Selasa, 10 April 2012

Riwayat obrolan hari ini

Godi Rangga

hai!

Sri Rahayu Atmadja

iya,,

Godi Rangga

ini anggota suaka kah?

Sri Rahayu Atmadja

iya tp dulu sih,, skr udh g aktif

Godi Rangga

oh pantes

sangkan teh saha

Sri Rahayu Atmadja

hehe,,

Godi Rangga

ada juga c sri

Godi Rangga

tapi kok beda mukanya ya

heheh

Sri Rahayu Atmadja

hehe,,, yg itu mah sri mulyani

Godi Rangga

iya meureun

kenapa ga aktif atuh

?

sibuk apa sekarang bu haji?

Sri Rahayu Atmadja

sering bntrok,,, jd drpd mnghmbat ke yg lain, sy menonaktifkan diri ,,, hehe

alhmdulillah skr sibuk ngajar sm nyusun...

Godi Rangga

keren!!

klo gitu lebih elegan sih

keren2!!!

sok atuh sing lancar

Sri Rahayu Atmadja

hehe,,, elegan gmn kang?

Godi Rangga

ya itu tadi suaka kan substitusi

primernya tetep kuliah

Sri Rahayu Atmadja

sama aja ah,,, cuma ya sy kurang bisa ngebagi wktu,,, pgnnya sih aktif semuanya kang

blum tercapai cita2 buat punya kartu pers, hehe

Godi Rangga

wkwkwk

santai aja tuh

main2 ke sekre dong

Sri Rahayu Atmadja

malu,, hehe

eh, ini teh kang godi yg bisa pesen tas tea bukan?

Godi Rangga

heheh

kok tau sih

Sri Rahayu Atmadja

iya sy tw dr Iqmah,,, dulu sy pgn pesen tas yg ky punya iqmah. cuma smpai skr blum sempet

Godi Rangga

sip!

kapan2 deh dibuat lagi klo sempet itu juga

nanti klo mau mah dikbarkan

lagi rariweuh

eng

Sri Rahayu Atmadja

siip,,,

sibuk apa skr, kang?

Godi Rangga

biasa aja, layani orderan

semacam halnya konveki

konveksi

Sri Rahayu Atmadja

ooohh,,, keren bisa berwirausaha

Godi Rangga

ya kyakna sih keren

tapi biasa ajah tuh

ya alhamdulillah ketang

hehe

Sri Rahayu Atmadja

akang masih suka ke suaka?

Godi Rangga

kadang kala

klo sempet

suka main kesana

kemarin ada disukusi

lumayan rame

Sri Rahayu Atmadja

ooh,,,,

ya sih pasti rame,,, yg diskusinya kan para jurnalis.. hehe

Godi Rangga

wkwkw

enggga

kemarin mah ngobrolin budaya menulis catatan

sama kronik

Sri Rahayu Atmadja

kronik? apa tuh?

Godi Rangga

itu sejenis straight

news

tapi lebih pendek lagi

Sri Rahayu Atmadja

oohh,,,,

smnjak g aktif di suaka, sy jd jarang nulis. jdnya kaku.... skr mw nulis cerpen aja mampet,,,,

Godi Rangga

sanatai aja, klo pintunya satu paragraf

Godi Rangga

biasanya klo dah masuk gampang buat eluarnya

kelyuar maksudnya

keluar

Sri Rahayu Atmadja

iya sih,,, tp memulainya lbh susah...

Godi Rangga

kayaknya bikin kebiasaan dulu

mencatat

Sri Rahayu Atmadja

iya,, sy pgn mulai nulis lg...

kang, sy off dulu ya, ada kelas lg.

insyaAllah kapan2 disambung lg.

Godi Rangga

sip!

ini percakapan dibuat note ya,

nanti ditag, klo udah bikin tulisan kabari dong

Sri Rahayu Atmadja

gimana mksudnya?

Godi Rangga

ga ada maksud giman2

sekadar pengingat aja

klo menulis itu proses

mencatat aja

Sri Rahayu Atmadja

ooohhh... iya iya...

