Selasa, 19 Februari 2013

Pulang


Oleh Godi Rangga Budi Anshary

“Untuk tahu jalan pulang, kadang kala kita harus pergi jauh dari rumah,” fiersa besari

Entah kenapa saya ingat tulisan di atas di Twitter yang saya Retweet, dan entah kenapa itu saya ingat ketika KOIL mendendangkan lagu Ajaran Moral Sesaat, seperti terkoneksi begitu saja, dan entah mengapa saya ingin menulis hari ini, ya di pagi ini pagi yang sedikit mendung, dengan pakaian yang basah belum disapa hangatnya sinar mentari.
Sudah lama saya tak mengetik, atau mungkin itu perasaan saya saja, soalnya jari ini tak lagi lincah menggerayami keyboard hitam di hadapan saya. Atau mungkin dinginnya mencuci di pagi hari itu membuat kurang nyaman dalam mengetik.
Saya suka sekali bermain air, sedari kecil juga begitu, suka sekali bermain hujan, merasakan bagaimana air menetes di ubun-ubun, dengan tetesan yang kecil hingga mencari guyuran air dari kenteng rumah orang, karena di rumahku yang dulu tak ada cucuran air, rumah yang sederhana, berdinding bilik, berlantai kayu, beratap kenteng yang murah dan seng yang telah banyak karat di sana-sini. Rumah yang mengajarkan hidup itu indah, rumah yang mengajarkan saya untuk tahu bagaimana menjalani pola pikir sebagai manusia biasa yang berusaha jadi luar biasa.
Dari dulu saya anggap Bandung itu sebagai rumah saya, begitu pun dengan luasannya, sepanjang itu wilayah Bandung saya akan menganggapnya demikian dimulai dari Cicalengka, hingga Padalarang saya akan tetap melaksanakan shalat dengan empat rakaat untuk Dhuhur dan begitu pun dari Lembang hingga Pengalengan saya akan melaksanakan shalat Ashar empat rakaat, dan di luar Bandung saya akan menjam’anya.
Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari Bandung, kata Bandung pun saya temukan dalam kalimat lain di bahasa sunda, ngabandungan, dengan artian lazimnya ialah memperhatikan percakapan, hal lainnya mungkin Bandung hadir untuk diperhatikan, dibicarakan bahkan untuk dikenang jika berada di luar Bandung.
Dan saya ada di Banjaran, jika melihat dari jalanan Raya Banjaran ke utara akan terlihat jelas sebutan gunung Tangkupan Parahu, sangat jelas sekali jika Bandung cerahnya bukan main, sangat jelas jika itu seperti perahu yang terguling.
Banjaran sedari dulu adalah tempat bermain saya, tempat yang dulu saya kunjungi ketika saya SD, saya sudah menjelajah lebih kurang radius dua kilo meter dari rumah saya, sehingga kadang kala  ketika magrib saya pulang sering kali dimarahi, jarambah orang Banjaran menyebutnya. Dan itu saya sangat nikmati sendirian sedari dua SD.
Setelah saya sekolah pesantren ibtidaiyah di Pajagalan Banjaran saya mulai menjelajah lebih jauh, hampir setiap gang di Banjaran, dari mulai yang buntu hingga yang menjadi terusan saya pernah lewati, hanya untuk tahu saja, sekedar ingin tahu jalan saya kira tak masalah, hingga pernah satu ketika saya berjalan-jalan sehabis magrib sepulang dari ibtidaiyah saya kena palak preman setempat, saya bilang, “Klo adamah saya kasih, tapi ini buat ongkos pulang saya,” mereka bilang saya bohong, dan memaksa memberikan uang terakhir di saku, dan berakhir pulang dengan jalan kaki 1,2 kilo meter dari banjaran hingga depan rumah saya.
Kejadian seperti itu saya sangat ingat, hingga penasaran saya hitung lewat kilometeran di motor saya, hingga saya hitung-hitung, tepat satu kilometer jarak dari depan rumah saya hingga jalan raya banjaran, 16.3 km dari depan rumah saya hingga jembatan Dayeuh Kolot, dan 32.1 km jarak yang saya habiskan untuk saya hingga parkiran SMUN 22.
Saya sempat ingin kuliah di jurusan geografi, namun melihat saya yang suka akan sejarah saya ingin tidak kuliah dulu, sehingga begitu pun akhirnya saya tahu bisnis itu lumayan indah, karena masakan paling enak itu ketika hasilnya dari keringat sendiri.
Hingga kini saya tetap seperti saya dahulu, suka musik dengan semua variabelnya, bahkan saya dulu pernah mengira kalau adzan itu musik yang paling indah yang pernah dilantunkan seorang mantan budak dari di Arab sana, hingga kini penampilan saya tetap saja seperti itu, penyuka warna hitam, dan tetap saja pikiran saya berlari kencang ketika saya diam, demikian sebuah kebiasaan untuk terus berpikir tentang hal lain di kala diam, saya pikir itu lebih bermanfaat. Masih tetap suka bercanda, masih tetap memegang ucapan seperti seorang lelaki umumnya, masih tetap rindu bau tanah di gunung yang tinggi, masih yang dulu seperti semua orang kenal saya.
Hingga kini rumah sementara saya tetap di sini, ya di banjaran ini, dan entah kapan saya punya rumah lain, rumah yang kelak saya tempati dengan seseorang yang mungkin menjadi jodoh saya.
Hingga kini saya ingin punya anggapan semua tempat adalah tempat pulang, ya menjadi rumah, akan tetapi pikiran itu saya rubah, karena tempat tinggal itu harus tetap, karena pulang itu harus ada tujuannya, seperti hidup ini sepertinya, kesannya mudah sekali lewat lima huruf itu semua menjadi lebih indah, H I D U P semua orang mengejanya demikian, lima huruf yang semua orang inginkan untuk waktu yang dibatasi ketika Ijroil datang menjemput pulang.

