Selasa, 26 Juni 2012

Melerai sejarah


Hari ini kamar saya sudah penuh debu, sudah beberapa Minggu saya tak membereskannya, saya sadar kadang kala saya tak tahu terima kasih untuk sebuah ranjang yang kerap kali saya tiduri, dan beberapa baju yang kerap kali saya buat mereka basah dengan keringat saya, begitu pun dengan lantai kamar saya yang kini telah berdebu.

Di bawah ranjang saya ada batang sepeda balap yang belum sempat saya bereskan pengerjaannya, batang tersebut mulai ada bagian yang karatan, padahal, yang saya ingat dulu, sepeda tersebut tinggal saya cat kembali, ukuran batangnya untuk velk 17, untuk ukuran saya pun sepeda tersebut lumayan jinjit ketika saya coba, setangnya yang tanduk telah dingin ketika saya ambil untuk saya lap dari debu yang menempel padanya.

Saya rasa paduan antara debu dan lembab adalah hasil yang tepat untuk kamar saya hari ini, sebuah hasil dari beberapa minggu ke belakang, entah apa jadinya saya jika tanpa kamar ini, ruangan dindingnya sudah tidak putih bersih lagi, banyak poster tertera di sisinya, mulai dari gambar hasil karya orang lain, hingga pengumuman pemerintah kerap kali hadir di dindingnya, begitu pun poster tengkorak yang besar terlihat jelas ketika akan tidur, sebuah lemari pakaian berwarna cokelat yang saya dapatkan dulu ketika pindah ke rumah ini, dua baris rak terdapat di dalamnya.

Banyak catatan kuliah yang dulu saya catat ada juga di dalamnya, ternyata lemari tersebut tak muat untuk pakaian saya yang lumayan banyak, begitu pun dengan catatan yang ada di dalamnya, mulai dari diktat kuliah hingga fotokopian yang kerap kali aku harus bayar meski aku tak tahu faedahnya apa, teori saja.

Saya sepertinya harus segera melerai pertikaian tentang masa lalu saya yang kerap kali membuat saya minder karena tidak meluluskan kuliah saya karena kemalasan saya, sepertinya alasan malas sudah cukup jelas untuk hidup saya yang muram ini.

Banyak alasan yang bisa saja dikeluarkan untuk beragam pertanyaan yang mungkin akan datang ketika banyak cara untuk menempuh hidup dengan santai.

Hari ini, saya membakar beberapa catatan yang kerap kali membuat saya teringat kembali untuk tetap duduk di bangku kuliah, asap mulai keluar dari kamarku yang pengap, karena tak ada jendela yang proporsional untuk kamarku yang sempit, seperti ada kebakaran saja hari ini, semua pakaian yang menggantung di kamarku berbau asap, asap beberapa catatan yang kerap kali aku ingin lupakan.

Aku ingin berdamai dengan masa laluku, masa lalu dengan semua cita-cita yang kerap aku pasang dengan tingkatan yang maksimal, namun sepertinya kehendakNya itu lain.

Saya sangat menikmati panasnya api di kamarku iseng ini, walaupun sedikit membuat sulit bernapas, tapi lembabnya kamarku perlahan hilang, lantai di kamarku mulai hangat untuk sementara.

Hari ini ranjangku telah keluar dari kamarku, ranjang tersebut tergeletak rapi di hadapan rumah jahit, kamarku seolah luas hari ini, setelah dipel dengan aroma mawar, bau asap tak terlalu kentara, buku-buku telah rapi dan berada di dalam lemari pakaian, dan pakaian ada di rak buku.

Sebuah papan tulis putih hadir di kamarku hari ini, ukurannya yang besar menyisakan sedikit dinding untukku, aku ingin tidak lupa mencatat hari ini, mencatat bahwa aku bisa lebih baik untuk esoknya.

Pakaian kotor pun telah aku bersihkan hari ini, sembari menunggu kering aku hanya duduk dan mulai kembali membaca catatan yang dulu aku buat, ternyata banyak barang yang bukan pada tempatnya, beberapa barang dari SUAKA, beberapa buku milik temanku yang harus segera aku kembalikan, kemungkinan besar itu saya pinjam sebelum sakit beberapa Minggu kemarin, aku telah lupa lagi.

