Kamis, 02 Mei 2013

Catatan, Mei tahun Ini

Senangnya bisa menulis malam lagi terutama ada Explosions In The Sky memperdengarkan The Only Moment We Were Alone, ya malam ini malam kedua di bulan Mei, entah mengapa bulan ini sangat berkesan untuk saya, ya saya sendiri saja, saya yang tahu kesannya seperti apa dan mungkin kesan yang lain untuk orang lain. Entahlah.

Jika di luar negeri sana mungkin tanggal pertama dan  kedua itu menjadi libur nasional mereka dan selanjutnya arak-arakan damai akan terjadi di hari buruh itu, memperingati kejadian yang lampau di Haymart dulu dan hingga sekarang pun di Indonesia terjadi demikian, namun beda orang dan sistem yang hampir sama.tragis memang, tapi saya kira jika tetap pada teori kelasa kan sama saja dengan mempertahankan jarak, sehingga massifitas lasannya, usaha yang lebih mikro saya kira jawabannya atas masalah perburuhan.

Hari buruh sebagian orang menamakannya namun bagi saya itu adalah hari yang saya tunggu, sejak sepuluh Maret lalu saya ingin tak menulis status facebook ataupun twitter, ya itu sebagian dari beberapa kegiatan saya mengisi waktu luang, sebagian lagi ya berinteraksi di dunia nyata tentunya, dengan sebaik-baiknya kenyataan yang membuat saya tetap bersyukur masih bisa menikmatinya, entah kenapa hari itu saya ingin berikrar seperti itu, namun itu usaha saya untuk menghormati saya sendiri. Narcissus? Bukan tentunya, kalau itu sebuah cerita Yunani sana yang dibawa ulang oleh Sigmund dalam penggambaran fenomena Ujub.

Sedari April lalu, saya inginnya satu Mei itu main ke Taman Kupu-Kupu, saya ingin mengingat kembali jika untuk menjadi secantik kupu-kupu itu bukan dengan waktu yang dekat, bukan sebuah kata sihir yang membuat seolah kedipan mata dan seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu. Ya hanya menikmati keingintahuannya saja, inginnya begitu saja.

Ulat, sebuah serangga yang kerap kali dianggap menjadi hama, bahkan sebuah ancaman, padahal jika melihat ukurannya yang kecil saya kira itu bukan sebuah ancaman. “Pa Aki, naha teu dipaehan eta hileudna?” tanya saya dulu pada almarhum kakek saya, “Teu kudu,” ujarnya santai, “Naha?” tanya saya lagi, “Yeuh hileud mah jang parab manuk, lain tempatnya jelema mah maehan hileud,” ujarnya lagi.

Jika tak salah percakapannya demikian, saya juga lupa-lupa ingat, soalnya kenangan manis bersama beliau sangat berkesan dengan kata-katanya yang santai, hampir percakapan kami terjadi itu di sawah atau di kebun yang ia garap.

Dulu jika libur saya sering sekali disuruh mengantar bekal untuk kakek di sawah, di sana sudah ada Ema, panggilan sayang saya untuk nenek saya, dan Pa Aki, tentunya dengan para petani yang bekerja untuk mereka. Di saung biasa kami membuka makanan yang telah saya bawa bersama kakak sepupu saya A Hanhan atau A Elfa ataupun bersama Almarhum Wa Dedeh, sungguh menyenangkan disaat mereka menggarap sawah, yang anak-anak biasanya mandi di sungai samping sawah, sangat menyenangkan sekali untuk mengingatnya.

Memang semua hal sebaiknya ada pada tempatnya, begitu pun dengan ulat, seharusnya ada di dahan dan menjadi makanan burung, namun ekosistem alam telah berubah sekarang burung tempatnya bukan di pohon namun di sangkar, dan kupu-kupu ada di penangkaran. Manusia telah bermain tuhan sepertinya. Entah apa yang mereka pikirkan ketika menyimpan kehidupan dalam sangkar dan memberikan opsi lain dari kehidupan burung tersebut.

