Senin, 23 Januari 2012

jika saya punya rencana baik

Ketika sebuah tulisan “ditunggu tulisannya” ada di komentar catatan facebook saya kemarin yang saya baca, saya jadi tak bisa berkomentar, seolah saya harus membuat sebuah solusi atas masalah yang saya sampaikan.

Jika saya punya rencana baik, mungkin pertama kali yang saya pikirkan ialah sekre, melihat pembangunan yang berjalan, sadar tak sadar sekre akan segera lenyap, dan jika rumah saja tak punya maka akan kemana isinya? Maka rencana saya adalah memperjelas masalah sekre ke rektorat, jikapun benar harus ‘mengungsi’ dari kampus, maka sebaiknya memilih kosan yang dipilih sendiri, karena jika memilih dipilihkan oleh birokrasi kampus, sepertinya ketidakpercayaan saya sudah akut, sehingga anggapan saya tak ada gunanya percaya pada yang tidak baik. Dan sebagai solusi selanjutnya ialah mengumpulkan upaya ‘kejelasan’ bersama UKM lain.

Selanjutnya yang saya anggap urgent ialah open recruitment, saya akan makin gencar dengan selebaran dan pamplet yang akan ditempel di setiap kampus jauh, ya semisal Karyabudi, Tadikapuri, STT MANDALLA, dan Al Jawami, yang menjadi kampus sementara bernama UIN, saya takut jika kebanyakan Maba sudah masuk PMII dan HMI, atau KAMMI, atau organisasi ekstra kampus yang haluannya politik Islam ga jelas, yang gawenya hanya demo, tanpa bisa berkarya secara ilmu yang ia pikul. Alasannya bukan karena sirik terhadap organisasi ekstra kampus bukan pula karena saya sudah sedikit tahu tabiat buruk yang secara turun temurun organisasi ekstra kampus lestarikan di lembaganya, namun lebih kepada menyayangkan saja jika kesempatan Maba untuk masuk Suaka harus terhalang oleh AD/ADRT Suaka yang sangat membatasi kiprah mahasiswa dengan dasar independensi yang Suaka junjung.

Untuk open recruitment selanjutnya dilakukan PJMTD, dalam pemikiran saya jika punya rencana baik, saya sepertinya akan fokus pada skill, keberanian dalam menulis, dan bangaimana senior membimbng juniornya dalam menulis.

Jika saran saya untuk PJMTD:

1. Membuat program kakak angkat, meskipun kan menjadi kontroversi, namun banyak hikmah yang saya pikir menjadi tolak ukur sebuah penghargaan. Dibalik tali silaturahmi yang semakin erat antar kakak angkat dan adik angkat, akan ada kompetisi, sehingga akan terciptanya iklim kompetisi yang sehat.

2. Mengajak alumni untuk berpartisipasi, melihat dari banyaknya alumni yang saya pikir sangat kompeten dalam hal menulis, saya sangat setuju jika para alumi nya saja yang memberikan materi, bab ini sama siapa, dan bab itu sama siapa, sehingga mereka semakin dekat dengan kami di Suaka. Ditambah lagi mereka yang sudah mempunyai link, akan lebih baik lagi dalam memberikan usulan yang jelas bagi kami di Suaka, ya gampangnya minimal dapat pulpen sama notebook kertas dari perusahaan yang mereka ikuti.

3. Melakukannya di kampus saja, melihat dana yang minim di Suaka sepertinya itu jadi alasan yang kuat, karena tempat sepertinya sudah siap, ya pake kelas aja, ataupun itu mau sifatnya roadshow di tempat lainnya, ya itu sesuai maunya pemateri misalnya di Cikapayang, di lapangan Tegal Lega, di rumah pemateri atau sudah direncanakan sebelumnya maunya dimana sama panitia dealnya dengan pemateri.

4. Waktu pelaksanaan diperpanjang, ya bukan di gebregkeun beberapa hari, soalnya kalau menurut pemahaman saya itu sangat tidak efektif, soalnya menurut saya penyerapan ilmu yang baik itu, membutuhkan waktu yang relatif panjang.