Catatan ujian telah aku pegang hari ini, ternyata kebanyakan hasil ujianku tidak terlalu buruk untuk saya perkirakan, meskipun tak semuanya 100 tapi beberapa bernilai 70, beberapa nama dosen muali saya ingat-ingat kembali, semoga mereka diberkahi rizki yang bermanfaat untuk kehidupan mereka, Pa Pambudi yang selalu dengan tenang memberikan kami pengertian tentang akuntansi, Pa Wawan yang menggantikan Pa Nurol Aen untuk bahasa Inggris, Pa Iwan yang memberikan kami pengertian lebih tentang fiqih dalam muamalah, Pa Hasan Ridwan yang telah dengan sabar memberikan kami tugas yang membuat kami sempat bingung untuk tugas akhir kami, Bu Dewi yang dengan tenang memberitahukan kami bahaya dari sistem ribawi, Bu Dyah yang dengan pelan tapi pasti memberikan keterangan yang jelas untuk lembaga keuangan syariah, Pa Toha Hasan yang beri tahukan kami tentang koperasi yang baik dan menurut agama itu mungkin dibenarkan, dan beberapa dosen yang kerap kali memberikan inspirasi kalau hanya teori hanya akan membuatku tahu di ubun-ubun tanpa kulitmu tahu itu panas atau dingin, rasanya asam atau manis.

Catatan tugas akhir yang saya tak kerjakan, penelitian bulanan yang menjadi fokus saya untuk beberapa tahun ke belakang saya dapati juga, ternyata tulisan saya terlalu banyak untuk sebuah bab 1, sehingga dari 37 halaman hanya 12 halaman yang disetujui oleh pembimbing, itu pun tanpa ia baca dan hanya melihat judulnya saja, saya sangat sakit hati ketika mendapat perlakukan seperti itu, namun ternyata status memberikan hak dan kewajiban lebih sedikit untuk saya.

Dahulu sebelum saya sakit thipus anfal, saya pikir semuanya bisa saya kerjakan kembali, namun sepertinya uang berkata lain, saya harus lebih dulu membantu keluarga saya dulu dibandingkan semua hal yang kerap menggelayuti pemikiran saya tentang ekonomi, saatnya saya praktek.

Beberapa ubin telah tertutup selimut saya yang tebal ketika saya ingin meniduri kamar saya, ketika lampu saya matikan, sepertinya saya harus mencatat hari ini, karena esok adalah misteri yang mungkin saja lebih indah dari hari ini.


*diketik sembari senggang

Jikapun marah, saya harap tak pakai benci


Saya telah duduk lama di kursi ini, begitu pun layar di MS Word di depan mata saya telah lama kosong, Cuma judul tentangmu yang tetap ada di pikiranku, telah lama aku berpikir, obrolan-obrolan yang kita pernah bicarakan, baik saling berhadapan atau kau ada di belakangku, obrolan yang mungkin kau anggap sebagai angin lalu hingga hanya bayangan yang telah lama meninggalkan tepatnya ketika kita berkendara berdua saja.
Begitu pun gelas berisi air panas telah menjadi dingin ketika saya sentuh kembali, ternyata baru setengahnya saya habiskan.
Di telinga saya sedang berbisik Cholil dari efek rumah kaca berkata, “Tubuhmu membiru.... Tragis..,” ucapnya pelan, sepertinya bukan tubuhku saja yang terkulai membiru dan tragis, tapi rasanya semuanya bagian dalamnya juga.

Aku harap Vampire Weekend menyanyikan I Stand Corrected untukku siang ini, memberikan semangat indah kalau hidup itu banyak teman untuk tetap menganggap hidup itu indah, meskipun tanpa adanya dialog tentang teman.

Jikalau kau tahu siang ini cerah sekali, aku ingin bertemu nenekku yang sangat aku cintai setelah ibuku, ternyata aku sangat matrilineal untuk seseorang yang sangat aku sayangi, beliau tengah terbaring di RSUD Hasan Sadikin, entah mengapa ketika perasaanku kalut, aku menjadi tenang di sampingnya, walaupun ucapannya pasti telah aku tebak, “Sok, sing soleh hidep teh,” ucapnya singkat, beliau jarang untuk berkata banyak di usianya yang renta.

Hari ini banyak pesanan datang, banyak juga yang harus aku kerjakan, namun ternyata pikiranku masih ada dalam dialog tentangmu, tentang ucapan-ucapan yang mungkin sempat membuatmu marah, dan yang aku harap jika pun kamu marah tak memakai benci di dalamnya.


*diketik sembari senggang

Jumat yang agung


Jumat ini hangatnya sangat membuat mengantuk, entahlah seperti hari Jumat lainya yang agung, Jumat yang milik semua orang, bukan hanya agung yang punya.