*Diketik sembari senggang, menari tiga pagi, dan sealbum Black Light Shine On KOIL.

Minggu, 20 Januari 2013

Buat Nita

Sabtu ini bukan sabtu yang biasa bagi Nita, seorang dara asal Majalengka, ia akan dinikahi oleh pacarnya sedari kuliah mula.

Dan saya kenal Nita dari kelas, ia sangat pintar untuk ukuran mahasiswi di kelasnya, sangat mencari aman, dan tidak terlalu suka dengan resiko dan berbeda dengan saya yang kadang kala sangat penasaran dengan resiko yang kadang kala membuat saya lebih terpacu meskipun itu kadang jadi omong kosong untuk mereka, dan pengalaman yang berate untuk saya.

Awal saya kenal dengan Nita itu karena ternyata di kelas kami itu ada yang pahamnya Persis sama seperti saya, walaupun pada akhirnya saya sedikit menyimpang dari pemikiran mereka. Adalah Iqbal, Nita, Lina dan Hana mereka mempunyai dasar pendidikan yang tak jauh dari saya, dengan kurikulum yang hampir sama pula.

Tak banyak cerita di kelas yang saya bisa ingat dan tulis untuk Nita, yang saya tahu nama lengkapnya Nita Setiyani, dan ia adalah orang yang sering buat Iva pacarnya Iqbal sangat cemburu ketika kami mengobrol dan ada Nita diantaranya, mungkin Iqbal sangat suka yang jilbaber gitu, Nita kan kerudungnya lebar-lebar.

Saya ingat, Nita ikut serta ketika acara kumpul-kumpul di rumah Heppy, dan jikalau kau tahu, acara itu sepertinya lebih asyik dikenang dari banyaknya acara yang saya ikuti, kami jadi tahu bagaimana kata teman itu hadir diantara kami, hingga kini pun saya anggap demikian.