5. Menggunakan sponsor yang besar dalam bargaining, media partner yang jelas, maksud saya ya bikin media partner terlebih dahulu, setelah itu mulai bikin proposalnya yang jelas, soalnnya mereka butuh publikasinya, dan kita butuh uangnya.

6. Bikin undangan pembukaan acara yang banyak, sebaiknya undangan disebar ke semua elemen mulai dari HMJ, UKM, Senat, Dema ga jelas, Dosen, Satpam, PD, Dekannya, pokoknya semua orang yang ada di kampus sebagai yang ikut serta dalam birokrasi kampus, selain untuk memperkenalkan Suaka lebih jauh, kita dapat menjalin hubungan yang relatif sangat dekat dengan mereka. Tak lupa undangan buat organisasi ekstra kampus yang dianggap berguna maupun ga berguna. Dan yang terpenting ialah pemerintah, mulai dari Presiden, Menteri, hingga Bupati, Gubernur, Balai Bahasa, dan Media. Meskipun terkesan nanti akan jadinya kayak ondangan, selama mampu didanai mah kayaknya bagus juga buat kesan yang ditimbulkan oleh Suaka nantinya.

7. Materi, jika menurut saya materi itu sangat fleksibel, soalnya materi yang dipilih haruslah yang menarik, dan tak lupa setelah pemberian materi harusnya ada evaluasi dalam materi tersebut.

8. Yang terakhir adalah komitmen, ini yang paling membahayakan dari semua hal, jika komitmen sudah hilang maka tak ada lagi yang bisa untuk diperjuangkan.

Selanjutnya, saya akan menyarankan bagian Litbang, untuk mentradisikan straight news, dan membiasakan menulis feature, bagaimana membuat karya yang timeless, mungkin saya pun sangat tidak kompeten untuk hal itu, oleh karenanya saya akan mengundang para alumni suaka dan Dosen yang kompeten sebagai pemateri dari latihan penulisan dan setelah latihan penulisan, selain memperdekat ikatan antara alumni dan pengurus hingga anak magang, hal tersebut akan membuat sebuah kesan bahwa dalam kepenulisan jalinan silaturahmi itu tak akan hilang, meskipun tersampaikan oleh tulisan saja.

Selanjutnya saya kira akan UP GRADING, di internal dulu, ya membiasakan sangsi sosial bagi mereka yang merokok ga gableg makan calacahnya, ya bagi mereka yang merokok dan tak bisa membuang kuntung dan calacahnya sebaiknya sangsi sosial saja, sehingga nantinya ada program carekan untuk yang tidak tertib, termasuk bukan untuk bab merokok saja, namun untuk hal lainnya juga, semisal tidak sholat, tiduran wae, kebersihan, liputan, dan yang terpenting dari sangsi sosial yang diberikan selain memberikan kesan galak maka akan tercipta kesadaran bahwa Suaka itu dibangun oleh banyak orang.

Selanjutnya fasilitas, jika saya punya rencana baik, sepertinya saya akan sarankan Pimpinan Perusahaan membuat proposal donasi dan pengadaan barang pada perusahaan besar, semisal kamera, recorder, notebook dan komputer yang saya ajukan ke perusahaan besar, saya yakin dana CSR mereka sudah cukup untuk itu, jikapun mereka tak bisa memberi yang baru, mintalah yang bekas juga ga apa-apa klo CSRnya ga malu mah, sehingga ga ada alasan kurangnya fasilitas membuat kemandulan dalam berkarya.

Link, link yang banyak sebaiknya bisa dipertahankan, mulai dari iklan hingga hubungan baik harus mulai diperjelas, semisal susunan pelindung dan dewan pers, yang hingga kini di Suaka belum ada kejelasan, siapa jadi apanya dan siapa pegang apanya.

Uang, kadang-kadang masalah dana ini jadi masalah akut di Suaka selain karena sangat ketergantungan oleh uang, hal lain pula membatasi uang sehingga kesannya tak ada logika ketika tak ada logistik, dalam pemikiran saya, jika tak ada maka udunan lah, sehingga tak perlu terpatok oleh uang, namun lebih pada karyanya. Jadi mulai berkaryalah.