Pagi ini indahnya bukan main, sembari berjalan santai, tangan kecil itu tetap berpegang erat untuk menggenggam telunjuk saya, sepertinya lima jarinya yang mungil hanya untuk telunjuk saya, Ridho, saya dan semua orang memangilnya demikian, seorang anak kecil yang sengaja dinamai oleh ayahnya Ridho Insan Kamil, nama yang sangat familiar untuk pecinta dangdut dinasti Rhoma Irama.

Gang di samping sawah itu tetap lengang ketika kami berdua berjalan santai hanya untuk melihat adanya matahari yang mulai terbit, daun dari padi yang hijau terlihat bercahaya dengan adanya embun yang tak lama lagi akan hilang dipanasi sang matahari, tetesannya belum sampai pada daun tengahnya, baru terlihat di ujung atasnya, seperti karpet yang baru di semprot oleh air yang butirannya sangat kecil.

Dan hari ini rencananya adalah memberikan barang-barang orang lain yang terselip di kamar saya, beberapa barang dari SUAKA, beberapa barang lainya dari teman, yang mungkin untuk faedahnya saya tak tahu pasti apakah masih berfungsi penuh untuk beberapa buku.

Dan adanya keinginan untuk membawa buku Ihya Ulumudin yang saya titipkan, walaupun niatannya hanya untuk alasan yang tak terlalu jelas, inginnya sekadar bertatap muka.

Ridho berjalan dengan kencang ketika kami akhirnya berhenti untuk melihat butiran air yang saya usapkan ke mukanya,
“Eta naon di,” tanyanya,
“Ibun..” jawabku singkat.

Saya pun pulang karena memang harus segera pulang, hari mulai menghangat, dan ketika pulang ternyata di lapangan voli tengah ada komedi putar, sarana rekreasi ringan untuk kami yang mendapatkan masa silam sebagai anak desa, mungkin anak desa sekarang pun demikian.

Jumat yang agung, saya ingat ketika dahulu Idul Adha yang tepat untuk hari jumat, kata khatib,
“Ketika hari ied datang pada hari jumat, atinya itu dua hari raya pada watu yang sama,” ujarnya,
Begitupun ketika saya baca keterangannya di Bulughul Maram tetang hari raya pun demikian adanya.

Hari ini saya lihat uwa saya yang memberikan ceramah, entah kenapa merasa ngantuk sekali hari ini, tapi saya paksakan untuk tetap mendengarkan ceramahnnya, ada yang menarik tentang ceramahnya, di usianya yang senja saya kerap kali saksikan ia tak bisa untuk mengimami shalat, biasanya ia memberikan kesempatan untuk mengimami kepada orang lain, seolah ia memaksakan dirinya untuk tetap memberikan khutbah, ketika kabar sering sakit saya dengar dari saudara yang lain.

Dulu ia pernah bertanya pada seorang tentara,
“Kang ari akang teu sieun ku perang,” tanyanya singkat,
“Ieuh tong hilap, tiap pelor teh boga alamatna masing-masing, tong hariwang,” jawab sang tentara.

Kesannya hanya percakapan singkat dari seorang tua dengan tentara, tapi saya sempat tertegun, karena saya sangat banyak sekali rasa takut untuk hidup saya yang singkat ini.

Sepertinya banyak cara untuk menikmati hidup, banyak cara pula untuk mengakhirinya, banyak cara untuk menghidupi hidupnya, banyak cara pula untuk menghentikan hidupnya.

Jumat yang agung, siang ini saya ketiduran hingga telat untuk membetulkan motor saya yang mulai renta, sehingga saya kesorean untuk datang menemui beberapa wajah yang kerap kali saya ingin temui.




*diketik sembari senggang sebelum motor melaju ke setiabudhi

setelah menjahit hari ini


baru saja saya masuk rumah ini, setelah beberapa lama meninggalkannya, ya maksud saya saya harus menjahit terlebih dahulu, terdengar sebuah lagu yang kerap kali didengar, lagu architecture in helsinki, the owl go.

lagu yang bagus sekali, untuk perasaan yang tak menentu.