Maaf sekali untuk Nita karena saya datang terlambat, ada bisnis yang saya harus bereskan dulu, hingga saya harus bergegas untuk pulangnya juga, saya kira teman-teman ingin datang juga, namun mereka berhalangan dengan kesibukannya, banyak pesan yang saya terima dan harapan kami sama, semoga yang terbaik hadir untukmu.

Jika saja banyak yang ingin kamu jadi istri yang shalehah untuk suaminya, saya yakin, saya dan teman-teman harapkan yang lebih dari mereka.

Jika saja banyak yang inginkan kamu dapatkan hal yang terbaik untuk hidupmu, saya yakin, saya dan teman-teman inginkan yang paling terbaik untukmu.

Jika banyak yang menyadari hidup sendiri itu tidak membuat genap sebuah hitungan, saya harap mereka benar, karena kamu telah menggenapi hitungan panjang untukmu dan Rifa suamimu, dan mungkin hitungan itu akan tambah biner dengan datangnya jumlah lain dari perjalanan hidupmu kelak.

Entah mengapa, saya selalu anggap sakral sebuah pernikahan, sebuah kata yang kerap membuat seorang lelaki sebagaimana kuatpun tetap akan membuatnya gemetar untuk sebuah kata yang akan selalu diingatnya, dan entah mengapa ada hal lain dari yang saya anggap itu sangat berbeda dengan acara seremonial lainnya.

Bukan ritus social, bukan sebuah penghambaan mutlak untuk sebuah kebiasaan, bukan hanya penjalin silaturahmi dua insan, namun lebih dari itu, dua keluarga, bahkan variable lebih biner dari itu bisa dijumlahkan dengan hitungan yang tak bisa diukur dengan konstanta manusia manapun.

Hari minggu pagi ini saya tulis catatan yang mungkin tak berarti, tapi inilah kado lain yang saya bisa tuliskan untuk teman saya Nita Setiyani.



*diketik dengan teman The Tress And The Wild dan senang hati

Setahu, Catatn untuk hari ini saja

rasanya setahun cukup untuk tahunya betapa indahnya kasih sayang
seperti tak sengajanya matahari menghangatkan bumi,
hingga air lautpun menguap
seperti tak sengajanya rasa penasaran yang kadang kala datang
dan anehnya hampir tiap hari

rasanya setahun yang lalu itu baru kemarin saja,
seperti baru saja saya isi bensin dan memulai mengendari motor di pagi hari
hingga akhirnya saya pulang dan berhenti
seperti hanya sekedar ingin tahu saja rasa pedas
dan entah mengapa itu selalu berulang

rasanya setahun itu terlalu cepat untuk tahu bagaimana kata biasa dimaknai semua orang
seperti mereka katakan kami itu teman
hingga kadang saya tak bisa bedakan apakah itu terkasih atau bukan
sepertinya baru saja kurasakan masa depan
dan entah mengapa selalu tetap saja berada di hari ini

rasanya setahun itu sudah cukup untuk segera menyerah
menutup percakapan dengan semoga harimu indah saja
saya harus habiskan bensin yang saya isi tadi pagi


*diketik dengan senang hati

Papandayan, Catatan Si Doy

Minggu, seperti biasa orang-orang mengartikannya sebagai hari, bahkan sebagai haripun ia dianggap menjadi jumlah dari 7 hari yang membangun empat jumlah lainnya dalam bulan, ya hari ini hari minggu, sebiasa orang mengartikannya sebagai hari minggu di akhir bulan Desember, dan itu adalah hari minggu terakhir dalam tahun ini, masehi tentunya.

Adalah saya yang akan menaiki gunung Papandayan bersama teman-teman yang saya kenal sebelumnya dan tentunya bersama kawan baru yang saya akan kenal setelahnya.