Selanjutnya untuk perbaikan internal, secara personal, saya sarankan ketika yang dipilih itu asas Islam maka kepatuhan atas asas itu sangat penting, maka saya sarankan untuk memperkuat nilai-nilai islami yang telah ada, sehingga agama itu bukan hanya omongan saja, bukan masalah NU, Persis Muhammadiyah namun bagaimana teori menjadi aplikasi.

selanjutnya rencana baik bisa dipikirkan oleh setiap orang, jika ia mau.

jika saya punya rencana jahat

Ini hanya jika saja saya orang jahat dan akan menghancurkan SUAKA, sebuah organisasi intra kampus yang berlabel pers mahasiswa. Dengan berjuta cita-cita dan harapan akan munculnya karya yang berkualitas, mahasiswa yang kompeten dengan perkembangan jaman saat ini, bertanggung jawab atas ilmu yang dipikulnya dan menjadi kebanggan umat di jamannya.

Jika saya jadi orang jahat saya akan lestarikan kebiasaan mengobrol di SUAKA, hanya mengobrol saja tentang ini itu, tentang pak dekan yang homo, pak rektor yang cabul ataupun anggota SUAKA yang sedang pacaran bahkan maksiat di sekrenya, dan tak lupa membubuhi fakta sinis dan kebohongan massal, setelah mengobrol saya akan lestarikan diskusi yang percuma, sebuah diskusi yang membuat lawan diskusinya bingung, ini diskusi manfaatnya untuk apa dan bagi siapa sehingga akhirnya hanya cekikikan atas diskusi ini merasakan bagaimana nyatanya ironi sebagai mahasiswa sehingga waktu akan habis dengan mengobrol dan melupakan liputan hari itu, hari ini dan hari selanjutnya adalah mengobrol ria.

Saya akan ajarkan bagaimana melupakan cara untuk menulis, menulis sebuah fakta diganti dengan fiksi, menulis opini diganti dengan kenyataan dalam dunia fantasinya, saya tidak akan ajarkan bagaimana menulis yang menjadi ciri khas seorang insan berkarakter baik, saya akan lestarikan melupakan menulis feature, menulis tanpa by lines tanpa fire wall, saya akan ganti bacaan Bill Kovach dengan bacaan dari situs cerita porno, akan mengganti nasihat para alumni untuk terus berkarya dengan hanya diam di angan-angan saja dan ketika ditanya kamu hari ini nulis apa? Saya akan ajarkan bagaimana berkilah yang baik dan bisa dibenarkan secara akademik, sibuk kuliah lah, sibuk pacaran lah, sibuk bisnis lah, sibuk nonton film lah, sibuk ngurusin ini, sibuk ngurusin itulah, sibuk apapun sehingga lupa menulis dan rumah kedua di sekre itu tidak ada lagi dalam ingatan, saya akan ajarkan bagaimana lebih baik menulis cerpen, puisi, dan karya lain dan melupakan bagaimana menulis berita, saya akan lestarikan bagaimana melupakan jika menulis berita itu dimulai dengan body of knowledge, akan saya ajarkan bagaimana berbohong dengan silogisme, sebab akibab dan genelarisir tulisan dengan premis yang dibenarkan, dan bagaimana membuat delik pers yang fenomenal.

Jika saja saya orang jahat saya akan diskusi saja, tentang ini, tentang itulah, diskusi tentang premanisme terselubung oleh satpam kampus, pungutan liar oleh birokrat kampus, kebiasaan mabuk-mabukan di UKM lain, perilaku dosen yang makan gaji buta, keamanan kampus yang tak becus menjaga kampus dengan alih-alih sering hilangnya barang di kampus UIN, poliklinik yang tak jelas bagaimana manajemennya dengan setiap sakit dikasih obat yang sama, dokter yang tak ada pas ada yang sakit, bagaimana jual beli nilai di tiap jurusan, bagaimana preman kampus yang suka demo, ataupun bagaimana keburukan-keburukan yang ada dikampus ini, hanya bertukar pikiran saja, dan tak perlu menulisnya secara nyata, akan saya diskusikan bagaimana sistematika perekrutan organisasi ekstra kampus yang buruk, bagaimana mereka melakukan bargaining ketika akan ada event besar seperti OPAK, bagaimana mereka berdemo dan meminta uang kegiatan di kampus dan hasilnya hanya ritus sosial dan seremonial saja.