Rasa KPBS

Hari-hari ke belakang saya kebanyakan ada di rumah, suasana yang tidak biasanya, di pagi hari mengajak jalan-jalan adik saya, dan biasanya jumlah anak kecil seringkali bertambah, soalnya adik saya mengajak saudaranya yang lain, ya maksud saya anak dari bibiku dan para tetangga sekitar.

Banyak cerita dari jalan-jalan kecil bersama para anak kecil, biasanya jawaban mereka itu seperti yang terlihat, "Trian, naha cing namina Ciapus," tanyaku tentang nama kampung ku, "emang kitu," jawabnya singkat, dan begitupun jawaban yang hampir sama dari anak kecil lainnya, "Naha naminya heunte Apus Ci?" tanyaku lagi, "Nya heunteu tiasa atuh, mun kitu mah sanes Ciapus," ujarnya.

Jawaban yang sangat pasti diterima olehku, sering kali saya hanya bertanya kenapa dan sering mencari alternatif jawaban yang sering saya buat sendiri alternatifnya, namun jawaban anak kecil sangat rasional, mereka menjawab sesuai dengan yang teriihat atau pun mereka kenal, ketika jawabannya mereka tak tahu,mereka jawab demikian, berbeda lagi dengan saya atau pun mungkin seperti saya, seringkali menggunakan rasio lain dalam menjawab hal lain, dalihnya ya paralelisasi atau pun analogi.

Seringkali jawabannya pun membuat gelak tawa yang panjang, seperti tadi Bella sedang marah pada saya, dan akhinya demi menyuap kemarahannya saya belikan susu KPBS, setelah sedikit tidak cemberut mukanya, "Bel, ari eta rasa naon?" tanyaku, "Rasa KPBS," ujarnya.

Saya hanya ketawa-ketawa mendengar jawaban yang pasti dari mulut kecilnya, ia sepertinya kurang mengerti KPBS itu seperti apa, tapi menurut sya itu jawaban yang sangat rasional, soalnya pada kemasannya yang paling besar tulisannya itu 'KPBS' dan itu lah mengapa anak kecil sangat misterius, mereka belajar dengan seperlunya.

Banyak dialog dengan anak kecil yang saya ingat selalu, baik itu merupakan ucapan jujur atau pun keluh kesah mereka tentang fenomena sekitarnya, dan saya kira mereka itu indah pada masanya, toh jika sudah besar mereka sudah bukan saatnya berlaku demikian.

*Banjaran, sore hari

Dini hari tadi beliau meninggalkan kami

Tadi dini hari, saya hanya duduk sendirian menghadap layar LCD dan menunggu kantuk untuk segera datang dan ternyata beberapa rumah di arah utara tetangga saya sedang dialunkan talkin oleh anak-anaknya.

Beliau saya kenal sebagai Pa Endi, setahu saya, Endi ropandi, dan itu berdasarakan undangan yang sering saya bagikan ketika kebagian membagikan undangan untuk pengajian atau pun jenis undangan lainnya di kampungku, kampung Ciapus maksud saya, entahlah saya kenal ini kampung, meski pun dikatakan sudah menjadi desa, saya ingin pulang ke kampung halaman bukan desa halaman.

Beliau mempunyai warung yang dikelola sendirian setelah ditinggalkan oleh Ma Anih istrinya yang telah lebih dulu meninggalkan kami, saya kenal beliau pribadi yang ramah, sering kali sewaktu kecil saya diberikan permen kopiko hitam yang manis, ketika mengantar mamah membeli jajanan di pagi hari, banyak sekali ragamnya, dari bala-bala hingga martabak buatan pasar sering kutemui di warungnya, ia pribadi yang ramah.

Seingatku, dulu ia sering bertanya saya kelas berapa dan aku jawab sebisanya, ia tak banyak berkomentar, ia hanya berkata, "Sok sing soleh diajarna," timpalnya, dulu saya sering bermain badminton di halaman rumahnya, soalnya halaman lain di kampungku belum ada yang disemen seperti halaman rumahnya, dan itu menjadi tempat bermain teman sebayaku sewaktu kecil dulu.