Taman Kupu-Kupu, ya biasanya saya panggil demikian, karena terteranya pun demikian. Sebuah area penangkaran yang ingin saya sambangi awal Mei ini di Cimahi sana, namun sepertinya harus saya pending, tak ada teman bisa menemani saya, bahkan harapan terakhir saya pun begitu. Saya dapat kabarnya setelah 8 jam menanti, di parkiran sekolah saya dengar kabarnya. Alasannya ia bingung harus memberi kabar ke mana, “HPnya mati,” ujarnya tapi entahlah saya pun tak tahu harus berkata apa untuknya, ketika hari makin siang saja dan hujan akan segera datang saya sudah menyerah untuk menikmati hari yang saya liburkan sendiri disela-sela orderan yang datang terus-menerus. Kurang manfaatnya jika hanya berpikir rencana hari ini gagal, toh mungkin hari esok masih datang.

mungkin bukan kesempatan saya menikmati keingin tahuan saya atasa serangga dengan kamu. atau mungkin harus sendirian saja seperti kebiasaan saya bermain kemanapun sendirian. toh mati pun sendirian, bukankah itu yang paling dekat dengan saya sadar tak sadar.

Sepertinya beberapa awal Mei bukan hari yang indah untuk saya kenang, ya itu mungkin saja, namun disaat semuanya serasa penat, buku seolah menjadi jalan yang indah untuk ditelusuri, sebuah buku cantik dari Anggun Pramudya, terima kasih banyak untuk ilmunya Hermawan Kartajaya, untuk beberapa kali pun sepertinya saya tak bosan dengan sampel kepemimpinan yang ada di bukunya, sembari menunggu seharian ini juga masih berkutat untuk hal demikian.

Cibiru saya tahunya demikian, ya hari ini akan diadakan nonton bareng film Dibalik Frequensi, namun sayang mbak Luviananya tak hadir untuk memberitahukan lebih jelas keganasan media saat ini. Sedari Jum’at lalu saya tahu acara ini akan berlangsung, namun saya lebih tertarik dengan Stand Up dari Aad teman saya, ia orang Indramayu, sebuah daerah yang saya belum jelang, mungkin nanti jika santai. Tapi sebelumnya ingin main ke Bayah di Banten sana, ingin tahu tempat belajarnya Tan Malaka, dan indahnya pasir Sawarna.

Namun saya tak dapati perform Aad sore itu, salah saya kenapa harus membeli makanan terlebih dahulu dan sebelum hujan semakin membuat jok motor saya basah, sepertinya saya harus segera ke Buah Batu, ada teman menunggu di sana.

Dan hujan makin ramai saja, bagi saya hujan itu rintik air yang banyak menghalangi pandangan saya untuk melihat kamu lebih jelas, dan ketika hujan reda nyanyian Semoga Ku Sembuh Part II menjadi soundtrack perjalanan bermotor untuk saya sendiri saja.

Dan jarak makin jauh saja, bagi saya jarak hanya beberapa langkah yang saya harus lalui untuk bertemu kamu, dan ketika saya sampai kamu telah pergi lagi, dan saya ingat puisinya Kuhentikan Hujan, sembari ingatkan saya untuk kembali mengunyah permen karet.

Jalan makin basah saja, hingga jaket yang basah perlahan kering, dan lapar mengantar saya untuk beristirahat pulang.


*diketik sembari senggang

Rabu, 01 Mei 2013

Terima kasih


“I think it possibly may be i falling for you..” Landon Pigg

Itu liriknya yang baru saja dinyanyikan di speaker Altec lama, suaranya hampirmasih sama, ya lagu ‘jatuh’ bagus menurut saya, jika mendengarnya saya ingat KingOf Convenience, dan Fumblenya Architecture In Helsinki, petikan gitar yangbagus sekali.