Jika saya jadi orang jahat saya kan buat image SUAKA buruk dengan berperilaku tak senonoh di kampus dan berbuat onar, akan memusuhi UKM lainnya sehingga SUAKA itu dikenalnya menghasilkan kader yang buruk budi, tak bermoral dan bermasa depan suram, akan saya berbuat buruk saja sepanjang hari demi sakit hati saya pada SUAKA.

Jika saya jadi orang jahat saya akan lestarikan program tidak menulis di saya sendiri dan saya akan tularkan kepada anggota lainnya, tak usah menulis karena akan membuatmu cape lebih baik hanya mengobrol, tiduran di SUAKA hingga siang hari menjelang, bahkan untuk bangun harus mendengar adzan Ashar dulu, akan saya lupakan semua literatur dan yang didengarkan itu musik saja, dan bagaimana membangun peradaban yang bobrok dalam rangka meneruskan generasi yang tak ada gunanya, bagaimana mendapatkan beasiswa dengan embel-embel tulisan orang lain di SUAKA, ini karya saya, saya juga turut serta padahal ia hanya ikut rapatnya saja, dan yang kerja itu anggota lain, saya akan lestarikan bagaimana hidup itu dengan alasan saja, tak perlu berkarya dengan tulisan, tak perlulah belajar bagaimana menulis itu dengan sembilan elemen jurnalisme, dan bagaimana melupakan aturan etika jurnalistik, tak ingat by line, tak ingat aturan titik koma, tak ingat aturan sumber anonim, tak ingat akan nama narasumber yang diwawancara tadi, tak ingat pake judul, tak ingat menulis titik diakhir paragraf.

Jika saya jadi orang orang jahat saya akan ajarkan anarkisme, feodalisme, rasa superior karena sudah jadi wartawan kampus, dan menghilangkan kepedulian terhadap teman-temannya se-SUAKA, ada teman yang sakit hanya dibiarkan saja, ada teman yang kesusahan akan saya ajarkan untuk dimaki saja karena tak ada gunanya dan tak perlu dikasihani, mengasihani hanya urusan tuhan, dan anak suaka bukan tuhan, jadi tak perlu ada rasa peduli tak perlulah disapa, kemarin sakit apa? Gimana kabarnya sekarang? Atau sekedar permintaan maaf karena belum bis menjenguk akibat ini itu apalah itu yang jelas itu retorika saja, dan yang terpenting menghilangkan nama tuhan dalam kamus sehari-hari, semuanya berjalan atas individunya, tak ada tuhan dan tuhan telah mati, setiap mendengar adzan akan saya sediakan tempat duduk yang nyaman, tempat tidur yang nyaman untuk beristirahat dan melupakan bagaimana bunyi takbir dan bagaimana akhir dalam shalat, dan Islam pun akan mati dengan sendirinya dan menggantinya dengan alunan musik yang membuat mata segera menutup kelopaknya.

Jika saya jadi orang yang sangat jahat akan saya biarkan saja keburukan terjadi di SUAKA, tak memberi saran yang membuat perubahan baik, akan saya lestarikan nama apatisme menjadi ajaran inti dari SUAKA.