Entah sejak kapan saya jarang sekali ada di rumah, dan sekali waktu kutemui ia mulai sedikit pikun, ternyata ia sudah menikah lagi, dan saya tak kenal istri barunya, ternyata warungnya kini dikelola oleh istrinya, dan ia mulai sangat lemah.

Sempat ketika aku membagikan undangan untuknnya, tetangganya melarangku untuk memberikan undangannya, "Sigana mah Pa Endi mah tong dipasihan undangan, karunya bisi capeun," ungkapnya, dan itu aku amini, undangannya pun saya berikan pada anaknya.

Umur memang misteri, begitu pun hari esok, kini ia telah meninggalkan kami warga kampung Ciapus, semoga amalannya diterima di sisi allah SWT.

*diketik sepulang dari kuburan

Terlalu banyak membaca, seharusnya membuatmu lebih banyak menulis

Saya sempat tertegun mengapa saya berikan judul tersebut, sepertinya saya sedikit terpengaruh dengan hukum akumulasi, dengan analogi semakin banyak belajar seseorang akan semakin banyak tahu, atau pun semakin banyak berucap kemungkinan seseorang untuk berbuat sesuatu lebih besar, atau pun semakin banyak membaca seharusnya membuat seseorang lebih banyak menulis.

Banyak alasan untuk menghindar, menyalahkan sifatnya,” Ini kan sudah takdir,” atau pun, ”Maaf saya tidak seperti itu,” atau pun banyaknya kesibukan sehingga tidak sempat untuk menulis setelah lama membaca, atau pun kelebihan menulis dan lupa membaca, sehingga tulisannya hanya akumulasi dari nilai-nilai terdahulu, tanpa adanya penafsiran lebih banyak dari teks terbaru.

Sudah beberapa hari ini saya tidak menulis, entah alasan apa yang saya akan tulis kali ini, banyak hal yang mungkin sangat rasional untuk menjadi alasan untuk tidak menulis di setiap harinya.

Jikalau dulu saya selalu mencatat apa saja yang saya lakukan meskipun beberapa untuk kronik saja, ataupun deretan lagu yang saya pilih dan kemudian saya dengarkan sembari menulis.

Ataupun kegiatan menulis percakapan yang tadi saya buat dengan teman di chat, banyak hal yang bisa saya pilih untuk mengingat hari itu, dan tentunya untuk bersyukur bahwa saya masih bisa menulis.

Sepertinya akhir-akhir ini bacaan saya berkutat pada teks lama saja, perihal ekonomi, agama dan lain sebagainya, sehingga catatan saya hanya berkutat pada teks lama saja, sepertinya saya perlu target, target di tiap hari minggunya untuk menulis sebuah catatan yang akan saya ingat kemudian saya bukukan, catatan sebagai mahasiswa gagal dan penjahit pemula.

Sepertinya saya harus lebih membaca diri sendiri dan kemudian menulis catatan indah yang akan saya kenang, dan jikalau nanti banyak cerita suramnya, semoga menjadi tadzkiroh bagi yang membacanya dan tentunya renungan untuk saya dan orang yang mungkin seperti saya.

*Sehabis berbaris rapi di hari jum’at

Buang lah sampah pada temannya

Pagi ini Banjaran indahnya bukan main, maksud saya tidak main-main indahnya, langit putih dengan banyak awan yang membuat indahnya langit seolah tersapu rapih oleh anginnya, sepertinya sebelah timur dari pandanganku sedikit mendung.

Pagi ini suara indah membuat hari ini semakin indah saja dan aku ingin berolahraga, sekedar jalan kaki ataupun berlari kecil dari rumahku ke tempat lain.

Ke tempat lain maksudku, ya lain tempat maksudku.