The Owl Go


(Four, three, two, one)

Don't hide the treasures you've found in a hole in the ground
How 'bout the tree back your house where the owls go
Or in between the attic and the basement
Somewhere it's not dark, dark, dark, dark

Attic in a basement with a knife serrated, I'll protect you (2x)
Don't hide the pleasures you've found in your rolling around
Where all the leaves have been swept and the flowers grow
And don't go finding a replacement,
I promise I'll show you heart, heart, heart, heart

Finding replacement with a heart sedated, I'll forget you (4x)
And you won't make a sound or be nervous around piles of pictures
So old that that it feels like it is ending

(Four, three, two, one)

Attic in a basement with a knife serrated, I'll protect you (2x)

And you shout out loud
And you're bursting with pride
'Cause they don't let you talk
And your heart is finally mending

It's not too late now to change your mind
The grass gets greener when you get to the finish line

An attic in a basement
Attic in a basement
Attic in a basement
Attic in a basement
Attic in a basement
Attic in a basement

And you won't make a sound(sound) or be nervous around piles of pictures
So old that it feels like it is ending(around)
It shouldn't feel like it is ending



Perginya Burung Hantu

(Empat, tiga, dua, satu)

Jangan sembunyikan harta yang telah kau temukan dalam lubang di tanah
Bagaimana jika pohon di belakang rumahmu ketika burung hantu pergi
Atau di antara loteng dan ruang bawah tanah
Suatu tempat itu tidak gelap, gelap, gelap, gelap

Loteng di lantai dasar dengan pisau bergerigi, aku akan melindungimu (2x)
Jangan menyembunyikan kesenanganmu yang telah kau temukan di sekitarmu
Dimana semua daun tersapu dan bunga-bunga tumbuh
Dan jangan pergi mencari pengganti,
Aku berjanji akan menunjukkan hati, hati, hati, hati

Mencari pengganti dengan hati yang dibius, aku akan melupakanmu (4x)
Dan kau tidak berisik atau gugup sekitar tumpukan gambar
Jadi yang lama yang rasanya sudah berakhir

(Empat, tiga, dua, satu)

Loteng di lantai dasar dengan pisau bergerigi, aku akan melindungimu (2x)

Dan kau berteriak dengan suara keras
Dan kau penuh dengan kebanggaan
Karena mereka tidak membiarkan Anda berbicara
Dan hatimu akhirnya memperbaiki

Sekarang belum terlambat untuk mengubah pikiranmu
Rumput akan lebih hijau ketika kau sampai ke garis akhir

Loteng di lantai bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah
Loteng di ruang bawah tanah

Dan kau tidak berisik atau gugup sekitar tumpukan gambar

Jadi lama yang rasanya sudah berakhir
Seharusnya tidak merasa seperti itu telah berakhir




*diterjemahkan dengan sesuka hati

Rabu, 30 Mei 2012

Beberapa hari kebelakang

Adalah saya yang sedang mendengarkan lagu GIGI malam ini, judulnya Andai, mungkin ada yang tahu kenapa judulnya seperti itu, lagu yang indah untuk tahu mengapa jarak begitu penting untuk tahu yang hak dan yang bukan.

Kenapa masih ingat saja beberapa hari lalu.

Saya masih cape untuk mulai menjahit lagi, tapi sepertinya itu tidak berlaku, karena delapan pasang tangan tertinggal di Cigondewah dan segera harus saya ambil untuk dipasangkan dengan potongan kaos untuk badan,dan sepertinya hari Kamis yang panjang untuk menjahit 134 kaos pesanan Andi temanku, entah mengapa kenapa pesanannya terkesan Kun Fayakun gitu, cepat banget harus jadinya.

Alhasil baru jam 10 malam semuanya beres, dan rencananya aku akan antarkan jam itu juga, namun sepertinya istirahat itu lebih baik, sepertinya rencana selanjutnya adalah tidur, tapi ternyata tidur berefek enak sekali, walaupun bangun sedikit kesiangan.

Andi telah beberapa kali menelepon, dan hasilnya janjian di Tol Buah Batu, dengan lumayan lama menunggu, akhirnya beres juga itu orderan, walaupun tak puas dengan hasilnya, tapi begitulah jika pesannya main gila2an.

Dan saya ingin jumaahan di SUAKA, sekalian ada janji sama Yoga dan Hamdan, motor saya melaju pelan di Jum’at yang cerah, langit Bandung kala itu dominan biru, begitu pun ban motor saya yang gundul semakin gundul saja hari itu, sepertinya harus saya ganti secepatnya.

Kompleks UKM yang ada di dua saudara telah saya datangi, terlihat monitor SUAKA lebih jadul dari angkatan saya telah dipajang cantik di sana, ternyata yang oldies2 lebih bisa bertahan daripada yang baru, entah perawatannya atau manusianya yang memakainya tidak merawatnya atau ya memang sudah waktunya monitor tersebut rusak, dan itu seperti yang tersurat di forum FB yang beberapa hari lalu saya baca.