Jika saya jadi orang jahat saya akan buat acara yang tak penting dan menggunakan uang organisasi dengan sembarangan, sehingga hasilnya defisit dan semuanya nombok kecuali saya, dan membuat kelicikan secara struktural, saya ini PU, saya ini Pimpinan Perusahaan, Saya ini Litbang, saya ini bla-bla-bla dan terus saja atas nama jabatan, bahkan untuk anggota saja saya akan terus berkilah dan terus beralasan karena cara saya di SUAKA itu hanya beralasan.

ini hanya jika saja, jika pun mau teman bisa melakukannya lebih jahat lagi

*diketik di SUAKA

rencananya

hari kakak angkatan saya akan dinikahi oleh calon suaminya, kami tahu, eh kami ketahui, klo kami tahu berarti kami terbuat dari kedelai, ah gak penting juga, yang kami ketahui ia itu dipanggil teh Putri, dan aku ketahui ia itu yang mengospekku dan teman-teman seangkatanku pastinya dikala Pesta, yah itu loh sebuah ritus sosial yang ada di teater kami, Bohlam tentunya kami memanggilnya.

kabarnya itu datang dari Gilang lesmana, teman dari teman-temannya seangakatanku, dan begitu pun kami memanggilnya teman, ia mengsms saya perihal akan dilaksanakannya akad nikah nya teh Putri di LEN dekat LPKIA, eh bener ga ya nulisnya? ah.. dan yang mau bareng kumpul di lunatik jam 10an, ya sebelumnya aku menulis note ini dulu, sayang aku belum siap2 dengan kadonya, apa yang akan kuberikan, dan pastilah biasa saja. bukan mobil, apalagi mobil-mobilan, dan bukan juga barang biasa orang kenal.

sekarang itu jam sembilan kurang setengah jam an, klo nulis jam sembilan kurang setengah jaman, kayaknya rancu ya, tapi itulah ejaan indonesia yang harus disempurnakan.

lagu yang sedang menyala di spiker saya itu lagunya TOE, itu dari jepang, lagu yang aneh awalnya tanpa ada vokal, namun sepertinya lebih harmonis dengan demikian.

siang ini sepertinya Banjaran sediikit mendung dengan awan yang ada di atas langit Banjaran, tapi saya tak mengetahui ini kan hujan atau hujan ikan lele, soalnya saya itu bukan BMKG yang suka jadi paranormal.

aduh mulai bosen menulis, dan sekarang itu maunya mah nulis kalo rencana hari ini apa.

aku ingin mendoakan teh putri, kayaknya begini doanya:

Demi Alloh yang maha keren atas kuasanya, dua orang telah menjadi suami istri, jikalau aku harus beriman padamu dengan sabda mu silaturahim itu akan memperpanjang rizki hambanya, maka anugrahkan rizki yang sangat baik untuk mereka berdua, karena telah menyambungkan tali silaturahim dua keluarga, dan berikut asbabul aspek variabel lainnya yang ada pada keluarga tersebut

Alloh yang maha spesifik, telah kau berikan detail jalan yang indah dengan akad kedua mempelai, detail jalan hidup yang ada dalam aturan yang kau ridhoi, berikanlah spesifikasi indah nya hidup dalam ridhomu

Alloh yang maha keren, berikanlah sifat kerenmu bagi mereka berdua, seorang calon ibu yang sangat baik sekali, seorang calon bapak yang sangat lebih baik sekali pisan, dan Alloh yang mengetahui masa, berikanlah mereka masa depan yang indah yang akan segera mereka jelang, dan masa lalu yang indah pula yang akan mereka kenang

Halleluyah! demi waktu pagi dan sore yang akan kujelang, Semoga Allah memberikan indahnya hidup bagi mereka berdua. Amin!

kayaknya bakal banyak orang yang protes engan ungkapan saya yang sedikit semena-mena, tapi karena mereka pikir semua akan baik jika dengan niat dan ihktiar yang baik, maka tak apalah jua.

beikutnya rencana lainny tk bantak bisa aku tulis soalnnya alfabetnya cuma ada hurup dari a-z dan tak ada huruf lainnya, sehingga membuatku bosan, tapi itu hanya alasan soalnnya aku mau membungkus kado dulu.

semoga rencana baik berjalan baik dengan indahnya izin dari yang punya waktu

*diketik pagi hari dan senang hati

Setelah panas dihari jumat

Sebuah nilai kecil ataupun besar sebenarnya itu terpisah oleh pandangan seseorang dan nilai yang dijungjung tinggi oleh sebuah masyarakat.