Semalam gerhana Matahari, dimulai dari 3an, ternyata sangatsebentar, ya tak mungkin juga gerhana itu berhari-hari , jika gerhana yangsinetron di RCTI dulu itu mungkin lebih lama dari beberapa hari, jadi ingat Gerhanasekedip lalu kemudian beberapa orang terpental dan ada Genta, seorang anak yangpunya kemampuan sama, yang jadi takut adalah jika mereka yang punya kekuatankedipan sedahsyat itu kelilipan dan itu sangat membahayakan banyak orang disekelilingnya. Kadang kala cerita fiksi jika dibawa ke kenyataan hanya akanjadi pertanyaan besar saja. Terus jika ada orang yang cita-citanya jadiGerhana, pas ia kedip-kedip paling orang sekitarnya bilang, “Ari kamu cageur?”

Gerhana dalam Islam punya kedudukan yang sangat istimewa, dalamwaktu yang pendek itu disuruh untuk solat, ya dengan empat takbir dengan empat Al-Fatihahdan empat surat, dua ruku dan empat sujud, dengan diakhiri ceramah semuanyasatu paket dalam waktu yang pendek itu, ya dalam  waktu yang pendek itu saja. Gerhana.
Dalam Gerhana biasanya orang-orang mulai melihat ke atas, yabulan purnama yang indah itu, dan kerlip bintang hanya beberapa di sampingnya,ya hanya beberapa saja terlihat di Ciapus ini, Halo tak terlihat jelas namunbulan malam tadi sangat indah, saya tak lihat gerhananya seperti apa, jujursaja saya takut melihat fenomena seperti itu secara langsung, takutnya jikadengan kehendakNya memperpanjang proses gerhana jadi berbulan-bulan, dansepertinya siang akan sangat dirindukan, shalat Dhuha akan sangat diingat,begitu pun hitungan waktu akan serba salah, karena hari menjadi gelap.

Jadi ingat dengan alam dan lingkungan, sepertinya duluanggapan anomali itu jarang sekali ada, dan itu siklusnya masih bisa diprediksikan,namun sepertinya anomali menjadi wajah dari cuaca sekarang ini, ya dengan hujanyang kerap kali menyapa mesra tiap hari, bahkan untuk pelataran rumah jait punjika hujan datang genangan akan terjadi secara alamiah, begitu pun denganpenampakan dari lapang voli di selatan rumah saya yang dulu, seperti genangansaja, dan parahnya itu sebesar lapangan voli dan beberapa tempat dudukpenonton, entah mengapa saya sewaktu dulu, untuk melihat pemandangan sepertihanya jika hujan sangat besar saja, dan kesibukan lainnya sewaktu hujan besarberhenti ialah mencari jamur yang banyak tumbuh setelah hujan reda, dansekarang hampir tak mungkin, jarang sekali saya dapati hal itu, nampaknyakesuburan bukan lagi milik tanah, tapi milik seorang eyang yang gagap mengucapkanAl Fatihah di layar TV.

Dulu sewaktu SD jika hujan datang lapangan bola yang menjadibanyak tujuan orang, sungguh menyenangkan bermain bola, meskipun make upnya itu lumpur, dan aturannyahanya satu. Bersenang-senang.
Meskipun kadang sakit demam karena bermain bola sebelummakan itu ternyata membuat sakit, dan entah beberapa kali itu terjadi, tetapsaja aturan senang-senang menjadi tujuannya, maklum saja anak-anak tahunyahanya permainan, bukan seperti orang tua yang tahunya hanya penghidupan.

Hujan kini menjadi wajah lain di sekitarku, sepertinya rasatakut menjadi bagian di dalamnya, takut rumah saudara di daerah Kamasan terendam,takut luapannya akan merendam rumah teman di Cirengit dan Sayangsari, dan takutakumulasinya akan merendam Bandung, dimulai dari Bale Endah dan Dayeuh Kolot.