Entah mengapa penghargaan atas benda di Sekre SUAKA kurang, ya terlihat dari banyaknya calacah yang terserak di karpet, begitu pun dengan kasur peninggalan Wicak, makin absurd saja, entah mengapa juga buku yang sekian banyaknya jarang kembali, dan mungkin alasannya paling praktis adalah fokus menulis, tapi apa benar?

Ya semoga saja SUAKA lebih baik lagi, toh saya kira itu lebih baik dan terasa dinamikanya oleh para anggotanya, begitu pun dengan produk, mereka lebih bisa menyajikan berita dengan baik, saya sangat salut untuk hal tersebut.

Hari itu ketika saya pulang membayar hutang saya ke Iqmah, saya bertemu Aad di SUAKA, ia mungkin habis kuliah, soalnya a tadi berpapasan dengan Santi  yang jaketnya hijau, ketika kami bertiga duduk2 depan rektor, semacam yang berdemo mungkin, namun ini tujuannya lebih ekonomis. Bayar hutang.

Selanjutnya adalah shalat Jumat, materinya sangat keren, tentang profesionalisme dan timbal balik manusia dengan manusia dan semuanya dalam bahasa agama yang keren, banyak hikmah dari sana, dan entah mengapa saya tak mengantuk hari itu.

Ternyata Aad pulang duluan setelah Jum’atan, begitu pun saya berjalan sendirian, tulisan, Tanrise GO TO HELL sempat saya baca di dinding proyek samping mesjid, ternyata kapitalis baru telah datang, dan bersiap-siap memberikan efek mekanis terhadap manusia setempat.

Aad telah duduk manis di sekre SUAKA, monitor tak hidup juga, sepertinya mengobrolkan desain untuk baju SUAKA dengan Hamdan hari ini tidak bisa berjalan lancar, dan agenda selanjutnya ialah menemui Yoga, mahasiswa Aqidah Filsafat jurusan MAHAPEKA ini ternyata belum sampai di bawah pohon rindang yang kami sepakati,  ada Riza Fahlepi sedang duduk di warung dan mengobrol dengan temannya, saya hanya makan ayam bakar disertai nasi saja, segelas teh sebagai penutupnya, begitu pun yoga akhirnya datang juga.

Sepertinya harus segera pulang, karena makin siang saja hari ini, dan akhirnya sempat juga ngobrol sama Hamdan hari ini, sepertinya ia sedang sibuk dengan dirinya sendiri, banyak urusan mungkin?

Saya menuju parkiran motor saya berada, ternyata makin kacau saja kampus ini, bangunan boleh bagus, tapi sekeliling bangunan adalah reruntuhan yang entah  kapan akan jadi apa, semoga saja lebih baik lagi.
Jalan Soekarno Hatta pun aku lalui, dengan senang hati.


#diketik dengan senang hati
# ;)

Sembilan belas hari setelah hari buruh

Semisal hari ini, bangun pagi yang indah dimulai dengan mencuci pakaian yang telah baru saja aku dapatkan, dari temanku, sebuah celana jeans yang aku pastikan akan mengkerut, ya begitulah bahannya, entah mengapa sekarang sedang musim celana jeans yang strech, atau bisa melar, begitu pun warnanya sepertinya biru dongker akan berubah sedikit menjadi abu2, dan itu pun yang terlihat sekarang setelah dicuci, warnanya sedikit abu-abu.

Begitu pun dengan sarapan, ternyata, rice warner di rumah saya tidak hidup dengan listriknya, ada yang memutus aliran listriknya, sebuah tangan ternyata telah dengan sengaja mencabut saklar yang ada padanya, dan ternyata membuat imbas yang sedikit saya membuat pekerjaan lagi sebelum makan sarapan pagi ini, saya harus menyangrai nasi tersebut, setelah katel telah siap, saya pun memanaskannya di kompor gas tentunya, begitu pun katel tersebut, sepertinya telah hangat bahkan jikalau dipegang tengahnya mungkin akan panas sekali.

Nasi di piring telah sedia, waktunya untuk menjadi panas telah datang, dan saya pun menyangtrainya, ternyata sang katel sangat panas oleh apinya, begitu pun saya lupa untuk mengecilkan apinya, walhasil ternyata sedikit hangus dan berwarna lain dari nasi sangrai yang biasanya aku masak, pagi ini aku harus sarapan, mungkin hari ini hari yang panjang.