Siang itu telah panas, ya sepanas hari pada umumnya di Bandung sekarang ini, tepatnya di daerah Buah Batu di jalan rajamantri kulon.

Parkiran masih banyak motor berjajar rapi, banyak pelajar yang dengan tenangnya merokok di depan sekolahnya, dengan asiknya mereka menghisap rokok yang terlihat jelas itu rokok warnanya putih. Dan pikirku, mungkin mereka telah mendapatkan izin sepenuhnya dalam menghisap kepulan asap itu dari yang memberikan mereka nafkah.

Dengan berseragam sepasang pemuda pemudi bergandengan tangan dengan mesranya, menuju parkiran sesaat setelah aku isi daftar kunjungan yang telah tersedia di samping pintu masuk sekolah. Dan pikirku mungkin sebentar lagi mereka akan menikah, dan kemungkinan lainnya mereka tak ingat yang namanya martabat.

Ketika aku masuki banyak sekali piala yang telah menyambut kami, kami itu saya dan teman saya namanya Riza Pahlevi, namun teman-teman sayangi ia dengan nama Jawa saja.

Dengan koridor yang lengang, dan kantin yang lumayan rame aku lewati lab biologi juga, dan sebentar lagi sekre teater bohlam aku jelang, dan selanjutnya itu menyimpan benda yang telah beberapa menit lalu menempel di pundakku dan punggungku tentunya, isinya buku dan nettbook dan mungkin kalimat ini tak terlalu penting.

Dan ketika aku menulis ini, Architecture In Helsinki mendendangkan lagunya di speaker disampingku, Neverevereverdid, membuat suasana yang lumayan nyaman, serius lagu itu keren sekali, dan temanku Upi harus tahu itu.

Rencananya saya itu mengantar Jawa saja ke tempat tersebut, ia mau bikin situs dan mungkin setelah itu ia akan menguasai Banyuwangi tempat dulunya ia dilahirkan dan besar untuk sementara waktu, namun setelah melihat banyak semangat adik angkatan di teater Bohlam dalam melaksanakan latihannya saya menjadi ingin lebih berlama-lama lagi, dengan adik angkatan yang semakin besar dan mungkin juga mereka akan lebih pintar dari saya yang bodoh ini. Hanya doa selamat menerima beban ilmu dan bertanggung jawab atas ilmu yang telah kau ketahui

Urusan yang menjadi alasan datang ke tempat itu telah sselesai, dan setelah makan-makan bersama teman-teman seperjungan,hatiku jadi gundah selama motor ini menuju tempat yang tak lama kemudian aku menulis ini.

Kegundahan akan kekhawatiranku akan masa depan aku dan mungkin keturunanku nanti, jikalau agama sudah tak jadi panduan, dan nilai moral itu telah luntur, dan aturan itu hadir untuk dilanggar.

Mungkin karena sudut pandang yang berbeda akan terjadi harmoni, namun setelah lama aku pikirkan ternyata, perbedaan adalah awal dari perpecahan.

*diketik dengan senang hati

Perihal mahasiswa

Menjadi mahasiswa mungkin menjadi sebagian cita-cita sebagian orang, dengan banyak alasan tentunya, mungkin untuk edukasi sebagian besar tujuanya, ya karena itulah dasarnya, adapun motif lainnya dari jenjang kuliah yang ia capai, semulai dari D3 hingga S3 semuanya mempunyai jenjang yang telah ada aturannya tersendiri.

Mahasiwa, saya awalnya aneh dengan kata mahasiswa, ya tentunya setelah sebelumnya menjadi mahasiswa lebih dulu, sadar tak sadar istilah itu seolah menjadi beban karena stigma yang hadir itu, ‘agen perubahan bangsa,'

Ada teman yang memaparkan kalo kata mahasiswa itu hanya hasil dari budaya hiperbola dari proses edukasi, sebagai perbandingan, untuk masyarakat awam itu ada guru, sedangkan untuk mereka yang ego untuk dihormati lebih itu mereka panggil itu mahaguru, ibarat ilmu padi memang semakin tinggi ilmunya maka semakin tinggi pula derajatnya dan korelasi selanjutnya itu ego atas penghargaan maka muncullah mahaguru.