Hujan, seperti semua orang mengejanya, dari lima huruf yangsering beberapa penyair katakan sebagai metafora romantisme, ataupun sebuahejaan tentang kesederhanaan kasih sayang, Sapardi juga menuliskannya demikian,namun kadang kala perumpamaan tidak semuanya bisa menjadi hal-hal indah saja.Kadang unsur ketakutan akan lebih dominan untuk alam yang anomali.

Sepertinya air akan tampak menjadi berkah jika padatempanya, ingat perkataan Erik senior saya dulu di Suaka, “Yeuh, mun aya cai ngeclak, tapi butuhnya sagelaseun, tandean we! Tapikudu sabar,” ujarnya ketika saya mengeluh kenapa tulisan saya lebih jelekdari teman-teman yang lain. Namun pada kenyataan sekarang segelas air yangdiperlukan tapi yang datang bukan air dengan tetesan namun dengan galonan.

Sepertinya perlu adaptasi yang baik untuk alam yang semakinganas ini, sekarang bukan di gunung saja yang alamnya ganas, namun di desa dan kotapun alam demikian.

Dari semua keluhan sepertinya hanya akan membuahkanomelan-omelan saja dan lupa bersyukur, sepertinya rasa syukur harus tetap ada,ini hujan hanya beberapa jam, dan bersyukur bukan berbulan-bulan, ini banjirberhari-hari dan bersyukur bukan bertahun-tahun.

Terima kasih, dan terima kasih sepertinya harus menjadikebiasaan dan selanjutnya menjadi budaya bersyukur.

Terima kasih juga untuk teh kotak dari Nirra dan Ratu untuksore yang menyenangkan kemarin.



*diketik dengan senang hati

Mahapralaya

sebutan hancurnya tujuh loka
loka tempat mu dihatiku
seperti itukah?


*banjaran tadi pagi

Minggu, 07 April 2013

Tiga Minggu lagi bulan Mei


Hari ini hujan,  yaitu sedari pagi rintik kecil bertahan cukup lama sedari shubuh tadi. Ya seperti itu terus saja rinainya berhenti ketika mendekati pagi yang makin terang.Sekarang hari ju’mat, sebuah hari raya yang lain dalam kalender Islam.


Esok itu ada wawancara yang diselenggarakan oleh SUAKA. Dan hari ini adalah membawa barang yang saya telah pesan sedari akhir Maret lalu,sekarang sudah hampir habis Minggu pertama di bulan April.


Dua gulung kain sabet yang nanti saya mau bikin hammuck,segulung kecill kain hitam dan beberapa lembar kain yang rencana akan menjadi bagian dari bisnis kecil saya. Ya saya jadi kepikiran terus ingin buat rental alat-alat kemping, meskipun tidak di banjaran tapi saya bisa pastikan itu akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.


Semuanya seperti paralel saja, saya ingin buat rental yang sepetinya lebih menguntungkan dari pada membuat barang dan segera menjualnya.Ya saya sedang mengumpulkan barangnya dahulu, mengumpulkan beberapa sleeping bag dengan matras dan beberapa puluh carrier saya bisa buat sendiri. Dan rencana selanjutnya tenda, sayang saya terlalu cepat untuk membeli bahan, sehingga keputusan pertama jatuh pada pembuatan hammuck. Ya beberapa puluh hammuck tepatnya.


Hammuck ialah sebuah lembaran kain yang mempunyai lubang untuk tali yang selanjutnya menjadi sejenis ayunan yang biasa dipakai tidur di pegunungan, atau lebih tepatnya di pohon, saya tahu hammcuk dari saudara saya a Elfa, ia seorang PA atau pecinta alam dari Jantera, sebuah kelompok pencinta alam dari jurusan geografi UPI.

Ya dari situ saya mulai mengenal peralatan naik gunung, dimulai dari hammuck hingga terus bereksperimen membuat hal lainnya, semisal sleepng bag, matras, hingga gaiter. Hampir semuanya saya kira sudah cukup untuk saya jual. Namun ada beberapa barang yang saya belum kuasai pembuatannya, tenda.