Pagi ini saya buat tas kuning dengan warna hitam dan abu sebagai padaannya, entah kenapa saya sangat suka abu dan hitam, atau mungkin juga karena adanya bahan-bahan untuk tas ya seperti tersebut tadi. Dan akhirnya tas telah siap.

Tas itu rencananya akan diujicobakan oleh Dian teman saya, tepatnya Dian Mardiana jika menilik nama di phonebook saya.

Sore itu telah saya sampaikan pesanan Azis Muttaqien, seorang teman dari jaringan pers yang saya kenal dulu, ia membuat sebuah tas sebagai ciri sebuah tempat, MKAA itulah sejenis museum yang sering orang pakai untuk mengawetkan sejarahnya dengan lebih elegan.

Dari Pungkur saya melaju ke parakan saat, dimana saya akan memulai perjalan bersama.

Di depan jalan terlihat banyak orang membawa tas yang besar-besar, sepertinya mereka adalah calon teman saya nanti mendaki.

Adalah, Widia seorang mahasiswi ilmu hukum, Prem atau Annisa yang seorang mahasiswa tingkat atas sekali dari Widyatama, Fiersa seorang yang mengambil sastra untuk mengisi hidupnya,  temannya Teh Uci yang dari Bogor, Zul seorang akuntan dari Widyatama dan teman wanitanya, Nadia gitu klo tak salah hafal, jikapun salah saya ingat ia itu empunya beasiswa di Widyatama, Dian dan Wildan pun sudah ada di depan rumahnya.

Dan kami menunggu untuk beberapa saat dua teman kami belum datang, Azie dengan Aldy yang kerap disayangi dengan Adoy.

Kami naik angkot hijau dengan jurusan Cibiru, sepertinya kurang pas untuk identitas, karena penamaan dengan warna kendaraan bersilang lain dari nama jurusannya, tapi itu adalah lumrah, karena tak mungkin jurusan Cimahi itu pengisinya mempunyai ukuran baju m semua, Mahi lah.

Di simpang bundaran kami menunggu Faisal, seorang adventurer dengan hobi yang berbeda dari kaum muda lainnya memelihara burung, maksudnya burung hidup dalam sangkar bukan burung yang selalu dikoarkan dalam On Clinic ataupun toko obat kuat disampng jalanan di Bandung raya, mungkin Faisal sudah punya jika itu mah.

Adapun hal lainnya dari faisal, saya jadi tahu, eh maksudnya mengetahui, jika trangia itu hanya barang biasa aja, dan bukan sesembahan ketika mendaki, dengan anggapan keren jika punya trangia dan bisa bmendaki gunung, ternyata alat buatan faisal lebih keren jika dibandingkan trangia, meskipun kereknya itu Luis Vuitton, keren kan?

ia mengadu soalnnya hobinya dalam memelihara burung terkesan suram, ya memang begitu sih kesannya, tapi saya yakin ia itu orang keren yang sengaja UPI pilih untuk jadi mahasiswanya.

Kami nego dengan supir sudah lumayan lama, dan begitupun hasilnya lama rupanya, dan ketika Husni menelepon kami, kami sedang nego harga untuk perjalanan kami menuju area pesantren Rancabango.

Guntur akhirnya kami jambangi juga, mas Andi dari Jakarta akan ikut kami mendaki gunung Papandayan esok harinya, rupanya waktunya pas. Ia turun dari bus dan ikut elf kami menuju Rancabango.

Rumah Husni menjadi tempat singgah yang membuat kami bersyukur mempunyai teman, teman yang dengan relanya membantu, terima kasih yang sangat besar untuk Husni Muttaqien saya tuliskan, dan mungkin teman-teman lainnya pun demikian.

Husni tengah sakit gigi rupanya, moodnya untuk mengobrol sepertinya tak baik malam itu, dan kami mengobrol dengan ramai saja, hingga tak tahu jika malam akan segera berganti waktu, namun kenapa Widia mandi malam-malam, sepertinya perubahan suhu kotanya membuatnya gerah dengan sangat cepat.