Begitupun untuk mereka para siswanya, mereka mengklaim bahwa mereka harus lebih tinggi dari siswa lainnya, mereka lalu mengklaim mereka itu mahasiswa, sebagai strata baru di masyarakat dunia pendidikan dan melebar menjadi pekerjaan, seperti yang tertulis dalam KTP bahwa mereka itu pelajar namun karena mereka itu lebih dari biasanya mereka anggap itu suatu yang ‘maha’ lalu dengan ijin masyarakat mereka menjadi mahasiswa.

Jikalau menilik pada arti kata siswa sendiri, artinya itu orang bdoh yang harus diajari, atau perlu diajari, baik itu hal, nilai, dan norma maupun ilmu eksakta ataupun sosial, harus diajari, sehingga secara tersirat dan tersurat mreka itu menjadi sebuah pekerjaan yang tergolong muda dan rentan dengan segala penyimpangan atas ilmu yang diserapnya.

Sebagai studi kasus, masyarakat itu tidak menyebut anak SD itu dengan pelajar SD, tetapi siswa SD, sehingga dengan kata lain kategori siswa itu sangat lah muda, baik secara fisik, psikologi dan ilmu.

Sedangkan kata ‘maha’ sendiri mempunyai arti yang sangat melebihi suatu hal lainnya, sehingga ketika keterbatasan pengungkapan atas sesuatu yang lebih dari biasanya mereka panggil maha.

Setelah diartikan perkata yang mempunyai makna sama, maka dapat disimpulkan kalau mahasiwa itu orang yang sangat bodoh sekali yang harus diajari, mulai dari norma, nilai hingga ilmu yang menjadi konsensus sebuah masyarakat.

Sadar tak sadar mungkin itu jikalau diartikan perkata, namun jikalau kata mahsiswa itu sebuah artian baru, yang bukan terdiri dari dua kata, maka akan beda lagi artinya.

Mahasiwa itu belajarnya sejak dulu sudah pakai sistem semester, atau enam bulan pembelajaran, tapi setelah saya jalani terntaya kurang dari itu. Dan sisanya itu tak jelas, mungki karena saya itu kuliah di UIN tak tahulah bagi mereka yang kuliah di universitas lain, mungkin mereka lebih menderita daripada saya, hingga semester sembilan ini untuk D3 saja saya belum lulus dari genggaman status mahasiwa.

*diketik dengan senang hati

Buat UIN

Saya ini mahasiswa yang mungkin hampir DO, ya mungkin juga tidak, sebenarnya banyak sekali unek-unek tentang kampus UIN ini yang dulu saya kenal dengan IAIN, dan mungkin setelah saya masuki, semua infrastruktur, kurikulum, pengajar, dan kurikulum masih IAIN.

Saya tahu tempat ini dari teman PA (red-Pecinta Alam) saya, yang memperkenalkan saya dengan UIN, menjuruskan saya yang homo ekonomikus ke jurusan D3MKS. Sebuah jurusan yang masih merangkak sebagai jurusan yang mumpuni di kelasnya, maaf saja aku kategorikan demikian karena kurikulum banyaknya repetasi dari tiap semester ke semester, jikalau main ke jurusan manajemen yang lain di universitas yang lain ternyata kurikulumnya berbanding jauh, mereka lebih kuantitatif sedangkan kami, kualitatif pun masih gamang.

Yang aneh di kampus kami itu, kami diajarkan ekonomi yang berbasis syariah, sedangkan para pengajar kami dibayar oleh bank konvensional yang syarat dengan ribawi.