Saya kerap kali gagal membuat tenda. Entahlah, sepertinya semakin besar barang yang dibuat semakin rumit juga pengerjaannya.


Saya kadang kala aneh kenapa saya terus membeli bahan yang kerap kali saya kurang bisa menggarapnya. Hingga beberapa karung saya simpan saja di rumah jahit. Hingga kini barang itu makin banyak saja.


Dan sepertinya saya baru dapat hikmahnya, saya harus segera membuat rental alat-alat kemping. Dan rencananya dimulai mei nanti. Entah darimana uangnya, tapi Mei nanti tetapsaya akan jelang.


Beberapa puluh hammuck sudah siap. Tinggal beberapa puluhbarang lainnya.


*diketik sembari senggang

Sunting di warnet setempat

di warnet setempat saya panggil ia begitu
ya, sebagian jejak rekamnya saja
seperti itu

hanya melihat tulisannya saja
tanpa tahu raut wajahnya seperti apa
seperti itu

entahlah serasa bingung saja
mencari tulisan dan entah pergi kemana maknanya
seperti seseorang sepertimu
seperti tulisan sepertimu
seperti itu saja

hanya membaca saja
seperti itu saja


*indahnya banjaran dikala cerah

Mencari Slamet di 3400an MDPL


Kata yang saya ingat sebelum pusing terus menjalar dan makin menjalar itu ,“God mau bikin judul apa buat tulisan nanti?” kata Wildan, namun saya kurangbisa fokus untuk kata apa yang nanti akan saya rangkai untuk tulisan saya,sebuah catatan saja, sekedar untuk pengingat lupa dan penawar takut kenanganakan dilupakan.

Saya sudah di Cibiru ketika akan berangkat menuju Cicaheum Kamis sore yang dingin,bukan alasan karena jaket saya ada di dalam tas, dan selembar kaos tipis yangsaya pakai waktu itu menjadi penyebabnya, hujan baru saja datang dan udaradingin itu hampir saya kenal seharian ini, bahkan untuk minggu-minggu ke belakangpun demikian, Bandung sedang musim hujan saat ini, namun dinginnya tak sedinginangin yang menerpa mereka di Dayeuh Kolot yang sedang kebanjiran air hujan duahari lalu, mungkin tanah sedang tak senang dengan air yang datang sering kalimenghujaninya, tanah menjadi lebih keras dibanding semen pabrik setempat.

Angkot hijau telah saya duduki, sebuah tempat di pojok kiri ketika masuksemua angkot, seorang anak kecil menatap tas saya yang hitam dan kuning berpadumesra di pangkuan saya, Cicaheum saya jelang beberapa menit lagi, ternyata ibukyai haji Annisa Prem Andini belum sampai juga, dan angkot telah sampai,sepertinya tak baik menyebut beliau Prem, takutnya sebutan itu hanya akan jadidoa saja, saya tak sanggup jika keponakannya tahu dan anaknya pun menyebutnyademikian.

Setelah tak lama berselang kami bertemu rombongan yang akan berlanjut kePurbalingga tempat eksekusi perjalanan dimulai. Ternyata di luar dugaan tikethabis dan kami berpencar, saya bersama Wildan yang sedang menyelesaikankuliahnya di Widyatama, Fiersa yang merencanakan mini konsernya di Safe Bistronanti Sabtu, Azie yang nanti senin itu kuliah lagi, dan David yang seninnya ituakan melaksanakan ujian, karena jika tak masuk ia akan mengulang tahun depan,Ari yang menunggu penempatan dari pekerjaannya di bea cukai dan Annisa yangterlatih dalam mendaki beberapa gunung, kami dalam bus yang sama, tertulisAlladin dengan besar namun kami tahu itu hanya pura-pura saja nama aslinya ituperusahaan bus angkutan yang pekerjanya tak baik semua karena membuat dua hargadalam satu transaksi, mereka membayar dengan 45 ribu dan kami dipaksa dengan 50ribu. Sedang Dian dalam rombongan lain, ia telah punya tiketnya.