Pagi harinya kami telah sarapan, dan telah siap untuk mendaki, gunung Guntur terlihat indah namun papandayan berkabut, saya dan husni pergi mencarter angkot pagi ini, teman-teman telah siap untuk harinya.

Ternyata angkot telah dibayar oleh Uni dan kami harus berterimakasih untuk bantuannya lagi, dan kami jelang Papandayan.

Hingga cisurupan kami naik mobil colt bunting, dengan duduk saja, semua orang sepertinya menikmati perjalanan ini, hari ini tampaknya cerah, namun itu berbeda dengan 30 menit setelahnya, kabut mulai turun, hujan rintik mulai temani kami dalam jalan berpasir dan batuan yang khas dengan bau belerang.

Sepertinya jika memilih antara naik gunung ketika musim hujan dan musim panas, saya akan memilih musim panas saja, karena dingin lebih menguras tenaga dibandingkan panas hari karena haus.

Di Lawang Angin pun demikian, celana sudah basah, negitupun kaos yang saya pakai, poncopun telah tembus air, dan kantuk karena lelah mulai datang dan sore akan segera kami jelang.

Di Pondok Saladah, kami bisa lihat yang mereka katakana Dead Forest, atau mungkin karena banyaknya tanaman yang mati di sana, dari saya berdiri terlihat banyak eidelweis yang tengah menguncup, jika hari panas mungkin akan segera mekar lagi.

Beberapa yang saya catat sebagai kesalah jika mendaki, sebaiknya membawa bahan yang tahan air dengan sangat banyak karena air itu sangat baik, hingga nanti akan menyerap dengan baik pula.

Buatlah tenda dengan baik, karena sayapun merasakan demikian, mungkin tenda yang saya buat itu kurang efektif sehingga tak ccocok untuk saya buat, sepertinya penasaran saya sudah cukup untuk tenda, saya sebaiknya buat jaket saja.

Jangan jorok seperti menyimpan celana dalam sembarangan dalam tenda yang banyak orangnya, mungkin untuk itu Aldy sangat memberikan pengalaman yang berharga. Catatan ci doy bukan?

Jangan lupa dan panic, sepertinya itu juga yang membuat tas dan semua isinya basah karena panik dan lupa oleh hujan besar yang mendadak menyambangi kami, atau ketika minuman rasa spirtus hinggap di bibir dan menyembur lagi, catatan si Doy lagi kah?

Dan dingin itu perlu dinikmati, seperti dinginnya air yang kami rasakan untuk malam yang membuat kami lebih dekat. Seperti hurup T dalam kata teman.

#diketik sembari senggang

bermain ke garut, lagi


sengaja saya tulis judulnya demikian, soalnya begitulah adanya dan saya sekarang tumben ada di cibiru, barusan saya sms orang sini, namun belum ada blasannya, entah masih tidur atau entah tenggan saja, dan begitulah adanya

hari ini teman say akan dinikhi oleh teman saya lainnya, dan entah saya kapan akan menikahi teman saya, dan teman saya yang akan menikah itu namanya imas jamaliah, dulu saya sekelas dengan, ia yang lulus dan saya yang tidak, tragis memang, tapi tidak bagi saya karena ternyata saya mendapat lebih banyak hikmah sepertinya, tak apalah, jua, nanti saya akan kuliah lagi.

