus datang, rupanya Dinda makin parah saja.
Di pertigaan jalur saya hentikan perjalanan, karena bertemu Adoy dan Wildan yang rupanya tidak di depan saya, mereka terlihat basah, namun tidak mengalami hipotermia, Pangrango memang memberikan situasi yang berbeda dengan gunung lainnya, mungkin ini situasi yang membuat saya berpikir beberapa kali jika melakukan pendakian di musim hujan.
Karena hujan tak reda juga, kami putuskan untuk membuat bivak darurat di sela-sela jalur pendakian, ketika beres rupa Ari ikut serta, ia terlihat sangat basah, dan sepertinya mulai bingung karena kedinginan.
Adoy memutuskan untuk meneruskan perjalanan, dan akan kembali dengan membawa teman untuk meneruskan perjalanan menuju tenda.
Semuanya berganti pakaian untuk mendapatkan kehangatan yang lebih baik, namun itu tak bertahan lama, karena lelah sepertinya membuat pikiran susah sekali untuk jernih, saya khawatir mereka yang di atas sana kekurangan logistik karena rupanya logistiknya ada di kami.
Setelah semuanya berganti pakaian, semuanya terdiam saja, sepertinya dinginnya Pangrango menjadi pikiran utama di benak masing-masing, dan di pikiran saya adalah ketakutan, ya takut saja ketika semuanya di luar dugaan, bahkan di luar perencanaan. Alam telah memberikan pelajaran paling berharga untuk mengetahui seberapa tinggi harus menghargai materi, seberapa jauh harus menghargai waktu dan mengukur kecilnya diri sendiri dibandingkan kuasaNya.
Dian datang dengan jaket Yakultnya, ia hendak mengambil tas punya Adoy malam itu, dengan rencananya awalnya akan meneruskan perjalanan menuju tenda bersama-sama, tapi rupanya itu tidak menjadi pilihan untuk Ari, saya, Dinda dan Wildan.
Kami memilih untuk tetap bertahan di sini saja hingga pagi datang dan bertemu kembali di Kandang Badak. Saya rasa pilihan saya tepat, karena rupanya hujan mulai berhenti ketika jam 2 malam mulai habis, dengan kondisi Dinda yang sempat membuat saya menyesal mengajaknya melihat Mandalawangi, sedang Wildan tengah tidur pulas, rasa kantuk karena kecapaian sering kali datang, namun dari racauan Ari, saya berusaha untuk sadar, terlebih lagi Dinda mulai muntah-muntah. Dan apalagi ini?
Setelah menjadi makin shubuh, semuanya kembali pada suhu yang mulai menghangat, saya bisa beristirahat di bivak darurat di jalur pendakian, sepertinya tempat itu akan saya ingat selalu, di situ saya melihat bagaimana ganasnya alam sempat membuat saya berpikir ulang untuk mendaki lagi, sepertinya, bukan jodohnya Mandalawangi waktu itu saya singgahi, tapi saya pastikan saya akan kembali ke sana. Perjalanan saya belum saya tuntaskan.
Pagi yang cerah menyambut bangunnya kami di jalur pendakian, hujan semalam terus saja di pikiran saya, betapa menyeramkannya situasi semalam dan pagi ini bisa bersyukur karena masih bisa meneruskan perjalanan. Perjalanan pulang.
Dengan carrier yang telah berkurang lebih saja Dinda masih saja lambat dan itu membuat saya lebih khawatir lagi. Dan apalagi ini?
Wildan dan Ari harus terlebih dahulu menuju kandang badak, karena mempersiapkan logistik dan flysheet untuk beristirahat, ternyata Dinda mulai payah lagi di perjalanan pulang, dan pertolongan dari Dian karena membawakan carrier Dinda tak hentinya membuat saya bersyukur karena ternyata saya tak salah memilih teman, tak terbayang jika tak ada Dian.
Dan akhirnya kandang badak saya datangi lagi, semuanya sudah di bawah flysheet, kecuali Adoy dan Yas, semua orang mulai melakukan kegiatannya sesuai dengan keadaan, ada yang memasak, ada yang mengisi waktunya dengan beristirahat dan mempersiapkan perjalanan selanjutnya.