Perjalanan tak singkat di malam hari karena ternyata menjelang Shubuh kamibaru sampai di Purwokerto, dan dilanjutkan dengan menggunakan sejenis angkutanyang kami sebut Elf, menuju Selaganggeng sebuah tempat di bawah gunung Slametdengan sebuah pertigaan kami jelang ketika cahaya matahari makin terang danBambangan akan segera kami jelang sebentar lagi.

Di terminal Purwokerto kami bertemu dengan rombongannya Dewa, kami sebutdemikian karena yang saya ingat itu orangnya cuma itu saja, saya sempatberkenalan dengan rombongan yang lain, namun karena hafalan saya akan namasingkat, saya tuliskan itu lupa lagi. Maklum, sudah tua dan segera masuk surga.

Menaiki mobil sejenis Carry, ya sebutlah demikian karena saya sebagai orangyang tahunya mesin jahit, saya tak tahu jenis jelasnya mobil tersebut, tak tahujuga kenapa mobil tersebut harus secara sengaja mogok dua kali, tak tahu jugamengapa dari kelompok kami yang turun dan rombongan Dewa tetap di tempatduduknya, saya tak tahu akan terjadi demikian. Sungguh.

Sebelum menuju basekamp, ya saya sebut demikian, karena toh tertulisdemikian dari baligo depan dua rumah yang berderet mesra di hadapan masjid tigatingkat di kaki gunung Slamet. Sepertinya salah tulis, tapi saya maklumidemikian.

Pagi menuju siang makin basah saja di tempat singgah nan menyenangkan itu,tempat yang nyaman dengan makanan yang menggugah selera, karena menu bukanmasalah, yang terpenting adanya makanan saja itu sungguh nikmat.

Pagi makin hilang saja, rombongan lain telah pergi menuju tempat tujuan,sebuah puncak yang terlihat merah dikala cerah dan terjalnya bukan main terjal.Ada yang berangkat sebelum shalat Jum’at berlangsung ada yang setelahnya,sedangkan kami menunggu teman kami Dian, tanpanya kami tidak genap dansepertinya akan tambah satu lagi teman mendaki Dian, kami sebut ia Widya,seorang mahasiswi yang kerap kali merasa dingin ketika di Papandayan, dan ituhampir terjadi lagi di kaki gunung Slamet, mungkin udaranya belum menyesuaikandengan keadaan dirinya.

Kami merencanakan berangkat di waktu malam akan berakhir, mencari suasanaterang lebih baik daripada mencari kegelapan di perjalanan, sebelum Shubuh kamiberjalan bersama ditambah mas Erwin yang kami temui di tempat kami tidur, bulansedang cantik-cantiknya malam itu, Shubuh sempat datang dan berhenti sejenak.Udara yang sejuk, langit yang indah, sungguh mempesona mata.

Ternyata diluardugaan Widya ingin segera menuntaskan perjalanannya kali ini,sebelum pos 3 ia diantar Dian dengan mesra berdua saja menuju pos 1, oh iyasaya tak hafal nama tiap pos, saya enggan menuliskannya, bahkan mencatatnya,kala hujan memang membuat malas datang dengan sering. Jika saja saya hafal mungkinakan saya buat sub judul, ‘Perjalanan Penuh Haru Di Gunung Slamet’ untuk Dian.