Dan saya sedang menunggu teman saya, dinda namanya, entahlah mengapa wanita suka lama jika bersiap-siap, eh emang ia wanita gitu? ya ialah ia kan pake kerudung , lelaki mana yang sanggup pake kerudung? dan saya bisa pastikan dinda juga seorang wanita, karena dulu saya sangat suka padanya, dan kami punya rencana akan melihat imas dinikahi oleh temannya, yang sebentar lagi akan menemaninya selama ia menjadi istrinya.

imas itu teman saya yang punya banyak sekali talenta, buktinya selain ia siswa dari smea ternyata ia bisa akuntansi, dan ia masuk jurusan manajemen keuangan syariah, dan lebih mencengangkan lagi ia tidak langsung bekerja di bank atau lembaga keuangan lainnya, ia memilih untuk kerja di apotek dengan beragam obat dan sebagainya, dan sekarang ia akan menikah.

imas itu dulu aktif di teater, dan saya dulu pernah diantarnya ke basecampnya dan ternyata keren sekali, jauh sekali dari teater saya yang saya tahu, eh saya ketahui, klo saya tahu pastilah saya terbuat dari kedelai, saya kan hasil bersenang-senang kedua orang tua saya.

dan imas sepertinya akan seperti orang tua saya, bersama a dodoy ia akan bersenang-senang, ya sebagai keluarga yang keren tentunya, soalnya entah mengapa teman yang saya semua atau yang menjadi teman saya itu pasti jadi orang keren, ya minimal dalam pandangan saya.

dan ternyata tulisan ini harus dipending dulu karena saya sudah dapat panggilan dari dinda, "hayu," ujarnya.

*dengan editan tulisan ini saya hentikan, dan semoga hari ini lancar sentosa.

Kamis, 20 Desember 2012

Mencari Ratu di ladang manusia


Adalah saya yang baru saja pulang bermotor ria di pagi hari, dan mendapatkan nomor handphone yang baru, diberikan oleh Hamdan, karena ia ingin mempunyai kupluk seperti yang saya pakai, dan itu setelah saya pakai beberapa kali, dengan ikhlas ia memberikan saya pulsa sebesar sepuluh ribu setelah ia saya berikan uang sebesar sebelas ribu juga dengan ikhlas juga ia memperbolehkan saya pulang karena saya ada urusan di rumah saya, seorang teman yang dulu pesan jaket ingin ke rumah dengan temannya yang sebenarnya adalah tetangga saya.
Dan saya sedang mendengarkan puisi Sapardi dengan petikan gitar di antaranya, Ku Ingin judulnya. Sepertinya ungkapan aneh yang atas nafsu nya api membakar kayu sehingga aku ingin itu seolah ketiadaan saja dan bersisa abu, seperti kasih tuhan yang memberikan nikmatnya dan dibalasnya oleh manusia dengan dosa dan memberikan neraka untuk hasilnya, seperti hukum akumulasi saja, semuanya itu akumulatif, seperti apa yang kau inginkan begitu pun hasilnya seperti yang kau jumlahkan.
Rabu yang hangat telah mengantarkan saya untuk berada di Cibiru, dan menemui teman saya Miftahul Khoer, ia kerap dipanggil Miko, seperti nama Jepang tapi tidak untuk perawakannya ia khas orang Indonesia, sekarang ia lebih gempal dari pertama kali saya bertemu dan itu lima tahun lalu ketika saya pertama kali menemuinya di Suaka.
Di Suaka juga saya membuat janji dengan beliau, ia telah membuat situs yang keren, seperti dahulu juga yang seperti yang ia inginkan noiseyouth.com namanya, jika saya ingat itu nama asal bandnya terdahulu dan akun twitternya pun namanya demikian.
Saya inginnya membantu dalam menulis namun sepertinya kesibukan saya dalam membuat beberapa barang harus membuat saya berpikir lain untuk membantunya, sehingga dalam chattingnya saya akan membuatkannya merchandise dengan keuntungan yang didapat sebesar 20 persen untuk tiap barangnya.
Begitu pun Bayu saya temukan ia di Suaka, ia sedang berkecimpung di museum, mungkin ia ingin mengawetkan sejarahnya dengan lebih elegan dan ikut serta dalam pembuatan merchandisenya dan saya inginnya membantunya jika hal tersebut disetujui oleh forum yang ada di museum tersebut dan saya inginnya bisnis saja.
Dan begitu pun Fajar Fauzan menawari saya proposal untuk program sekolah terintegrasi dan ketika saya tawarkan untuk Husni Muttaqien ia sepertinya tertarik semoga saja bisa memberikan kebaikan.
Dan adalah hari Rabu itu saya punya janji dengan seorang gadis asal Cibiru, saya tahu ia namanya Ratu, saya panggil ia Atu, ia mengaku dipanggil Dede di keluarganya dan saya minta antar ia untuk membeli buff saya yang hilang di Suaka.
Sepertinya UAS membuat ia lupa untuk temani saya namun ia akhirnya ikut juga ke Jatinangor, dan lebih parahnya lagi saya tak tahu apakah buff ada di sana atau tidak.
Sepertinya tidak itu jawaban yang saya dapat soalnya tertulis Rei bukan Eiger dan begitu pun setelahnya hanya berjalan-jalan saja menuju bioskop 21 dan ini kedua kalinya menonton bareng, ia lebih cantik sore itu dan filmnya yang lama sempat membuat mengantuk, tapi The Hobbit itu lumayan presequel yang keren.
Dan pulangnya pun demikian, berangkot-angkot pulang dengan hujan kecil yang reda setelah sampai di Cibiru.
Hari ini adik saya diwisuda dengan predikat terbaik di fakultasnya, dan saya belum juga, sehingga UPI saya jelang dan banyak orang di sana, sepertinya saya melihat Ratu di sana, tapi benar gitu? itu mungkin perasaan saya saja seperti mencari Ratu di ladang manusia saja, soalnya ia sedang UAS sepertinya.