Sepertinya hari yang panjang bukan sebuah diksi yang baik untuk sebuah hari, namun lebih baiknya lagi aku istilahkan dengan hari yang biasa saja, soalnya masehi tetap dengan kategori 24 jam dan begitu pun hijraiah hitungannya tetap pada lima waktu, ya shalat itu tadi.

Sekarang saya belum shalat isya, maunya ingin segera namun saya tertarik untuk menyelanginya dengan menulis, ya maksud saya mengetik, sudah beberapa hari ini saya tidak mengetik, ya maksud saya mencatat, mencatat bahwa hari kemarin adalah hari yang indah seperti biasanya.

Sebetulnya, saya agendakan hari ini mendengar suara merdu di balik telepon, namun sepertinya kalah oleh hasrat untuk menulis, seolah suaranya tertulis saja, begitu pun hal itu, toh aku masih ingat suaranya seperti apa, jadi sepertinya menulis tak akan membuat waktu itu semakin mundur.

Siang ini ada motor yang terus melaju selam kurang dari empat jam tanpa berhenti maksud saya, dan jikalau kau tahu itu motor saya, motor Shogun 125 keluaran dealer tahun 2005, begitu pun dengan bannya, telah beberapa kali berganti, baik ban dalam maupun ban luar, saya sudah lupa berapa kali motor tersebut berganti ban, ataupun saya mengisi bensinnya, jika dulu saya suka mengumpulnya tanda terima dari tiap POM bensin yang saya beli bensin darinya, namun sepertinya saya sudah tidak seperti itu lagi.

Motor saya sudah hangat pagi ini, ya karena saya harus membeli bahan untuk kaos tim pesenan saudara saya, ya itu karena ibu saya terlalu pendek memotong rib untuk kaos tim tersebut, dan alhasil saya harus membelinya lagi.

Bapak saya telah siap[ untuk pergi bersama saya, begitu pun motor saya ia sudah ada di gang depan rumah saya, adik saya membawanya ke sana, sepertinya bapak saya ada panggilan mendadak untuk menuju ke sekolahnya, ya mungkin engkau tahu, selain penjahit saya juga seorang lelaki panggilan antar jemput sembari senggang, ternyata saya senggang hari ini, yaa maksud saya menyenggangkan   waktunya saja, jalanan Banjaran telah ada di depan saya, begitu pun dengan helm yang ada di kepala saya masih warnanya abu-abu, dengan ban yang masih menyentuh jalanan, berdua saja dalam motor tersebut menuju Buah Batu,

Buah batu telah aku singgahi, begitu pun di depan saya banyak anak SMP sedang bernapas, saya tak menghiraukannya, setelah berpamitan saya pun menuju Sukajadi, sebuah daerah yang kerap kali macet dengan kendaraan plat b, saya sangat ingin membuat kaos bertulisan, PLAT B NGAN NGAMACETKEUN LEMBUR di belakang, semuanya bertulisan huruf kapital, dan LEMBUR AING KUMAHA PAMARENTAHNA di depan, dan semuanya dengan kapital juga, saya suka risih dengan orang asing yang suka bawa kendaraannya, buang sampah dan membuat macet kota saya, kota BANDUNG raya.

Borma itu telah ada di depan saya, ternyata menelepon beda operator itu membuat pulsanya berkurang banyak, sebanyak sisi dari pulsa saya habis terpakainya hanya untuk tahu adik saya sedang ada di mana, begitu pun ia sedang ada di Borma, dan saya menghampirinya dan memberikan titipan kakaknya untuknya, saya segera pulang untuk menghadiri resepsi pernikahan temanku Wulan Eka.

Banyak cerita tetang Wulan, ia itu saya tahu dari ibtidaiyah, yang secara saya kan murid yang bodoh pasti tahu klo murid yang pintar itu yang mana, hiks hiks, rasanya sedih juga saya mengakui kebodohan saya, tapi toh itu kan masa lalu, dan sekarang saya tak tahu apa saya masih lebih bodoh darinya.

Begitu pun sepertinya nasib berjumlah lain untuk masih berteman sekelas dengannya, ya maksud saya setelah pindah dari Garut saya sekelas dengannya di tsanawiyah kelas c, entah mengapa kelas itu seperti pembuangan orang-orang gagal, beragam sekali maksudnya, lebih jelasnya beragam kasusnya, ada saja kasusnya teh.

Begitu pun saya sepertinya harus jadi bagian dari beberapa kasus, dan kami pasti tahu akan indahnya kata teman sewaktu di kelas tersebut.