Di pos 3 kami menunggu Dian untuk meneruskan perjalanan lagi, hujanmengguyur dengan basahnya dan Ratna datang dengan suara batuk yang khas bagitemannya, entahlah mengapa ia memilih ringtone yang demikian untuk batuknya. Ohiya ia seorang calon dokter di masa depan. Saya kira jika pasiennya akantertawa sebentar jika mendengar suaranya demikian, saran saya Ratna segeramenggunakan provider yang baru untuk ringtone batuknya. Tapi ia sendirian,biasanya ratna bareng Tiara, sebuah nama indah dari pernik lautan sana, tapisaya temukan ia di pos 4 dan Nadia di tengah perjalanan menuju ke sana.

Dian akhirnya datang juga, dan kami segera melanjutkan perjalanan lagi, kamiterpisah cukup jauh, Annisa dan Ari telah lebih dulu di atas sana, dan kamisegera menyusulnya, saat langit makin hitam kami bertemu kembali untuk diamdalam satu tenda, sebuah waktu yang membisikkan kami untuk segera beristirahatsetelah makan, udara makin dingin, dan rencana summit attack dimulai pada jamdua malam akan segera digelar.

Ternyata rencana hanya rencana, summit attack dilakukan pada jam tiga lebihdan kami pun melakukannya, perjalanan summit attack dalam pendakian yang hampirmassal itu memang memberikan pengalaman yang berbeda, terlihat sepertirombongan headlamp dan senter sepanjang jalan, ditambah lagi jalur pendakianyang sangat memberikan kesan untuk gunung tertinggi kedua di pulau Jawa.

Saya, Fiersa dan ari duduk saja di punggung gunung, menunggu ufuk  yang segera datang beberapa menit lagi,Fiersa sudah siap dengan kameranya Ari pun demikian, saya sudah siap denganmomen seperti itu, sudah siap untuk tahu betapa dunia ini indah. Indah sekali.Seperti lukisan dengan garis-garis yang tidak mungkin seorang pun mampumembuatnya, tak seorang pun tahu cara membuatnya.

Sedangkan Dian dan Annisa sudah di puncak sana dengan pakaian yangmembuatnya jadi sarjana. Dan kabarnya David menyerah di pos 8, tapi itubeberapa menit yang lalu, karena beranjak terang David terlihat bersama kawanbarunya dan mas Erwin. David tidak menyerah rupanya.

Berjalan pelan menuju puncak dengan beberapa kejadian semisal paniknyaseorang pendaki yang tidak membawa logistik menuju puncak, terlebih lagi iasendirian, batuan yang terus mendapatkan erosi dan yang membuat saya berpikir,“Aneh kenapa harus terjadi demikian?” ialah rusaknya alam oleh ulah parapendaki yang hanya menikmatinya saja tanpa merawatnya.

Perlahan kabut datang dan menyuruh kami untuk segera turun, dengansebelumnya terima kasih sangat banyak untuk penolong perut kami Diklat lapardatang menjemput untuk segera makan. Dan saya harus berlaku demikian sama untukmereka yang memerlukan bantuan seperti keadaan saya ketika itu sebagai syukur.

Ternyata turun gunung itu lebih cepat dan mengasikkan, ternyata Wildan danAzie bertatap muka di perjalanan pulang menuju tenda, akhirnya mereka naik jugasetelah sebelumnya memutuskan untuk berdiam di tenda, tapi mereka tidak menujupuncak dan melanjutkan turun bersama kami.

Bergegas pulang dengan segera, hanya itu dalam pikiran saya, hujan itumembuat pikiran lebih penat dengan dinginnya dan itu sepertinya terjadi jugapada akhirnya dalam beberapa pos terakhir dan kami meninggalkan gunung Slametdengan kesan yang tidak semua tahu.

Bertujuh diakhiri dengan naik angkutan ke Purwokerto dan segera naik busMandalla yang saya coret dalam pilihan saya lagi ketika akan bepergian denganbus. Dan Annisa menuju kota Sri Hamengkubuwono.

Ada yang hilang dalam perjalanan ini seorang Aldy harus mengerjakan tugasnyadi kantor Mandiri di Cikapayang sana. Dan Faisal juga tak ikut, entah ia sedang apa, mungkin banyak hal diBandung ini yang membuatnya tetap di Bandung.