Aneh sekali kampus ini, pada awalnya aku kira banyak sekali raksasa tidur dengan mimpinya yang tinggi namun efek politik senantiasa meninanabobokan hampir semua raksasanya, aku kira problemnya Cuma satu, yaitu adanya organisasi ekstra yang masuk kampus, setelah beberapa tahun memperhatikan aku pun mulai jengah, sepertinya kekotoran mereka telah menjadi kemutlakan dalam berpolitik.

Fakultas ini oleh ekstra mana, dan senat ini oleh ekstra mana, begitulah yang tersirat, itu contoh kecil.

Dan sekarang itu contoh besarnya, hampir semua pendidikan organisasi ekstra yang saya kenal itu pendidikanya dogmatis, dan bertahap, setiap tahapan mewakili tingkatan yang harus ia kuasai, tahap 1 biasanya kuasai kampus, ya itu semisal jurusan, dan senat setempat, tahap keduanya kuasai wilayah, semisal wilayah Bandung, Kabupaten Bandung, ataupun jabatan asal mahasiswa itu berasal. Dan tahap ketiganya kuasai pimpinan pusatnya, yang ini tahapnya lebih bahaya lagi, menguasai Indonesia, terkesan hanya ambisi yang terlihat, wajar saj jikalau , profit yang dicari itu keuntungan. Mulai dari beasiswa, pengaruh, ilmu mungkin, teman yang mungkin bisa membantu, pengalaman, pacar mungkin, dan beragam keuntungan lainnya.

Setiap semester beasiswa biasanya muncul dari seniornya yang terlebih dahulu menjabat direktorat, bahkan klo mau jujur-jujuran seolah-olah setiap semesternya jatah beasiswa terlanjur dikucurkan buat mereka-mereka tukang demo, mungkin untuk meredam, tapi lihat hasilnya.

Untuk demo banyak sekali cerita yang saya tahu, mungkin banyak yang tidak sadar kalau yang demo itu terkesan mulia, tapi dekati lebih dekat, ada saja yang berbau alkohol, mulai dari kasus MUSEMA tahun 2010, hingga kemarin bangunan yang rusak akibat pelemparan batu baterai yang aku lihat sebagai pemicunya, dan yang aku curigai para mahasiswa belum tahu apa sisa botol buat mabuknya masih disimpan di ruangan sekre masing-masing.

Tentang keberpihakan, kebanyakan setiap organisasi kampus terkesan berpihak, semua dapat terbaca dari background organisasi ekstra yang ada di belakangnya bahkan PR III yang kemarin mengundurkan diri, yang aku tahu ia sangat berpihak pada salah satu pihak jikalau ada demo. Dan jikalau mau tahu, semua itu seolah menjadi mafia yang terlihat jelas dengan jaringan organisasi ekstra, mungkin tujuannya mereka maunya bagus, namun klo hemat saya sebaiknya mereka melakukannya di luar kampus UIN.

Satu cerita tentang demo Dies Natalis 25 IAIN, pada siangnya itu para organisasi ekstra sibuk dengan demonya dan hampir berbuntut rusuh, dan pada saat itu, Jatnika Sadili berjanji pada esok harinya akan membawa massa yang lebih besar lagi. Namun ternyata esoknya sangat sepi untuk kegiatan demo, setelah mengobrol dengan teman yang sekarang jadi ketua umumnya, jawabnya, “Apakah salah seorang kakak memberikan uang pada adiknya” ujarnya membela diri, yang aku anehkan mengapa mereka mau menerima uangnya pada saat esoknya mau demo dan hasilnya demo pun tak ada.

Semoga UIN lebih baik lagi dengan mahasiswa yang baik pula, dan tanpa organisasi ekstra.

*diketik dengan senang hati

jakarta

kemarin saya main ke jakarta

sebuah tempat yang rindang dengan dinding beton

di sekitarnya udara pengap

bahkan di samping jalan di sore haripun demikian

udara sudah tak lagi sehat

sehingga serasa gampang naik pitam di gang-gang setempat

namun pribumi tetap baik hati

walaupun tempatnya bukan lagi menjadi penengah

kalah sama kapitalis bermodal gede katanya

jadi warga pribumi namun

ada di pinggiran