Hari ini Wulan dipinang oleh mempelainya saya tak tahu siap namanya, yang jelas tertulis Jay di bawah janur kuning yang ada di depan pos ojek di Patal tersebut, saya sadar saya sangat terlambat datang, oleh karenanya, sepertinya maaf saja biasa saja, karena nanti akan dimaafkan juga, atau mungkin entahlah.

Inginnya aku ngamplop saja, dengan uang sekadarnya, tapi sepertinya mengkado lebih baik, kado yang biasa saja untuk teman yang baik, ditambah lagi Kamilah temanku menitipkan lagi kadonya untuknya,

Ia serba ungu hari ini, entah mengapa warnanya mayoritas ungu, mungkin ia suka band Radja, hehehe, ia terlihat sangat cantik hari ini, begitu pun esok harinya mungkin, ia kan akan sedikit berubah karena setelah hari ini ia akan resmi dihamili oleh suaminya, dan kemungkinan besar akan menjadi seorang ibu yang keren sekali sangat pisan.

Jika ia baca saya akan tulis,

Jikalau Alloh itu maha tahu, saya harap ia tahu semua keinginan baikmu dan semoga ia mengabulkannya,
Begitu pun jikalau Alloh itu maha besar, maka besarkanlah perutnya, ya maksud saya ia akan segera jadi ibu, jadi tidak hanya ngurusin perut orang, ia kan seorang bidan,
Bagitu pun jika Alloh maha indah, maka saya harap hidupnya indah seperti kata indah ada dalam kamus bahasa Indonesia, tanpa adanya absurditas dan diksi tafsir yang mungkin akan membuat pemaknaannya kabur,
Dan masih jikalau Alloh maha keren, aku harap sebagian kekerenannya ada padamu untuk selama engkau hidup berdua dengan suamimu,
Dan ini jikalau yang terakhir, jikalau saja doa saya tidak dikabul oleh Alloh, saya harap masih ada kesempatan orang lain untuk mendoakan hal yang lebih baik untukmu,
Dan karena kami teman pada waktunya,
Aamiin!

Sepertinya aneh juga doanya tapi entahlah itu sepertinya tulisan yang biasa saya tulis.

Sepertinya jalanan Patal mulai banyak orang yang mau pulang ke rumahnya, sepertinya mereka lelah setelah habis bekerja di pabriknya masing-masing.




*diketik sebelum shalat Isya
*diketik dengan jari semaunya
*begitu pun semuanya tak tertulis dengan detail

Malas Menulis

Sepertinya aku sedang malas menulis, malas untuk mencatat, baru saja aku terbangun dari tidurku ternyata Isya belum aku jelang.

Aku sepertinya sedang malam hari ini, malas untuk mengobrol, malas untuk mengingat hari ini ada apa, malas untuk berolahraga.

Aku malas untuk menceritakan pagi ini sangat cerah, begitu cerahnya, bahkan mematahkan ajakan untuk tidur kembali dan beristirahat dari panjangnya hari kemarin, begitu pun ajakan ibuku untuk mendengarkan ceramah pagi ini, ceramah ustad Arif apalah itu terusannya, aku kurang hafal.

Aku malas untuk menceritakan bahwa Pa ustad telah lama telat untuk datang, mungkin dari persiapan penyelenggaranya, PC Persis Banjaran, begitu pun isinya sangat Persis sekali, bab kejamaahan, begitu pun aku malas untuk mencatatnya, aku hanya mendengarkannya, dengan kesimpulan, bahwa ajakan untuk mendapat kartu anggota Persis, tapi seberapa penting mendapat kartu tersebut, walaupun banyak unek-unek untuk Persis, yang aku kira lebih ortodoks dari sistem Ormas lainnya.

Aku malas untuk menceritakan bahwa alun-alun pagi ini sangat ramai dengan para penjual, barang, mulai motor hingga basreng, ternyata banyak kegiatan ekonomi di sana, walaupun Perdanya tertera jelas di setiap gerbang yang ada di alun-alun kota saya, Banjaran.

Aku malas sekali berbicara untuk membuat surat pembaca ke media, soalnya aku kira alun-alun kota aku tetap akan jadi taman kota, begitu pun malam harinya akan tetap jadi ajang prostitusi terjelas yang aku ketahui sepanjang hidupku, dan aku kira akan tetap begitu selama masyarakatnya merasa tidak memiliki alun-alun sebagai ciri dari masyarakatnya.