Dinginnya Slamet mengajarkan pada kami untuk cukup tahu bahwa syukur ituseperti itu adanya. Kami hanya cukup untuk bersyukur bahwa masih ada teman yangmau melakukan perjalanan menuju puncak merah, menuju tempat yang akan kamikenang sebagai tempat kami pernah berjumpa di ketinggian itu.

Kami hanya tahu jika indah itu bersyarat, syaratnya cuma dikenang, sepertikami kenang kami pernah berjalan beriring bersama, seperti beriring huruf T, E,M,   dalam kata TEMAN.

Saya turun di Limbangan, maksud hati ingin main ke Banyuresmi dulu, tapisaya urungkan, ada seorang yang lebih ingin saya temui di Cibiru, seorang yangkerap kali saya kirimi SMS yang mungkin konyol, tapi akhirnya saya urungkanjuga karena pekerjaan di rumah memaksa saya untuk segera pulang.

Untukmu saja, have a nice day!



*diketik dengan senang hati, diiringi Falling In Love at a Coffee Shop –Landon Pigg

Mei kami jelang

Sudah lama ini keyboard tak saya gerayami, ya maksudnya untuk mencatat saja, semisal mencatat kejadian-kejadian yang tak terlalu penting, soalnya klo katanya itu kejadian pasti itu sudah berlalu, jadi tak terlalu penting bukan? Soalnya pasti sudah jadi sejarah, ya sejarah saja, sejarah yang penting jikalau diingat, jadi tak terlalu penting untuk saya, siapa saya sehingga harus diingat.

Sekarang dua album Port Blue sudah masuk ke dalam playlist di Alsong, Port Blue ialah proyek lain dari Adam Young, itu loh yang terkenal sama Owl City, tapi saya suka sekali dengan Port Blue, dari semua lagu yang ada telah dibuatnya, Cuma ada satu kata yang itu bisa dipastikan oleh manusia, sisanya itu harmonisasi instrumen mulai dari gitar, drum, piano hingga sint, mudah sekali diingat, hanya hello!

Sebuah sapaan dari EPnya judulnya Albatross, mungkin lagu ini didedikasikan untuk air dan pantai, hampir semua judulnya berkaitan dengan hal-hal beraroma basah.

Jika dengar lagu In The Yacth kesannya lagunya sedih, tapi entah mengapa lagunya tetap jadi pilihan di minggu ini, meskipun lagunya berdurasi pendek.

Sekarang itu hari Minggu, ya maksud saya hari Minggu biasanya, bukan jumlah tujuh hari dalam empat jumlah dari satu bulan, malam ini Chelsea main dengan MU, ya nanti malam, hampir jam 12 malam, sedang saya tak akan menontonnya, saya harus beristirahat dengan tubuh saya yang masih lemah, maklum saja umur berkata lain dengan fisik, mungkin umur fisik saya ketika saya sedang sakit itu sedang tua renta, atau mungkin lebih buruk dari itu, dan kemungkinan itu bisa berkata lain jika variabelnya lain juga.

Begitu pun dengan cara, beragam cara yang berbeda mungkin juga akan menghasilkan hal yang berbeda pula, seperti dapatkan kamu, beragam cara sempat membuat saya berpikir keras untuk mencari cara selain ucapan semoga mimpimu indah.

Sudah lama saya tak hampiri kamu dengan fisik yang saling berhadapan, tapi siapa saya, saya terlalu takut untuk dapati kamu marah dengan semua kekonyolan saya, ya mungkin marah itu hanya akan jadi sejarah saja, mungkin.

Entah kenapa sedari maret ini saya terngiang Mei, sebuah bulan yang selalu menjadi pikiran saya, masih adakah kesempatan saya dapatkan kamu.

Dan Mei mungkin akan kami jelang dengan senang hati.

#diketik sembari senggang