*diketik dengan senang hati

Kamis, 06 Desember 2012

Sebelum ke rumah jahit

Sekarang itu hari Kamis, Kamis di bulan Desember, ya Desember di tahun ke 12 di milenium kedua, dan sekarang sudah pagi, kurang lebih jam delapan kurang beberapa menit, dan saya masih mendengarkan lagu saja, sepertinya banyak agenda bulan ini, seperti halnya target bulan ini adalah beberapa tas, dan beberapa tenda, entah mengapa saya sangat penasaran ingin sekali buat tenda buatan saya, buatan saya yang bisa saya tes ketika nanti akan kudaki Burangrang akhir tahun ini.
Itu sih rencananya, tapi sangat ingin sekali, barang kali jika aku catat keinginan ku aku bisa mencapainya secepatnya karena bisa aku ingat kembali, meskipun papan tulis putih di kamar sebesar dinding telah saya catat, kadang kala saya jarang masuk kamar, soalnya kegiatan menjahit dan sebagainya tidak dilakukan di kamar tidur.
Kamar saya seperti gudang saja, banyak alat-alat jahit dan barang yang sudah jadi, semisal tas, hammuck, sleeping bag, dan alat-alat penyerta dalam pembuatan barang yang saya suka, entah berapa jika dikalkulasikan mungkin bisa membayar hutang saya pada teman saya, namun semua belum menjadi uang, dan kadang kala saya merasa jadi tak menentu jika ingat hal itu, namun apakah mereka yang punya hutang pada saya seperti itu juga.
Dan baru saja saya lihat layar hp saya, pengingat bahwa orderan yang lalu segera saya antarkan, tapi sms saya untuk seorang di sana belum juga ada balasannya,mungkin itu tak ada gunanya jika hanya ucapan have a nice day.
Seperti kata seseorang di speaker, hujan yang menghilangkan awan, menghilangkan air dengan basah, menghilangkan panas dengan debu, dan menghilangkan katalisnya hingga induksi itu sempurna, sepertinya saya memaknai kasih sayang itu demikian.
Dan baru saja drown dari The Smashing Pumpkins baru beres dinyanyikan, dan sepertinya saya harus bereskan mengetik, karena ada beberapa kaos yang saya harus bereskan untuk pagi ini, hingga siang menjelang sore.


#diketik sembari senggang