Aku malas sekali hari ini, sehingga aku tidak segera untuk hadir di pernikahan temanku, sebenarnya kata teman mungkin saja dipertanyakan kembali, memang ia teman seangkatanku dulu ketika di pesantren dan mungkin saja ia tahu siapa aku, tapi saya kurang tahu dia siapa selain nama dan alamatnya, yang dulu aku kenang sebagai tempat rekonsiliasi reuni yang tak jadi.

Inginnya aku tidak malas hari ini, karena hari ini kemacetan aku jelang dengan berkeringat-keringat, begitu pun alamatnya Rika NS aku jelang di Rancaekek, lebih tepatnya di rumahnya, soalnya saya tak tahu apa nama desa yang ia tempati, ataupun nama gang yang harus saya tulis hari ini, begitu pun dari undangannya, lewat SMS dari Rivan saja, menunjukkan hanya rumahnya saja.

Sepertinya kemalasan membuat hasil yang jelas, ketika datang ke resepsi pernikahannya sang mempelai wanita tidak hadir di tempat duduknya, aku kira teman-teman sudah lebih dulu datang dan mungkin sudah pulang, dan aku temukan Dendi dengan baju yang serba kuning emas, keren! Sekedar bersalaman dan ucapan goodluck terucap pelan, dan selanjutnya mengantri untuk makan siang di resepsi pernikahan.

Dan yang aku tahu, ketika makan itu tidak boleh membuat hal mubazir terjadi.

Begitu pun hari ini sepertinya sepertinya aku akan segera pulang setelah bersalaman dengan mempelai nanti, namun sebelum pulang ternyata Wahid dan belahan hatinya datang, Wahid, saya kenal itu sebagai teman yang lebih saya kenal dari pelaku pernikahan hari ini, ia itu warga Cigondewah yang awal mengakunya warga Mahmud, atau apalah itu tempatnya.

Sebenarnya aku sangat malas membahas Wahid itu seperti adanya, yang saya tahu ia itu aktivis HIMA HIMI Persis yang ga jelas juntrungannya, ya maksud saya tak tahu akhirnya, ia akan tetap jadi aktivis atau jadi apa setelah jadi aktivis, dari ucapannya ia berminat jadi sepenuhnya belahan hatinya Lena, ia berminat untuk berbisnis makanan ringan, oleh karenanya itu semoga ia sukses untuk usahanya, berbeda jauh dengan masa lalunya yang kelam di pesantren dulu, yang kerap kali tersingkap dari obrolan semua teman.

Begitu pun lena aku tahu ia itu dari facebook, dan dari group yang telah aku sadari aku keluar dengan sadar, begitu pun lena, ia bertunangan dengan Wahid, namun aku bisa tak datang di harinya, sepertinya aku sedang lupa hari itu aku ngapain saja.

Wahid dan Lena berjalan di depanku, berjalan menuju rumah Riska, yang aku kenal juga hanya dari facebook saja, ia telah menikah dulu, ya maksud saya ia telah menikah dengan suaminya mendahului Rika NS teman seRancaekeknya.
Jika tak salah ia menikah dengan seniornya dulu di pesantren, dan begitu pun suaminya aku kenal ia dengan Hasan, dan aku tak tahu lebih dari ia siapa selain ia suaminya Riska, ingatan dan pengetahuan saya terbatas dari hal-hal itu saja.

Dan saya sedang duduk di rumahnya Riska, di depan saya ada minuman yang saya bawa dari resepsi tadi, dan begitu pun di depan saya ada Ulan, dan siapa itu saya lupa lagi, sepertinya ia juga teman seangkatan saya dulu di pesantren, di samping saya ada Leli, ia itu seorang ibu guru yang belum menikah, ia itu barusan menanyakan apakah saya bawa sampel kaos atau tidak, sepertinya ia harus mengerti saya itu datang menghadiri resepsi pernikahan bukan untuk berbisnis.

Adalah Leli yang saya kenal dulu ketika konsolidasi reuni yang ga jadi, begitu pun ia, saya kenal ia sebagai teman seangkatan saya dahulu di pesantren.

Siang kini telah makin siang, sepertinya aku sedang malas hari ini untuk berdiam lama-lama, dan ternyata teman-teman telah datang, begitu pun kami berjalan untuk menemui sang mempelai, dan teman-teman telah duduk di kursinya ketika saya datang, Danil telah berkemeja, begitu pun Rijal Bejo, dan ada Faisal Icang telah duduk di kursinya bersama istrinya.

Dan aku malas untuk menulis hari ini, esok aku teruskan lagi



*diketik sembari senggang