Pagi ini sepertinya, tak cukup jika hanya berbekal dua kaki untuk berjalan-jalan, maka aku ajak adikku ikut serta,

"Bella, bade ngiring, urang jalan-jalan ka Soreang," ujarku

"Hayu, tapi kedap abi moekeun heula," ujarnya

Adikku sedang mencuci waktu itu, dan karenanya aku menunggunya untuk beberapa waktu, dan aku inginnya makan pisang aroma, ya pisang aroma yang ada di warung bibiku, Bi Ifat, rasanya lebih enak dalam udara yang dingin ini.

"A, hayu atuh," ujar Bella mengajakku

"Ngiring!" rengek shania

Dan akhirnya aku mengajak adikku berdua untuk ikut berjalan-jalan ke Kamasan untuk mengisi waktu luangnya, karena hidup itu mengisi waktu luang.

Di perjalanan Bella hanya cemberut terus, soalnnya ia kira ke Kamasan akan pakai motor dan perkiraannya salah.

"Tong miceun dimana wae runtahna," Ujarku

Adikku yang selesai makan wafer hanya memegang bungkusnya, ia hanya memegangnya erat.

"A, kamari mah ceuk rerencangan I'a, cenah mun buang sampah kudu pada tempatnya, nya?" Tanyanya singkat.

"Muhun, ari ia kumaha dijawabna?" Tanyaku

"Mun abi mah, buanglah sampah pada temannya," Jawabnya singkat

"Naha kitu?" tanyaku singkat

"Kan sampah mah rerencangan sampah deui," Ujarnya singkat

Ternyata adikku mulai sepertiku, mungkin efek dari banyak pertanyaan yang sering aku pertanyakan yang kadang ia lakukan sebaliknya kepadaku, dan akupun tahu, manusia hanya misteri, begitupun hidup ini, keindahannya adalah misterinya.

Sepanjang jalan, aku pegang tangan Shania, sepertinya aku akan rindu perjalan seperti ini dengan adikku, Bella mulai mau baca koran, walaupun aku harus bayar lima ribu untuk satu koran, dan Shania mulai cerdas dalam berbicara dan bertindak, rasionalitasnya mulai nampak keindahannya.

*Banjaran kala jalan-jalan

banjaran kala panas

siang ini mulai panas, tapi minuman dalam kemasan dingin menmbuatnya tak lebih menjenuhkan, senang sekali adikku yang SD sudah mualai bisa berfikir dengan baik, dengan hitungan yang sepele namun ternyata jawabannya mulai tepat, meskipun waktu yang dibutuhkan itu sedikit lama, dan saya yakin itu lebih baik dibanding dulu saya seusianya, yang hanya bisa bermain-main saja.

"a, naha nya ditulisna bakso, padahal kan disebutna baso, terus mie pan disebutna mi," tanyanya singkat ketika kami diperjalannan pulang dari bengkel.

tampaknbya ia mulai senang bertanya dengan pertanyaan yang singkat.

"duka atuh, saha nu nulisna, eta meureunan nu nilusna nuju hilapeun," jawabku yang sama bingungnya.

dan sebelum gang rumah saya jelang, adikku bertanya lagi,

"a naha nya nu ageung mah sok hilap?" ujarnya singkat

"duka nya ari hilap mah, eta mah kumaha jalmina," ujarku singkat.

aku senang sekali adikku mulai bertanya tentang hal yang mendasar, hal yang kerap kali aku lupakan. lupa karena aku tak menghiraukannya, lupa karena aku ingin itu dilupakan, lupa bahwa aku mungkin pernah ada.

*diketik siang hari, banjaran kala panas

masa depan yang indah sekali pisan banget sangat

tiga tahun lagi jikalau masih hidup akan aku bangun sebuah rumah dengan beberapa pintu dan beragam hal yang akan kamu ingat selalu, bahwa aku pernah singgah dalam lembaran sejarahmu.

dan sekarang pun aku masih belum berhenti untuk masa depan yang mungkin akan aku lewati.

dan jika saja kamu tahu, aku tak bisa jika harus berbicara saja tanpa kau ketahui seperti jelas adanya.

dan sepertinya kata 'dan' tak cocok untuk ada antara kamu denganku.

sekian, aku masih harus mendapatkan masa depan yang indah sekali pisan banget sangat.