Semua teman sudah siap dengan perlengkapannya setelah berbenah untuk perjalanan menuju Cibodas, perjalanan pulang.
Menuju Cibodas saya berdua saja bareng Dinda, entah kapan lagi saya akan melakukan perjalanan bersamanya, jika saja percakapan kami semalam mendapat titik temu, mungkin perjalanan nanti akan saya lakukan bersamanya lagi. Entah mengapa saya utarakan rencana sangat besar saya kepadanya.
Sepanjang perjalanan pulang cuaca berubah-ubah, kadang rintik, kadang tidak hingga malam hari mulai menampakkan gelapnya, pos terakhir saya jelang sebagai orang terakhir sampai di basecamp.
Kami pulang. Dan saya bersyukur karena masih punya teman seperti kalian, Ratna, Tiara, Wildan, Dian, Ari, Azi, Adoy, David, Nicky, Yas, dan Dinda.
Terima kasih telah memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga.
*diketik sembari senggang | First Breath After Coma – Explosions In Th Sky.
Tentang Menikah
Teman saya kemarin baru saja datang main ke rumah, ya maksudnya ingin punya usaha mirip yang saya lakukan sekarang ini, menjahit. Tapi entah kenapa selama obrolannya yang saya dapati ialah menyuruh saya untuk segera menikah, ya menikah, sebuah kegiatan sakral yang saya tak bisa berikan konstantanya seperti apa, dan lambat laun saya katakan itu biner, melihat banyaknya cerita nyata yang indah dan lebih menyeramkan dari sebuah cerita horor mana pun.
Ya menikah menjadi sebuah kejadian yang pasti buat seorang manusia hingga akhirnya merekaberdua, bertiga hingga berempat bahkan menjadi berlima hingga dengan jumlah angka lainnya, menikah menjadi pertimbangan saya untuk beberapa saat kemarin.
Yakin, itulahyang saya dapatkan dari teman saya itu, ya semisal semuanya juga sudah pada tempatnya, semuanya tinggal bagaimana mencari hal yang menjadikannya nyata.
Entah mengap asaya selalu menghitung dengan angka, sehingga kadangkala saya bingung sayasudah pada angka berapa dan mungkin saya menjadi lebih bingun lagi ketikajumlah yang saya hitung itu lebih atau pun kurang bahkan tidak berubah sedkitpun.
Namun saya sadari, saya harus menikah, dengan seseorang yang yang pilih dengan keyakinan seadanya.
Saya punya banyak sekali cita-cita, semisal undangan yang dikirim itu kumpulan cerita yang berbentuk buku kecil, semuanya tulisnnya saya dan pasangan saya yang tulis,hingga kadang-kadang saya ingin punya istri yang bisa menulis dengan baik, bukan alasan yang sembarangan, karena saya pikir seorang penulis itu tentunya juga seorang pembaca.
Undangan dengan tulisan yang kecil, dengan sampul hitam dan tulisan abu tua, dengan kertas 70gram sepertinya makin menarik, karena bayangannya itu akan membuat sediki tkonsentrasi untuk membaca, begitu pun dengan warna abu tua akan memberikan perhatian lain untuk proses membaca isinya. Isinya cerita saja keseharian, atau mungkin sebuah otobiografi acak-acakan dari kegiatan keseharian, cerita-cerita indah dan mungkin beberapa menyedihkan dan itu cerita saya dengannya. Dimulai dengandenah dan semua orang yang saya kira berpartisipasi dalam bagaimana semua halitu akan menjadi leih indah saya akan tulis, sepertinya saya akan menyesal,jika kertas yang banyak itu tak mampu menuliskan banyaknya nama yang membuat saya bahagia hingga hari itu datang.
Beberapa halaman akan saya kosongkan, dan itu hak yang pegang akan menulis apa, begitu pun dengan ucapan terima kasih saya akan berikan pinsil yang pendek dan beberapa kertas yang bisa menjadi catatan untuk mereka catat, bahwa hari itu saya sedang bahagia.
*diketik dengan senang hati.
Langganan:
Postingan (Atom)